Bojonegoro, Jatim | OpsJurnal.Asia.
Opini publik, - Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, dikenal sebagai daerah penghasil migas.
Namun bagi ribuan keluarga petani, jagung tetap menjadi salah satu penopang utama ekonomi mereka.
Sejumlah kajian yang mengacu pada data statistik BPS menempatkan beberapa kecamatan sebagai sentra produksi jagung terbesar di Bojonegoro.
Di Kecamatan Margomulyo disebut memiliki produksi sekitar 43.532 ton dan menjadi salah satu penghasil jagung terbesar di daerah ini.
Kemudian, Kecamatan Gondang berada di posisi berikutnya dengan produksi sekitar 34.397 ton dalam satu tahun produksi.
Kecamatan Sekar tercatat menghasilkan sekitar 23.570 ton, disusul Kecamatan Bubulan dengan produksi sekitar 21.863 ton.
Disusul Kecamatan Tambakrejo menghasilkan sekitar 20.380 ton, sedangkan Kecamatan Ngasem mencapai sekitar 18.842 ton.
Kecamatan Kasiman menyumbang sekitar 15.705 ton, dan Kecamatan Ngambon sekitar 14.801 ton per tahun produksi.
Terakhir Temayang juga masuk kelompok kecamatan dengan produksi jagung yang relatif tinggi di Bojonegoro.
Namun demikian, tahun pasti dari angka-angka tersebut masih perlu diverifikasi melalui publikasi resmi BPS.
Data tersebut berasal dari kompilasi kajian akademik yang mengutip data statistik BPS Bojonegoro.
Sementara data produksi jagung tahun 2025 dan 2026 secara lengkap juga belum tersedia secara final.
Meski demikian, data tersebut menunjukkan besarnya peran jagung bagi ekonomi masyarakat pedesaan.
Hasil panen jagung menjadi sumber penghasilan utama bagi banyak keluarga petani di Bojonegoro.
Jika harga jagung berada di kisaran Rp4.500 hingga Rp6.000 per kilogram, nilainya sangat besar.
Di sejumlah kecamatan sentra produksi, perputaran ekonomi jagung dapat mencapai ratusan miliar rupiah.
Hasil panen jagung menjadi sumber penghasilan utama bagi banyak keluarga petani di wilayah perbukitan dan pedesaan.
Perputaran uang hasil panen juga menggerakkan pedagang, jasa angkutan, toko pertanian, hingga usaha kecil di desa.
Namun persoalan utama tidak berhenti pada besarnya produksi. Sebagian besar hasil panen jagung masih dijual keluar daerah sebagai bahan baku.
Akibatnya, nilai tambah dari proses pengolahan, distribusi, dan industri lanjutan lebih banyak dinikmati wilayah lain.
Bojonegoro selama ini kuat sebagai daerah penghasil jagung, tetapi belum optimal sebagai pusat pengolahan hasil pertanian.
Padahal, setiap ton jagung yang diolah menjadi pakan ternak, bahan pangan, atau produk turunan lainnya memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Kondisi ini membuat potensi keuntungan yang lebih besar justru berkembang di luar daerah setelah jagung meninggalkan Bojonegoro.
Banyak pihak menilai hilirisasi menjadi salah satu kunci agar manfaat ekonomi jagung tidak berhenti di tingkat produksi.
Kehadiran industri pengolahan akan menciptakan rantai ekonomi yang lebih panjang dan menyerap lebih banyak tenaga kerja lokal.
Karena itu, pemerintah daerah dinilai perlu mendorong masuknya investor dan pelaku industri berbasis pertanian ke Bojonegoro.
Jika pengusaha dari luar daerah dapat tertarik membangun industri pengolahan jagung di Bojonegoro, manfaatnya berpotensi berlipat.
Selain menyerap hasil panen petani secara langsung, investasi tersebut dapat membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat.
Perputaran ekonomi lokal juga akan meningkat karena aktivitas produksi, distribusi, dan perdagangan berlangsung di dalam daerah.
Dalam jangka panjang, petani tidak hanya memperoleh keuntungan dari hasil panen, tetapi juga dari tumbuhnya ekosistem industri pendukung.
Bojonegoro memiliki bahan baku yang melimpah. Tantangannya kini bukan lagi sekadar meningkatkan produksi.
Tantangan yang lebih besar adalah bagaimana memastikan nilai tambah dari jagung tetap tinggal dan berkembang di Bojonegoro.
Sebab selama hasil panen terus keluar daerah tanpa pengolahan yang memadai, sebagian manfaat ekonomi akan terus mengalir ke wilayah lain. [Agus].

