Garut,OpsJurnal.Asia -
Badan Narkotika Nasional (BNN) menerima kunjungan kerja resmi dari Deputi Bidang Politik, Hukum, Keamanan, dan HAM Sekretariat Dukungan Kabinet RI, Purnomo Sucipto, beserta jajarannya. Kegiatan yang berlangsung di Balai Besar Rehabilitasi BNN, Bogor, Jawa Barat, Rabu (13/5/2026) ini, menjadi momen penting untuk mempererat koordinasi serta sinergi kedua lembaga dalam upaya bersama menanggulangi penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika di Indonesia.
Dalam sambutannya, Sekretaris Utama BNN RI, Tantan Sulistyana, menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi mendalam atas kehadiran serta dukungan berkelanjutan yang diberikan Sekretariat Dukungan Kabinet RI terhadap pelaksanaan dan penguatan program Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN).
Menurut Tantan, kelembagaan yang dipimpin Purnomo Sucipto merupakan mitra strategis yang telah lama berperan aktif mendampingi BNN, mulai dari pengawalan pelaksanaan Rencana Aksi Nasional (RAN) P4GN lintas periode, hingga terlibat langsung dalam penyusunan rancangan Perpres RAN P4GN untuk periode 2026–2029 yang sedang disiapkan.
“Kunjungan ini adalah momentum yang sangat berharga bagi kami. Pak Purnomo dan jajarannya sudah lama menjadi mitra strategis yang selalu bersama kami, mengawal kebijakan hingga terlibat merancang arah kebijakan nasional penanggulangan narkotika ke depan,” ujar Sestama BNN.
Sementara itu, Purnomo Sucipto menjelaskan bahwa tujuan utama kunjungan ini adalah untuk melihat secara langsung wujud nyata kehadiran negara dalam menangani masalah narkotika, khususnya melalui pelayanan rehabilitasi bagi para penyalahguna yang membutuhkan pemulihan. Selain itu, kunjungan ini juga menjadi sarana pengumpulan data, informasi capaian, serta pemetaan tantangan riil yang dihadapi BNN, sebagai bahan penting dalam penyusunan dan penguatan kebijakan di tingkat pemerintah pusat.
Dalam sesi pemaparan, pihak BNN memaparkan kondisi terkini penanganan narkotika di Tanah Air, termasuk berbagai kendala yang dihadapi, salah satunya dampak penyesuaian anggaran yang berpengaruh terhadap optimalisasi pelayanan rehabilitasi maupun program pencegahan. Di sisi lain, BNN juga memaparkan sejumlah inovasi layanan yang telah dikembangkan untuk menjawab tantangan tersebut, antara lain rehabilitasi keliling, tele-rehabilitasi, Intervensi Berbasis Masyarakat (IBM), dan program SINARI Sekolah. Tak ketinggalan, juga dipaparkan program unggulan pencegahan seperti ANANDA BERSINAR serta Integrasi Kurikulum Anti Narkotika (IKAN).
Mendengar berbagai pemaparan dan melihat langsung layanan yang ada, Purnomo Sucipto memberikan apresiasi tinggi terhadap beragam inovasi yang dikembangkan BNN. Ia menilai langkah-langkah tersebut sangat tepat sasaran, terutama karena mengutamakan pendekatan penyelamatan generasi muda melalui upaya pemulihan dan pencegahan.
Lebih jauh, Purnomo menegaskan bahwa permasalahan narkotika merupakan isu serius yang menuntut perhatian dan keterlibatan semua pihak. Urgensi penanganan ini harus terus digaungkan agar tetap menjadi prioritas pembangunan nasional. Hasil pantauan, masukan, dan catatan yang diperoleh selama kunjungan ini nantinya akan dijadikan bahan laporan dan koordinasi lanjutan, guna memastikan kebijakan penanggulangan narkotika nasional dapat terus diperkuat dan berjalan efektif.
(M.A.Zakariyya S.E)


