• Jelajahi

    Copyright © Ops Jurnal
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Iklan

    Halaman

    Kebijakan Berbasis Data atau Ilusi Angka? Ujian Nyata di Bojonegoro

    Kamis, 23 April 2026, April 23, 2026 WIB Last Updated 2026-04-23T08:21:29Z
    masukkan script iklan disini

        Bojonegoro Jatim | OpsJurnal.Asia

    Pemkab Bojonegoro kembali menggelar forum desa. Agenda teknis disusun rapi, menyasar isu kekeringan dan validitas data sosial.

    Hari kedua pelatihan jadi panggung perumusan. Pemetaan kekeringan dan DTSEN didorong sebagai dasar kebijakan ke depan.

    Namun pertanyaan mendasar muncul, apakah data cukup kuat untuk menanggung beban kebijakan yang menyangkut hidup warganya?

    Pemetaan rawan kekeringan digaungkan sebagai mitigasi. Tapi tanpa akurasi, peta hanya jadi simbol tanpa arah nyata.

    Wakil Bupati Nurul Azizah menegaskan arah kebijakan berbasis data. “Data harus bicara jujur,” ujarnya dalam forum resmi tersebut.

    “Kalau tidak, kebijakan hanya terlihat rapi di dokumen, tapi gagal di lapangan,” tambahnya menegaskan risiko bias data.

    Koordinasi dengan BPBD dan PU SDA disebut sebagai langkah lanjut. Namun sering kali berhenti pada tataran administratif.

    Di sisi lain, warga di lapangan tak menunggu koordinasi. Mereka menunggu air, bukan sekadar sinkronisasi angka.

    DTSEN diposisikan sebagai kunci ketepatan bansos. Sistem ini menjanjikan satu data untuk seluruh intervensi sosial.

    Dinas Sosial mengingatkan sisi krusialnya. “Ketidaktepatan data berarti ketidaktepatan bantuan,” tegas perwakilan dinas, 23 April 2026.

    “Dan itu langsung dirasakan masyarakat,” lanjutnya, menyoroti dampak konkret dari kesalahan angka di sistem.


    Masalahnya, pembaruan data sering tertinggal. Dinamika kemiskinan lebih cepat berubah dibanding proses verifikasi.

    Kesalahan desil bukan sekadar teknis. Ia menentukan siapa yang menerima bantuan dan siapa yang terabaikan.

    Di sektor lingkungan, solusi kembali ditawarkan. Edukasi, pengelolaan limbah, konservasi, dan kolaborasi jadi paket strategi.

    Namun Dinas Lingkungan Hidup memberi catatan tegas. “Lingkungan tidak butuh wacana, tapi tindakan nyata,” ujarnya.

    Pengelolaan sampah rumah tangga didorong jadi awal. Tempat peluruhan organik disebut solusi sederhana di desa.

    Sayangnya, implementasi sering longgar. Tanpa pengawasan, kebijakan mudah berhenti sebagai himbauan semata.

    Di titik ini, jurang antara konsep dan praktik kembali terlihat. Program rapi di atas kertas, rapuh saat dijalankan.

    Bojonegoro tidak kekurangan rencana. Yang dibutuhkan adalah memastikan data benar dan kebijakan benar-benar bekerja. [Ags].
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini