Bojonegoro Jatim | OpsJurnal.Asia
Di balik citra kota minyak dan gas, Bojonegoro ternyata menyimpan kekuatan peternakan besar.
Pada tahun 2025, populasi sapi Kabupaten Bojonegoro diperkirakan mencapai sekitar 244.225 ekor.
Jumlah itu menempatkan Bojonegoro sebagai salah satu lumbung sapi terbesar di Provinsi Jawa Timur.
Kenaikannya juga stabil, tumbuh sekitar 1,5 persen dibanding tahun sebelumnya.
Di banyak desa, suara sapi dari kandang masih menjadi tanda roda ekonomi rakyat terus bergerak.
Bagi ribuan keluarga peternak, ternak sapi bukan sekadar hewan peliharaan.
Sapi adalah tabungan hidup, biaya sekolah anak, hingga penyangga dapur keluarga di desa.
Namun di balik besarnya populasi itu, muncul kenyataan yang cukup menarik untuk dicermati.
Bojonegoro memiliki sapi dalam jumlah besar, tetapi nilai ekonomi dagingnya belum ikut besar.
Produksi daging di Bojonegoro hanya berada di kisaran 1,7 juta kilogram per tahun.
Pertumbuhannya pun hanya sekitar 2 persen dalam setahun terakhir.
Angka itu jauh tertinggal dibanding rata-rata pertumbuhan produksi daging di Jawa Timur.
Secara provinsi, produksi daging diproyeksikan naik dari 68 juta kilogram menjadi 76 juta kilogram.
Artinya, ada lonjakan sekitar 12 persen hanya dalam satu tahun produksi.
Bandingkan dengan Tulungagung yang mampu menghasilkan sekitar 7,2 juta kilogram daging.
Padahal populasi sapi di Tulungagung hanya sekitar separuh dari jumlah sapi di Bojonegoro.
Masalahnya bukan pada kualitas ternak ataupun kemampuan peternak lokal.
Persoalan utamanya ada pada hilangnya mata rantai nilai pengolahan di daerah sendiri.
Sebagian besar sapi dari Bojonegoro dikirim keluar daerah untuk dipotong di kota lain.
Nilai tambah akhirnya ikut berpindah bersama truk pengangkut sapi hidup tersebut.
Wilayah Bojonegoro akhirnya lebih banyak menjadi pemasok bahan mentah bagi daerah lain.
Kondisi ini mirip praktik menjual kayu jati gelondongan tanpa industri pengolahan sendiri.
Peternak merawat ternak bertahun-tahun, tetapi keuntungan terbesar justru muncul di luar daerah.
Secara mengejutkan, produksi daging terbesar di Jawa Timur justru muncul dari wilayah perkotaan.
Lihat, kota Malang memproduksi sekitar 9,8 juta kilogram daging sapi pada 2025.
Sementara Surabaya menghasilkan sekitar 9,1 juta kilogram daging.
Padahal populasi sapi di dua kota itu sangat kecil dibanding wilayah pedesaan Jawa Timur.
Kota besar hanya menjadi titik akhir pemotongan dan distribusi daging sapi.
Sapi-sapi dari desa dikirim ke kota, lalu nilai ekonominya ikut berpindah.
Akibatnya, keuntungan hilirisasi lebih banyak dinikmati daerah perkotaan.
Padahal Jawa Timur sendiri sedang menunjukkan efisiensi peternakan yang cukup baik.
Pertumbuhan produksi daging jauh lebih tinggi dibanding kenaikan populasi sapi.
Hal itu menandakan pola penggemukan, distribusi, dan pemotongan mulai semakin efisien.
Namun peluang besar itu belum sepenuhnya dinikmati daerah penghasil sapi seperti Bojonegoro.
Padahal jika 10 persen sapi dipotong langsung di Bojonegoro, dampaknya akan sangat besar.
Sekitar 24 ribu ekor sapi bisa diproses setiap tahun di dalam kabupaten sendiri.
Produksi daging lokal diperkirakan mampu melonjak hingga 6 juta kilogram per tahun.
Artinya, Bojonegoro berpotensi meningkatkan produksi hampir empat kali lipat dari sekarang.
Sehingga, dampaknya bukan hanya soal angka statistik produksi tahunan semata.
Tetapi juga membuka lapangan kerja dan menggerakkan ekonomi turunan peternakan.
Mulai dari rumah potong modern, distribusi dingin, hingga industri olahan berbasis daging.
Di titik inilah peran pemerintah daerah menjadi sangat penting dan menentukan arah masa depan peternakan.
Pemerintah daerah perlu mulai membangun rantai hilirisasi peternakan secara bertahap dan terukur.
Bukan hanya fokus pada populasi sapi, tetapi juga penguatan industri pasca panen ternak.
Pembangunan rumah potong hewan modern menjadi salah satu kebutuhan yang mendesak.
Fasilitas pemotongan modern akan menjaga kualitas daging sekaligus nilai jual peternak.
Selain itu, pemerintah perlu menyiapkan pusat distribusi daging dingin berbasis daerah.
Langkah ini penting agar distribusi daging tidak selalu bergantung pada kota besar.
Penguatan koperasi peternak juga perlu menjadi prioritas pembangunan ekonomi desa.
Selama ini banyak peternak masih berdiri sendiri menghadapi rantai pasar yang panjang.
Akibatnya posisi tawar peternak sering lemah di hadapan tengkulak maupun distributor besar.
Melalui koperasi, peternak dapat diperkuat mulai dari pakan hingga pemasaran hasil ternak.
Pemerintah daerah juga perlu membuka ruang investasi industri olahan berbasis peternakan.
Mulai dari pengolahan daging beku, abon, bakso, hingga produk turunan lainnya.
Dengan begitu, nilai tambah ekonomi tidak terus mengalir keluar daerah setiap tahun.
Langkah berikutnya adalah memastikan peternakan masuk dalam arah besar pembangunan daerah.
Selama ini sektor migas sering menjadi wajah utama Bojonegoro di mata publik.
Padahal sektor peternakan memiliki kekuatan ekonomi jangka panjang yang tidak kalah besar.
Karena minyak suatu saat akan habis, tetapi pangan dan peternakan akan terus dibutuhkan.
Jika rantai hilirisasi berhasil dibangun, Bojonegoro bukan hanya dikenal sebagai daerah penghasil sapi.
Tetapi juga dapat tumbuh menjadi pusat industri daging di kawasan barat Jawa Timur.
Data 244 ribu ekor sapi bukan sekadar angka dalam laporan statistik tahunan.
Di baliknya ada peternak yang bangun sebelum subuh demi menjaga kandang tetap hidup.
Ada desa-desa yang menggantungkan perputaran ekonomi dari ternak rakyat.
Dan ada pertanyaan besar yang kini mulai terdengar semakin keras:
Sampai kapan Bojonegoro hanya menjadi pemasok bahan mentah bagi daerah lain?
Sudah waktunya kandang-kandang besar di Bojonegoro mulai bicara tentang kedaulatan daging.
Bukan sekadar mengirim sapi hidup, tetapi membangun industri dari kandangnya sendiri. [Ags].

