Bojonegoro Jatim | OpsJurnal.Asia
Lapangan Banyu Urip masih menjadi denyut utama produksi minyak nasional di tengah ancaman penurunan alamiah sumur migas tua.
SKK Migas dan ExxonMobil kini berpacu dengan waktu menjaga produksi agar tidak jatuh terlalu dalam setiap harinya.
Perang melawan natural decline bukan lagi sekadar target teknis, tetapi pertaruhan menjaga lifting minyak nasional.
Tekanan terbesar muncul ketika air dan gas mulai ikut terproduksi dari sumur minyak yang sudah menua bertahun-tahun.
Kondisi itu membuat produksi minyak perlahan turun jika tidak ditahan dengan intervensi teknologi yang agresif.
SKK Migas menyebut berbagai metode diterapkan untuk memperlambat laju penurunan produksi di Lapangan Banyu Urip, Kabupaten Bojonegoro, Jatim.
Salah satunya melalui injeksi kimia guna menahan keluarnya air dan gas yang mengganggu aliran minyak sumur.
Metode High Rate Test juga digunakan untuk mengendalikan gas agar tidak ikut terproduksi secara berlebihan.
Selain itu dipasang plug khusus pada beberapa sumur untuk menahan air yang mulai mendominasi produksi.
Strategi tersebut terbukti mampu memberi tambahan produksi sekitar 1.000 hingga 2.000 barel minyak per hari.
Tambahan itu terlihat kecil di atas kertas, namun sangat penting dalam menjaga stabilitas produksi nasional.
Di tengah tren penurunan alamiah, setiap barel minyak tambahan menjadi penyangga penting ketahanan energi negara.
ExxonMobil juga menjalankan program besar bernama Banyu Urip Infill Clastic atau disingkat BUIC.
Program ini menjadi pengeboran baru pertama di Banyu Urip sejak aktivitas pemboran terakhir pada tahun 2016.
Melalui program BUIC, operator menambah tujuh sumur baru untuk memperkuat produksi Lapangan Banyu Urip.
Kampanye pemboran tersebut dimulai pada April 2024 dan selesai pada Juni 2025 lebih cepat dari jadwal.
Penyelesaian proyek bahkan disebut sekitar sepuluh bulan lebih cepat dibanding target awal yang ditetapkan.
Hasilnya cukup signifikan karena produksi tambahan dari BUIC mencapai sekitar 30 ribu barel minyak per hari.
Kenaikan produksi membuat output Blok Cepu melonjak dari sekitar 150 ribu menjadi 170 hingga 180 ribu bph.
Angka itu menempatkan Blok Cepu sebagai salah satu tulang punggung utama produksi minyak Indonesia saat ini.
Kontribusinya bahkan mencapai sekitar 25 persen dari total lifting minyak nasional yang diproduksi Indonesia.
SKK Migas menilai langkah teknologi yang dilakukan ExxonMobil cukup efektif menjaga produksi tetap optimal.
Upaya tersebut tidak hanya melalui pengeboran baru, tetapi juga perawatan sumur-sumur lama yang masih aktif.
Selain perawatan, reaktivasi sumur idle juga dilakukan untuk memaksimalkan potensi produksi yang tersisa.
Salah satu capaian terbesar terjadi pada Sumur Banyu Urip A07 melalui program Water Shut-Off atau WSO.
Program itu berhasil menahan dominasi air sehingga produksi minyak sumur meningkat sangat drastis.
Produksi sumur A07 melonjak dari sekitar 4.800 barel menjadi 12.300 barel minyak per hari.
Artinya terdapat lonjakan tambahan sekitar 7.500 barel per hari, jauh di atas target awal yang dipasang.
Keberhasilan tersebut menunjukkan teknologi masih mampu memperpanjang umur produksi lapangan migas tua.
Namun di balik capaian itu tersimpan pesan penting bahwa cadangan migas tetap memiliki batas produksi.
Semakin tua lapangan minyak, semakin besar biaya dan teknologi yang dibutuhkan untuk mempertahankan output.
Karena itu keberhasilan menahan penurunan produksi bukan berarti ancaman krisis energi sudah berakhir.
Banyu Urip hari ini bukan hanya tentang minyak yang keluar dari perut bumi, tetapi tentang daya tahan energi.
Di tengah transisi energi dan menurunnya sumur tua, setiap tambahan produksi menjadi napas penting negara. [Ags].

