Bojonegoro | Agus | OpsJurnal.Asia
Opini, - El Niño 2026 kembali memicu kekhawatiran global lewat istilah “Godzilla”, namun secara ilmiah masih dinilai moderat dan terukur.
Istilah “Godzilla El Niño” mengingatkan pada peristiwa 1997–1998 dan 2015–2016, tetapi BRIN menilai peluang ekstrem pada 2026 masih kecil.
BRIN adalah lembaga riset nasional yang menganalisis dinamika iklim berbasis data dan pemodelan ilmiah lintas sektor.
Sebagian model iklim memang menunjukkan potensi penguatan suhu di Pasifik, namun mayoritas belum konsisten melewati ambang 2°C sebagai batas El Niño super.
Tidak adanya tanda “mencuri start” seperti pemanasan dini sejak awal tahun memperkuat indikasi bahwa fase ekstrem belum terbentuk saat ini.
Dari sisi klimatologi, jeda pasca El Niño 2023–2024 membuat akumulasi energi laut belum cukup kuat untuk memicu lonjakan ekstrem baru.
Faktor Indian Ocean Dipole (IOD) yang diperkirakan netral juga turut menekan potensi penguatan dampak El Niño terhadap wilayah Indonesia.
Meski demikian, dampak tetap perlu diwaspadai, terutama penurunan curah hujan di wilayah monsunal seperti NTT, Jawa, Bali, hingga Sulawesi selatan.
Puncak dampak diperkirakan terjadi pada September–Oktober 2026 sebelum mereda saat Monsun Asia mulai aktif membawa kembali hujan.
Pada akhirnya, isu “Godzilla El Niño” lebih tepat dipahami sebagai skenario ekstrem hipotetis, sementara kondisi paling mungkin adalah El Niño moderat yang terkendali.

