• Jelajahi

    Copyright © Ops Jurnal
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Iklan

    Halaman

    Selatan Bojonegoro: Bom Waktu Ekologi yang Kian Terlihat

    Sabtu, 20 Juni 2026, Juni 20, 2026 WIB Last Updated 2026-06-19T19:15:08Z
    masukkan script iklan disini


    Bojonegoro, Jatim | Opini - Kabupaten Bojonegoro sedang berlari mengejar pembangunan. Jalan dibangun, investasi didorong, dan berbagai program terus digencarkan.

    Namun di balik geliat tersebut, ada ancaman yang tumbuh diam-diam dari wilayah selatan. Ancaman itu bukan isu sesaat, melainkan persoalan ekologis yang terus membesar.

    Mulai dari Kecamatan Temayang, Dander, Bubulan, Gondang, Sekar, Ngambon, Tambakrejo, Ngraho hingga Margomulyo, perubahan bentang alam semakin sulit disangkal.

    Perbukitan yang dahulu dikenal hijau kini banyak berubah menjadi hamparan lahan terbuka. 

    Pohon-pohon Jati besar dan lainnya semakin jarang ditemukan, bahkan mungkin bisa dikatakan tidak ada.

    Tidak ada yang salah dengan aktivitas pertanian. Yang menjadi persoalan adalah ketika fungsi ekologis kawasan terus tergerus tanpa kendali.

    Kawasan yang selama puluhan tahun berperan sebagai penyangga lingkungan perlahan kehilangan kemampuannya menyimpan air hujan.

    Akar-akar pohon yang dahulu mengikat tanah semakin berkurang. Lereng yang sebelumnya terlindungi kini lebih rentan terhadap erosi.

    Saat hujan deras mengguyur, air tidak lagi banyak meresap ke dalam tanah. Sebaliknya, air langsung berlari menuruni lereng.

    Limpasan air membawa lumpur, batu, ranting, dan berbagai material lain yang dilewatinya menuju kawasan yang lebih rendah.

    Dalam kondisi seperti itu, banjir bandang bukan lagi sekadar kemungkinan. Ia berubah menjadi ancaman yang selalu mengintai.

    Masyarakat selatan Bojonegoro sebenarnya sudah berkali-kali menyaksikan bagaimana derasnya air menghantam permukiman dan lahan pertanian.

    Banjir bandang datang silih berganti setiap musim penghujan. Sebagian orang menganggapnya sebagai peristiwa yang biasa terjadi.

    Padahal tidak ada bencana yang benar-benar biasa. Setiap kejadian adalah pesan bahwa daya dukung lingkungan sedang melemah.

    Alam terus memberi peringatan melalui banjir, longsor, sedimentasi sungai, hingga kerusakan lahan yang semakin meluas.

    Sayangnya peringatan itu sering berhenti menjadi berita sesaat. Setelah air surut, perhatian publik ikut menghilang.

    Padahal persoalan sebenarnya tidak ikut surut. Ia tetap tinggal di kawasan hulu dan terus bertambah dari tahun ke tahun.

    Ketika tutupan vegetasi berkurang, kemampuan tanah menyerap air ikut menurun. Saat itu terjadi, risiko bencana ikut meningkat.

    Ketika daya serap tanah melemah, setiap hujan ekstrem memiliki peluang lebih besar berubah menjadi ancaman bagi warga.

    Yang mengkhawatirkan, perubahan penggunaan lahan masih terus berlangsung. Tekanan terhadap kawasan ekologis belum benar-benar berhenti.

    Jika kondisi ini terus dibiarkan, wilayah selatan tidak lagi sekadar menghadapi ancaman banjir bandang musiman.

    Wilayah selatan berpotensi kehilangan fungsi pentingnya sebagai benteng ekologis yang selama ini menjaga keseimbangan alam Bojonegoro.

    Ketika benteng itu runtuh, dampaknya tidak akan berhenti di kawasan perbukitan. Air selalu membawa konsekuensi ke hilir.

    Kerusakan hulu pada akhirnya akan dirasakan sungai, sawah, jalan, infrastruktur, hingga permukiman yang jauh dari lokasi awal.

    Artinya persoalan ini bukan hanya milik warga selatan. Ini adalah ancaman yang menyangkut masa depan seluruh Bojonegoro.

    Pembangunan memang penting, tetapi pembangunan yang mengabaikan keseimbangan lingkungan dapat melahirkan biaya yang jauh lebih mahal.

    Alam mungkin tidak langsung menagih hari ini. Namun ketika waktunya tiba, tagihan itu sering datang dalam bentuk bencana.

    Dan ketika bencana datang, tidak ada yang bisa menawar kerugian yang ditinggalkannya. Semua harus menanggung akibatnya.

    Karena itu, ancaman terbesar bagi Bojonegoro hari ini mungkin bukan yang terlihat di permukaan, melainkan yang terus tumbuh di selatan.

    Bom waktu ekologi itu mungkin belum meledak hari ini. Namun tanda-tanda menuju ke sana semakin nyata terlihat dari tahun ke tahun.

    Pertanyaannya kini sederhana. Apakah kita akan menunggu ledakan itu terjadi, atau mulai memperbaiki keadaan sebelum terlambat? [Agus]
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini