Bojonegoro, Jatim | OpsJurnal.Asia.
Opini publik - Demokrasi membuka jalan kekuasaan tanpa syarat moral, hanya prosedur dan suara yang menentukan siapa naik ke panggung politik.
Kelebihannya, siapa pun bisa naik mulai anak miskin, tukang becak, atau kelompok kecil bisa jadi kekuatan politik besar.
Namun di sisi lain, pintu itu juga terbuka bagi figur oportunis, manipulatif, bahkan preman yang pandai menggalang massa.
Legitimasi dalam demokrasi lahir dari suara, bukan ukuran keluhuran moral atau kualitas batin seseorang.
Selama mampu mengumpulkan dukungan dan pengaruh, seseorang bisa sah secara konstitusional memegang kekuasaan.
Moralitas sering kalah dari loyalitas. Yang mampu mengikat emosi massa lebih mudah naik dibanding yang paling bijak.
Kekuatan politik lahir dari jaringan, solidaritas, dan mobilisasi, bukan semata dari kebaikan pribadi.
Massa bergerak oleh identitas, ketakutan, harapan, dan emosi, bukan selalu oleh pertimbangan etika rasional.
Akibatnya, figur keras dan emosional kadang lebih dicintai daripada tokoh bersih dan kompeten.
Ini ironi politik, orang baik sering tak berkuasa. Sementara yang bermasalah bisa mendominasi panggung.
Namun ini bukan pembenaran, melainkan pembacaan realistis tentang cara kekuasaan bekerja dalam masyarakat.
Seorang akademisi menyebut, saat rakyat mengejar sensasi dan keuntungan, suatu pemerintahan mudah dikuasai perebutan kuasa.
Demokrasi ideal terjadi saat moralitas dan loyalitas bertemu dalam satu pemimpin yang etis sekaligus didukung massa. [Agus].

