Garut.Opsjurnal.asia - Kabar baik hadir bagi masyarakat Kabupaten Garut, khususnya bagi pasien dan keluarga yang berobat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Slamet Garut. Sebuah rumah singgah yang disediakan secara cuma-cuma akan mulai beroperasi pada 1 Juni 2026, diresmikan secara simbolis pada 17 Juni 2026 mendatang. Fasilitas ini digagas oleh Yayasan Roemah Joeang Intan Rajawali Garut sebagai bentuk dukungan nyata bagi warga.
Rumah singgah ini berlokasi di Kampung Babakan Sukapadang RT 02 RW 05, dekat Masjid At Taqwa, Kelurahan Sukakarya, Kecamatan Tarogong Kidul. Di bawah kepemimpinan Ketua Yayasan, Mimah Nurdaniah, didampingi Ketua Harian Rita dan Acep Rahayu, fasilitas ini dihadirkan tanpa memungut biaya sepeser pun dari penggunanya.
*Berdiri Dari Pengalaman Pribadi Yang Menyentuh*
Ketua Yayasan, Mimah Nurdaniah, menceritakan bahwa berdirinya rumah singgah ini tidak lepas dari pengalaman pahit yang dialaminya sendiri sejak tahun 2009. Saat itu, putrinya didiagnosis mengidap kanker dan harus menjalani pengobatan kemoterapi bertahun-tahun di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung.
“Saya paham betul rasanya. Dulu saya melihat banyak pasien dan keluarganya terpaksa tidur beralaskan tikar di selasar rumah sakit karena tidak mampu menyewa tempat tinggal. Dari situlah benih kepedulian itu tumbuh,” ungkapnya.
Lebih lanjut ia menjelaskan, bahwa sebenarnya ia sudah bertahun-tahun menampung pasien secara pribadi. Kini, bentuknya dilembagakan menjadi yayasan agar jangkauan bantuannya bisa lebih luas.
“Selama ini saya menampung secara pribadi, baru sekarang diformalkan menjadi yayasan agar lebih banyak orang yang terbantu. Kami mendirikan tempat ini secara gratis karena saya tahu betul beban yang dirasakan keluarga pasien — bukan hanya finansial, tapi juga tekanan batin. Kami ingin membersamai mereka dengan cinta dan kasih sayang. Siapa saja yang membutuhkan silakan datang, jadilah bagian dari keluarga besar kami tanpa memandang latar belakang,” tegasnya.
Ia menambahkan, persyaratan yang dibutuhkan sangat sederhana, yaitu menunjukkan Kartu Keluarga, KTP, serta surat rujukan pengobatan.
“Tidak ada syarat rumit. Kami berharap ada sinergi dari berbagai pihak, baik pemerintah maupun masyarakat, agar fasilitas ini bisa terus berjalan. Bayangkan, jika pendamping pasien tidur di lorong rumah sakit, bagaimana ia bisa menjaga kesehatan dan semangatnya untuk merawat orang sakitnya? Bahkan untuk ke kamar mandi saja harus mengeluarkan biaya,” ujarnya.
*Semua Fasilitas Disediakan Tanpa Biaya*
Sebagai penanggung jawab operasional, Ketua Harian Rita menjelaskan secara rinci layanan yang disediakan di rumah singgah tersebut. Mulai dari tempat tidur lengkap dengan kasur dan selimut, fasilitas mandi, hingga dapur umum untuk memasak kebutuhan sehari-hari, semuanya disediakan secara gratis.
“Makan, minum, tempat tidur, hingga pendampingan — semuanya tanpa pungutan sepeser pun. Pasien dari seluruh wilayah Garut bisa datang langsung. Nanti kami hanya akan memeriksa kelengkapan dokumennya,” jelas Rita.
Meskipun disediakan bebas, ia menekankan adanya aturan sederhana agar fasilitas tetap terawat dan bisa digunakan dalam jangka panjang.
“Kami minta setiap pengguna bertanggung jawab. Setelah menggunakan selimut, cuci kembali. Kompor dan peralatan masak dibersihkan setelah dipakai, begitu juga kamar mandi. Tidak ada batasan waktu menginap, silakan tinggal sampai proses pengobatan selesai,” tambahnya.
Ia pun membuka pintu lebar-lebar bagi siapa saja yang ingin memberikan dukungan.
“Bagi warga Garut yang membutuhkan, kami persilakan datang dengan senang hati. Dan bagi yang ingin membantu, kami terima segala bentuk dukungan, baik materi maupun doa. Pekerjaan sosial ini akan terasa ringan jika kita saling bahu-membahu meringankan beban sesama,” pungkasnya.
*Solusi Atas Keterbatasan Fasilitas Rumah Sakit*
Sementara itu, Ketua Harian lainnya, Acep Rahayu, menjelaskan alasan strategis dihadirkannya fasilitas ini. RSUD dr. Slamet merupakan rumah sakit tipe B yang menjadi rujukan utama bagi seluruh puskesmas dan rumah sakit di wilayah Garut yang sangat luas, termasuk daerah pelosok selatan Garut.
“Banyak pasien datang dari jarak yang sangat jauh. Jika hanya mengandalkan ruang tunggu atau selasar rumah sakit, istirahat mereka tidak akan maksimal. Di sini kami sediakan tempat yang layak, juga ada pendamping yang siap membantu mengarahkan, terutama bagi yang baru pertama kali berobat. Ini juga sangat membantu pasien rawat jalan agar tidak perlu bolak-balik kampung yang menghabiskan biaya dan tenaga,” paparnya.
Ia menyadari bahwa biaya hidup di sekitar lingkungan rumah sakit tergolong mahal dan sering kali membebani keluarga pasien dari kalangan ekonomi menengah ke bawah.
“Tujuan kami jelas: meringankan beban ekonomi, menciptakan rasa kebersamaan, dan menjadi tempat berbagi semangat. Kami juga berharap langkah ini bisa menyentuh hati pemerintah daerah, khususnya dinas terkait, untuk turut memberikan perhatian lebih bagi kesejahteraan masyarakatnya,” ujarnya.
Untuk tahap awal operasional, biaya operasional rumah singgah masih ditanggung secara swadaya oleh pengurus. Ke depannya, pihak yayasan berharap bisa mendapatkan dukungan berkelanjutan dari Baznas Kabupaten Garut, Dinas Sosial, LazisMu, serta program Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR) yang ada di wilayah Garut.
Informasi Lengkap:
- Mulai Beroperasi: 1 Juni 2026
- Peresmian Simbolis: 17 Juni 2026
- Alamat: Kp. Babakan Sukapadang RT 02 RW 05 (Dekat Masjid At Taqwa), Kelurahan Sukakarya, Kecamatan Tarogong Kidul
- Biaya: GRATIS tanpa pungutan apapun
- Persyaratan: Fotokopi KK, KTP, Surat Rujukan, Nomor WhatsApp yang bisa dihubungi.
Berita ini disusun berdasarkan hasil wawancara langsung dengan pengurus Yayasan Roemah Joeang Intan Rajawali Garut. Redaksi telah memastikan informasi disampaikan secara faktual dan berimbang, serta membuka ruang tanggapan bagi pihak terkait, termasuk Pemerintah Kabupaten Garut.
(M.A.Zakariyya S.E)

