Jakarta.Opsjurnal.asia - Pengamat politik dan hukum, Muslim Arbi, mengaku mengalami insiden peretasan terhadap akun media sosial pribadinya. Kejadian tersebut berlangsung tak lama setelah ia diundang menjadi narasumber di salah satu stasiun televisi swasta, di mana ia secara rinci mengungkap dugaan praktik korupsi serta sejumlah kejanggalan dalam pengelolaan anggaran di lingkungan Badan Gizi Nasional (BGN).
Kronologi kejadian ini dibenarkan langsung oleh Muslim Arbi dalam keterangannya kepada awak media, Rabu (3 Juni 2026). Ia menceritakan, hanya berselang beberapa jam setelah tayangan diskusi tersebut disiarkan, ia mulai kesulitan mengakses akun-akunnya. Tak hanya itu, tercatat sejumlah aktivitas mencurigakan dan perubahan data yang dilakukan tanpa sepengetahuan maupun izin dirinya.
“Selesai saya bicara panjang lebar di televisi, membedah dugaan korupsi dan aliran dana yang dinilai tidak wajar di BGN, tak lama kemudian akun saya langsung bermasalah. Ada indikasi sangat kuat bahwa ini diretas, bukan sekadar gangguan teknis biasa. Saya menduga kuat ini adalah bentuk tekanan atau upaya pembungkaman karena saya sudah berani buka suara ke publik,” ungkap Muslim Arbi.
Ungkap Titik Rawan Pengelolaan Dana BGN
Dalam penampilannya di televisi tersebut, Muslim Arbi menyoroti sejumlah poin krusial dan rawan masalah dalam pengelolaan anggaran besar yang dikelola BGN, lembaga yang mengurusi Program Makan Bergizi Gratis. Ia menyampaikan adanya ketidaksesuaian data dalam laporan keuangan, proyek atau titik layanan yang dinilai belum tuntas namun dananya sudah dicairkan penuh, hingga dugaan keterlibatan oknum dalam mekanisme penunjukan mitra kerja.
Menurutnya, data-data yang disampaikan tersebut cukup beralasan untuk ditindaklanjuti dan diteliti lebih dalam oleh penegak hukum. Namun yang menjadi ironi, bukan temuan tersebut yang segera diselidiki, melainkan dirinya yang justru mendapatkan gangguan usai menyuarakan hal tersebut.
“Saya sampaikan semua itu berdasar data, laporan masyarakat, dan temuan di lapangan. Tujuan saya hanya mengingatkan agar ini ditelusuri demi uang rakyat. Tapi respons yang saya terima malah gangguan keamanan akun saya. Ini tanda yang sangat jelas, bahwa apa yang saya sampaikan menyentuh kepentingan pihak-pihak tertentu yang merasa tidak nyaman,” tegasnya.
Minta Polda Siber Usut Tuntas Demi Kebebasan Berpendapat
Muslim Arbi menilai, insiden peretasan ini tidak bisa dilihat sebagai masalah teknis semata. Ia menegaskan hal ini merupakan bagian dari pola upaya pembungkaman kebebasan berpendapat dan penghambatan kontrol sosial terhadap kinerja lembaga negara.
Oleh sebab itu, ia meminta pihak kepolisian, khususnya Direktorat Tindak Pidana Siber, untuk segera menelusuri jejak pelaku di balik peretasan ini, serta mengungkap apa motif utama dan siapa pihak yang paling diuntungkan dari kejadian tersebut.
Ia juga mengingatkan, jika insiden seperti ini dibiarkan tanpa kejelasan hukum, maka akan makin sedikit pihak yang berani bersuara mengungkap penyimpangan yang terjadi di instansi pemerintah.
“Kalau bicara benar dan menyampaikan fakta malah diganggu, mau sampai kapan kejanggalan ini dibiarkan? Saya tidak akan gentar. Siapapun yang berbuat salah dan merugikan negara, harus bertanggung jawab di hadapan hukum,” tambahnya dengan tegas.
Hingga berita ini diturunkan, Muslim Arbi dan timnya masih berupaya memulihkan akses akun yang diretas. Ia juga berencana melaporkan insiden ini secara resmi ke pihak berwajib dalam waktu dekat. Meski mendapat tekanan, ia berjanji tetap akan terus mengawal isu transparansi keuangan negara dan kasus dugaan korupsi di BGN yang telah diungkapkannya.
(MA.Zakariyya S.E)

