• Jelajahi

    Copyright © Ops Jurnal
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Iklan

    Halaman

    “Nggon Sahdu” atau Nggon Janji?

    Kamis, 30 April 2026, April 30, 2026 WIB Last Updated 2026-04-30T14:26:54Z
    masukkan script iklan disini

         Bojonegoro Jatim | OpsJurnal.Asia

    Opini, - Di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, sebuah gagasan lahir dengan nama yang terdengar hangat: “Nggon Sahdu”.

    Nama programnya satu rumah satu pohon durian di Kecamatan Gondang. 

    Program ini dipresentasikan sebagai jalan menuju agrowisata dan ekonomi lokal yang menggeliat.

    Namun, di balik narasi manis itu, pertanyaan mendasar belum benar-benar dijawab, apakah ini strategi, atau sekadar simbol?

    Bupati Setyo Wahono menyebut potensi desa harus digali sesuai karakter masing-masing wilayahnya.

    Pernyataan itu benar, tetapi justru di situlah problemnya: apakah pendekatan satu komoditas untuk semua rumah mencerminkan keragaman potensi?

    Durian memang bernilai tinggi, tetapi ia bukan tanaman instan. Ia menuntut waktu, perawatan, dan kesabaran yang tidak sederhana.

    Dalam konteks itu, “satu rumah satu durian” berisiko menjadi slogan yang lebih cepat tumbuh dibanding pohonnya sendiri.

    Apalagi ketika program ditopang bantuan bibit dari korporasi seperti Pertamina EP.

    Pertanyaannya bergeser, apakah keberlanjutan program ini ditopang sistem, atau sekadar distribusi awal yang berhenti pada seremoni tanam?

    Camat Gondang menyebut program ini akan mendongkrak ekonomi dan agrowisata. Klaim yang menjanjikan, tetapi belum teruji dalam ekosistem nyata.

    Agrowisata bukan hanya soal menanam, melainkan tentang rantai nilai, akses pasar, pengolahan, branding, hingga konektivitas wilayah.


    Tanpa itu, pohon durian bisa tumbuh, tetapi nilai ekonominya tetap jatuh di tangan tengkulak atau berhenti di konsumsi lokal.

    Lebih jauh, pendekatan seragam berpotensi mengabaikan risiko ekologis dan ekonomi ketika satu komoditas didorong secara masif.

    Ketika panen datang bersamaan, harga bisa jatuh. Ketika gagal panen, kerugian menjadi kolektif.

    Di titik ini, “Nggon Sahdu” seharusnya tidak berhenti sebagai gerakan tanam, tetapi bertransformasi menjadi desain pembangunan berbasis data.

    Perlu ada peta jalan, siapa membeli, ke mana dijual, bagaimana diolah, dan siapa yang mengendalikan nilai tambahnya.

    Tanpa kerangka itu, jargon “sejauh mata memandang ada durian” berisiko berubah menjadi ironi yang juga sejauh itu dari kesejahteraan.

    Program ini bukan keliru, tetapi belum cukup dalam. Ia menjanjikan masa depan, tetapi masih berdiri di atas fondasi yang perlu diperkuat.

    Karena pada posisi ini, pembangunan bukan soal menanam sebanyak mungkin, melainkan memastikan yang ditanam benar-benar berbuah bagi rakyat. [Ags].
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini