Garut.Opsjurnal.asia – Tidak semua nama besar dalam sejarah tercatat karena sorotan lampu atau pidato di atas panggung. Sebagian besar justru diukir oleh ketulusan bekerja di belakang layar, mengorbankan waktu dan kenyamanan demi menjaga agar cita-cita tetap menyala meski jalan terjal dan hasil belum terlihat jelas. Seperti itulah sosok almarhum Dede Nurohim, sosok sederhana yang dikenal sebagai Sang Pemberani dan salah satu pembuka jalan bagi masa depan Garut Utara.
Lahir di Bandung pada Februari 1955, Dede Nurohim tumbuh menjadi pribadi yang dikenal rendah hati, pekerja keras, dan memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Beralamat di Kampung Cicadas Pentas RT 02 RW 08, Kecamatan Limbangan, ia hidup bersama istri tercinta, Mumun Munawaroh, dan dikaruniai lima orang anak. Latar belakang pendidikannya ia tempuh dengan tekun dari jenjang SD hingga SMA, sebelum kemudian memilih jalan sebagai wiraswasta mandiri.
Namun, hidupnya tidak hanya dihabiskan untuk kepentingan pribadi dan keluarga. Sejak muda, ia aktif bergelut dalam kegiatan sosial dan organisasi kemasyarakatan, hingga akhirnya menemukan panggilan hatinya dalam perjuangan besar mewujudkan Daerah Otonomi Baru Kabupaten Garut Utara.
*Sejak Awal Berdiri di Barisan Terdepan*
Ketika gagasan pemekaran masih dianggap sekadar impian dan belum banyak dipercaya orang, Dede Nurohim telah memilih untuk melangkah maju. Namanya tercatat sebagai salah satu Deklarator perjuangan, yang berani menyatakan pendiriannya di saat tantangan masih berat dan ketidakpastian masih membayangi.
Lebih dari sekadar menjadi pendukung, ia juga dipercaya bergabung dalam Tim Perumus Perjuangan. Di sini, gagasan-gagasan disusun, strategi dirancang, dan langkah-langkah disepakati agar gerakan tidak hanya berlandaskan semangat, tetapi memiliki arah yang jelas dan terstruktur.
Berkat dedikasi dan kesetiaannya, ia kemudian mengemban amanah sebagai Wakil Ketua Umum Paguyuban Masyarakat Garut Utara (PM GATRA). Bagi orang-orang yang mengenalnya, jabatan bukanlah tujuan utamanya. Yang paling menonjol dari sosoknya adalah kesetiaan yang tak tergoyahkan — setia pada cita-cita, setia pada kebersamaan, dan setia mengawal setiap tahapan perjuangan.
*Dua Tangan Kanan Perjuangan*
Dalam catatan sejarah PM GATRA, Dede Nurohim kerap disebut bersama almarhum Uu Amrullah sebagai "dua tangan perjuangan". Keduanya menjadi tulang punggung yang mendampingi Ketua Umum PM GATRA, Rd Holil Aksan Umarzen. Mereka hadir bukan hanya saat suasana menyenangkan, tetapi terutama saat menghadapi kesulitan.
Rapat-rapat panjang, konsolidasi ke berbagai penjuru wilayah, perjalanan dinas yang melelahkan, hingga pengelolaan sekretariat organisasi menjadi bagian dari kesehariannya. Waktu luang, tenaga, hingga kenyamanan pribadi rela disisihkan. Ia percaya sepenuhnya bahwa Garut Utara berhak mendapatkan masa depan yang lebih baik, dan bahwa cita-cita besar tidak akan terwujud hanya dengan kata-kata, melainkan membutuhkan ketekunan menjaga nyala semangat.
*Warisan Keteladanan yang Abadi*
Pada 19 Desember 2024, Dede Nurohim dipanggil menghadap Sang Pencipta. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan seluruh rekan seperjuangan. Namun, dalam sejarah, sosoknya tidak pernah benar-benar pergi. Ia tetap hidup dalam jejak pengabdian, dalam kenangan ketulusan hatinya, dan dalam cita-cita yang hingga kini terus diupayakan.
Sejarah besar tidak hanya dititled oleh mereka yang memimpin, tetapi juga oleh orang-orang sederhana yang memilih untuk tetap berjuang tanpa banyak meminta pengakuan. Nama Dede Nurohim selamanya akan tercatat sebagai bagian tak terpisahkan dari lembaran sejarah Garut Utara — sebagai sosok yang berani memulai, setia menjaga, dan menjadi pembuka jalan bagi generasi yang akan datang.
Semoga Allah SWT menerima segala amal ibadah dan pengorbanan beliau, mengampuni segala kekhilafan, melapangkan kuburnya, dan menjadikan seluruh perjuangannya sebagai amal jariyah yang pahalanya terus mengalir.
Alfatihah.
*Jejak Pengabdian*
Nama: Dede Nurohim
Tempat/Tanggal Lahir: Bandung, Februari 1955
Alamat: Kp. Cicadas Pentas RT 02 RW 08, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Garut
Keluarga: Istri Mumun Munawaroh, dikaruniai 5 orang anak
Pendidikan: SD (1961–1967), SMP (1967–1970), SMA (1970–1973)
Pekerjaan: Wiraswasta
Peran dalam Perjuangan:
- Deklarator Daerah Otonomi Baru Kabupaten Garut Utara
- Anggota Tim Perumus Perjuangan
- Wakil Ketua Umum PM GATRA
- Aktif di organisasi sosial dan Lembaga Swadaya Masyarakat
Disusun berdasarkan dokumentasi resmi dan arsip sejarah perjuangan PM GATRA. "Perjuangan boleh berganti generasi. Namun ketulusan pengabdian akan selalu menemukan jalannya dalam sejarah.”
(M.A.Zakariyya S.E)

