• Jelajahi

    Copyright © Ops Jurnal
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Iklan

    Halaman

    Klinik Tani Bojonegoro Alami Lonjakan 9,2 Ton per Hektare

    Kamis, 30 April 2026, April 30, 2026 WIB Last Updated 2026-04-30T11:27:41Z
    masukkan script iklan disini

        Bojonegoro Jatim | OpsJurnal.Asia

    Di tengah bayang stigma pertanian sebagai sektor usang, seorang pemuda justru membuka jalan baru yang tak banyak dilihat generasinya.

    Adalah Adnan Buyung Nasution, sosok muda dari warga Sukosewu yang mengubah keresahan petani menjadi gerakan nyata berbasis solusi.

    Ia tidak datang dengan teori tinggi, melainkan dari kegelisahan sederhana: petani sering bicara masalah, tapi tak punya ruang mencari jalan keluar bersama.

    Dari kegelisahan itu, lahirlah “Klinik Tani Wiragatama”, sebuah ruang hidup tempat petani belajar, berdiskusi, dan merumuskan solusi berbasis pengalaman lapangan.

    Klinik ini bukan sekadar tempat berkumpul, tetapi laboratorium sosial yang mengubah keluhan menjadi pengetahuan, dan pengetahuan menjadi tindakan nyata.

    Masalah klasik seperti mahalnya pupuk, rendahnya nilai jual hasil panen, hingga turunnya produktivitas, dibedah bersama dengan pendekatan kolektif.

    Dari proses itu, muncul inovasi nutrisi alternatif yang perlahan mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk kimia yang mahal dan fluktuatif.

    Tak berhenti di sana, Adnan bersama tim juga mengembangkan varietas padi baru bernama “NU – Ndak Umum”, hasil adaptasi kondisi lokal.

    Hasilnya tak sekadar wacana. Produktivitas lahan yang sebelumnya 6–7 ton per hektare melonjak hingga menyentuh angka 9,2 ton per hektare.

    Lebih dari sekadar angka, capaian itu menjadi bukti bahwa inovasi berbasis lokal mampu menjawab persoalan yang selama ini dianggap buntu.

    Gerakan ini juga menjalar ke generasi muda. Melalui komunitas “Gen Tani”, anak-anak muda yang sebelumnya jauh dari sawah mulai terlibat aktif.


    Sebanyak 22 pemuda kini menjadi bagian dari perubahan, belajar bertani bukan sebagai keterpaksaan, tetapi sebagai pilihan masa depan.

    Pendampingan dilakukan secara berkelanjutan, dari interaksi harian hingga forum rutin dua mingguan yang memperkuat jejaring pengetahuan.

    Kolaborasi dengan komunitas seperti Joglo Tani turut memperkaya perspektif, menghadirkan pendampingan yang lebih adaptif dan kontekstual.

    Atas konsistensinya, Adnan meraih penghargaan sebagai Juara 1 Pemuda Pelopor Bojonegoro 2026 di bidang pangan.

    Namun capaian itu bukan titik akhir. Ia justru menjadi pijakan untuk mendorong transformasi pertanian yang lebih luas dan berkelanjutan.

    “Pertanian bukan masa lalu, tapi masa depan jika dikelola dengan inovasi,” ujar Adnan dalam perbincangan di Malowopati FM Kabupaten Bojonegoro, 30 April 2026.

    Ke depan, ia membidik pengembangan alat pertanian modern hingga sistem hidroponik sebagai bagian dari adaptasi zaman yang terus berubah.

    Di tangan generasi seperti Adnan, sawah tak lagi sekadar ruang produksi, tetapi ruang inovasi yang menjaga denyut ketahanan pangan bangsa. [Ags].
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini