Di balik keramaian Jalan Pirbun, Kelurahan Negeri Lama, Kecamatan Bilah Hilir, tepatnya di tikungan kiri belakang kandang lembu, tersembunyi aktivitas yang meresahkan hati warga. Sudah bertahun-tahun, tempat itu diduga menjadi sarang transaksi narkoba yang berjalan rapi, terselubung, dan seolah terlindungi dari jangkauan hukum. Kamis (11 Juni 2026)
Di balik semua itu, mencuat satu nama yang menjadi sorotan utama: DI, yang akrab disapa “Bos Dollar” dan dijuluki warga sebagai “Siluman” karena kemampuannya bergerak bebas tanpa tersentuh. Ia diduga menjadi otak utama jaringan BD SB yang menguasai peredaran di wilayah tersebut. Warga sudah muak, kesabaran habis, dan kini berteriak lantang, Kapan Ditangkap.
Lokasi yang dijadikan basis operasi bukanlah tempat terpencil yang sulit dijangkau. Ia berada di area padat permukiman, dekat jalur umum, dan sering dilalui orang banyak. Justru di situlah keahlian DI. Memanfaatkan keramaian sebagai kedok, sehingga orang yang keluar-masuk tidak langsung mencurigakan.
“Tempatnya strategis, persis di tikungan belakang kandang lembu. Semua warga tahu siapa yang datang, siapa yang pergi, dan siapa yang mengatur semuanya. Itu DI, panggilannya Bos Dollar. Dia bergerak seperti siluman terlihat ada, tapi seolah tak pernah tersentuh,” ungkap BU (53), warga setempat yang sudah lama menyaksikan situasi ini.
Warga lain menambahkan, dampak keberadaan DI sudah terasa nyata. Pemuda-pemuda yang dulunya rajin bekerja, kini berubah drastis ada yang berhenti sekolah, ada yang berperilaku kasar, bahkan ada yang terlibat pencurian demi mendapatkan barang haram yang dijajakan jaringan BD SB-nya.
“Kami tidak bisa diam melihat anak-anak kami perlahan hancur. Laporan sudah kami sampaikan berkali-kali, tapi kenapa sampai sekarang DI masih berjalan bebas? Apakah dia benar-benar sulit ditangkap, atau memang sengaja dibiarkan berkuasa?” tanya seorang warga dengan nada geram.
Ketika dikonfirmasi, Kanit Reskrim Polsek Bilah Hilir IPDA Mistra Purba belum memberikan jawaban sama sekali sampai berita ini diterbitkan.”
Namun bagi warga, kalimat itu sudah terlalu sering mereka dengar. “Sedang diselidiki”, “sedang didalami”, “akan ditindaklanjuti” — semua itu hanya kata-kata kosong jika tidak diikuti tindakan nyata. Mereka sudah lelah menunggu, sudah tidak percaya lagi pada janji yang tak pernah terealisasi.
“Jangan lagi bicara ‘sedang diselidiki’ jika hasilnya nol. Jangan hanya menangkap kurir kecil yang tak berdaya, sementara bos besarnya tetap duduk manis mengatur semuanya. Itu namanya tebang pilih, itu namanya hukum yang hanya tajam ke bawah,” tegas warga.
Mereka menduga kuat ada alasan mengapa DI bisa bertahan begitu lama. Apakah karena jaringannya yang rapi? Atau karena ada “tangan pelindung” yang memastikan ia tetap aman? Kecurigaan itu makin memuncak ketika operasi antinarkoba digelar berkali-kali, namun nama DI tak pernah tersentuh.
Warga kini mengalihkan harapan mereka langsung ke pimpinan tertinggi di jajaran kepolisian Kapolres Labuhanbatu AKBP Wahyu Endrajaya dan Kasat Narkoba AKP Hardiyanto. Mereka menuntut agar tidak lagi membiarkan situasi ini berlarut-larut.
“Kami minta agar DI yang dijuluki Bos Dollar dan Siluman itu segera ditangkap! Bongkar jaringan BD SB-nya! Gerebek lokasi di tikungan belakang kandang lembu itu! Jangan biarkan dia terus menjadi ancaman bagi keselamatan dan masa depan anak-anak kami!”
“Buktikan bahwa hukum di Labuhanbatu tidak bisa dibeli, tidak bisa ditawar, dan tidak mengenal siapa pun. Jika DI benar bersalah, tangkap dia sekarang juga — sebelum dia makin berkuasa dan makin sulit dijatuhkan,” pungkas warga.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada langkah penindakan yang terlihat di lokasi. Masyarakat menunggu apakah aparat akan menunjukkan integritasnya, atau membiarkan DI terus beroperasi seolah tak ada hukum yang berlaku baginya.
Penjahat yang dibiarkan terlalu lama bebas, akan tumbuh menjadi ancaman yang makin besar. DI sudah menjadi rahasia umum di Negeri Lama. Jika polisi benar-benar ingin memberantas narkoba, maka langkah pertamanya jelas tangkap dia sekarang juga. Jangan biarkan julukan “siluman” itu terus melekat karena kegagalan penegakan hukum.
Penulis : SAD
