Bojonegoro, Jatim | OpsJurnal.Asia.
Opini, - Angka perceraian di Bojonegoro terus menjadi sorotan.
Dalam lanskap awal 2026, Pengadilan Agama mencatat ratusan perkara kembali masuk setiap bulan.
Data Januari 2026 menunjukkan 409 perkara perceraian masuk, didominasi cerai gugat sebanyak 315 kasus dan cerai talak 94 kasus.
Sumber data tersebut diperkuat dari putusan dan laporan PA Bojonegoro yang menunjukkan tren awal tahun tetap tinggi dan belum menunjukkan penurunan signifikan.
Memasuki Februari 2026, laporan media lokal mencatat sekitar 488 perkara pada awal tahun secara kumulatif, dengan dominasi faktor perselisihan dan perantau.
Data sistem perkara Mahkamah Agung juga menunjukkan putusan perceraian tetap berjalan aktif, dengan ratusan perkara diputus pada awal 2026 secara bertahap.
Sementara itu, untuk Maret hingga Mei 2026, data publik yang terkompilasi belum dirilis secara resmi dalam bentuk rekap bulanan oleh PA Bojonegoro.
Namun, jejak perkara pada sistem peradilan menunjukkan bahwa proses sidang dan putusan tetap berlangsung secara berkelanjutan di rentang waktu tersebut.
Jika dibandingkan dengan tahun 2025 yang mencapai 2.774 perkara perceraian, awal 2026 masih berada pada pola tinggi dan stabil tanpa penurunan tajam.
Kondisi ini menunjukkan bahwa faktor sosial ekonomi masih menjadi tekanan utama dalam rumah tangga, terutama di sektor pekerja informal dan perantau.
Perselisihan dan pertengkaran tetap menjadi kategori dominan, yang sering kali berakar dari tekanan ekonomi, komunikasi, dan beban rumah tangga.
Meski faktor ekonomi secara administratif tampak menurun, realitas lapangan menunjukkan bahwa tekanan pendapatan masih menjadi pemicu konflik.
Faktor lain seperti judi, KDRT, dan penyalahgunaan narkotika tetap muncul sebagai penyumbang perkara, meski dalam skala lebih kecil.
Pengadilan Agama menilai bahwa pola perceraian awal 2026 masih merupakan kelanjutan dari tren besar tahun sebelumnya.
Lonjakan perkara yang bersifat fluktuatif di awal tahun umumnya dipengaruhi momen keluarga perantau saat kembali ke kampung halaman.
Dalam perspektif kelembagaan, data Januari–Mei 2026 masih bersifat parsial karena belum tersedia rekap resmi kumulatif dari seluruh bulan.
Oleh karena itu, analisis saat ini lebih menekankan pada pola awal tahun dan tren berkelanjutan dibanding angka final keseluruhan periode.
Angka perceraian di Bojonegoro mencerminkan dinamika sosial ekonomi masyarakat yang terus bergerak. [Agus].

