Garut, Opsjurnal.asia — Memperingati Hari Lahir Pancasila yang jatuh setiap 1 Juni, Budayawan Garut Selatan, Oos Supyadin, S.E., M.M., menyampaikan refleksi mendalam agar dasar negara ini tidak hanya dijadikan simbol atau pajangan semata. Menurutnya, Pancasila harus diwujudkan menjadi komitmen nyata dan pedoman integritas, terutama bagi para penyelenggara negara.
“Pancasila harus dijadikan pegangan hidup dan nilai-nilai integritas dalam berperilaku, khususnya bagi mereka yang memegang amanah rakyat. Jangan sampai sumpah jabatan hanya berujung menjadi kata-kata kosong, melainkan harus menjadi janji yang sungguh-sungguh direalisasikan dalam tindakan,
” tegasnya.
Ia mengajak seluruh elemen bangsa untuk menyadari berbagai bentuk perilaku yang dinilai menyimpang dan menodai nilai luhur Pancasila, di antaranya:
- Praktik Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme
Menggunakan jabatan untuk memperkaya diri sendiri atau golongan. Perilaku ini jelas melanggar Sila Kelima Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia karena merampas hak dan kesejahteraan masyarakat luas.
- Diskriminasi dan Intoleransi
Bersikap tidak adil serta membatasi hak warga negara hanya karena perbedaan agama, suku, ras, atau latar belakang. Hal ini bertentangan dengan semangat Ketuhanan Yang Maha Esa dan prinsip persamaan hak sebagai warga negara.
- Otoriter dan Anti-Kritik
Memaksakan kebijakan, membungkam kebebasan berpendapat, serta menolak musyawarah dalam mengambil keputusan demi kepentingan bersama. Sikap ini mencederai makna Sila Keempat Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan.
- Arogansi Kekuasaan
Bertindak sewenang-wenang, melakukan persekusi, atau kekerasan. Tindakan demikian jelas melanggar harkat dan martabat manusia yang menjadi inti Sila Kedua Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.
- Penyalahgunaan Wewenang
Mendahulukan kepentingan kelompok atau golongan tertentu di atas kepentingan umum. Hal ini berlawanan dengan semangat persatuan dan kesatuan bangsa sebagaimana tertuang dalam Sila Ketiga.
Oos Supyadin menegaskan bahwa meskipun penyelenggara negara adalah manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan, perbaikan dapat terus dilakukan selama setiap tindakan senantiasa dicerminkan berdasarkan nilai-nilai Pancasila.
“Ketika kita — terutama para pemegang amanah — dengan sengaja mengabaikan Pancasila sebagai landasan berbangsa dan bernegara, maka sesungguhnya kita telah merusak kesakralan dan makna sesungguhnya dari dasar negara itu sendiri,” tambahnya.
Di akhir refleksinya, ia mengajak seluruh masyarakat untuk menyadari makna sebenarnya peringatan hari bersejarah ini.
“Pancasila bukan sekadar tulisan dalam bingkai yang dipajang di dinding. Ia harus hidup dan diamalkan dalam setiap langkah kita,” tutupnya.
(M.A.Zakariyya S.E)

