Bojonegoro Jatim | OpsJurnal.Asia
Fajar baru saja naik ketika Jalan Untung Suropati Bojonegoro kota berubah jadi ruang benturan.
Truk bermerk Isuzu Elf melaju kencang dengan kesadaran supir tertinggal.
Pada Kamis pagi, 23 April 2026, sekitar 06.05 WIB, dari arah barat ke timur menjadi jalur tanpa jeda bagi sopir kelelahan.
Namanya Kadirah, 57 tahun, membawa truk provit bernopol B 2189 XAO. Kendali hilang sekejap, arah pun berbelok tanpa rencana.
Di sisi utara jalan, sebuah trailer bernopol B 9315 SEI terparkir. Sebagian roda masih menggigit badan jalan.
Dengan begitu, ruang aman menyempit. Jarak tinggal hitungan detik. Benturan keras pun tak lagi bisa ditawar atau dihindari.
Polisi menyebut satu sebab klasik yang kerap diremehkan: adalah kantuk. Tubuh lelah, tapi kendaraan terus dipaksa berjalan.
Oleng ke kiri bukan sekadar gerak fisik, tapi tanda batas manusia yang diabaikan dalam tekanan waktu dan kerja.
Beruntung, tak ada nyawa melayang. Dua sopir selamat tanpa luka, meski logam cap depan kendaraan ringsek tak berdaya.
Kerusakan material menjadi harga dari kelalaian kecil yang berdampak besar di jalan raya yang padat aktivitas.
Seorang warga setempat, SN (49), menyebut kejadian itu berlangsung sangat cepat dan mengejutkan warga sekitar.
"Suara benturannya keras sekali, kami langsung keluar rumah. Truknya sudah menabrak trailer yang parkir," ujarnya.
Ia juga menyoroti posisi trailer yang dinilai masih memakan badan jalan, sehingga mempersempit ruang kendaraan melintas.
"Kalau parkirnya lebih ke dalam, mungkin tidak separah itu. Jalannya jadi sempit, apalagi pagi ramai," tambah warga Klangon Kabupaten Bojonegoro.
Satlantas bergerak cepat. TKP diamankan, bukti dikumpulkan, dan peristiwa ini masuk daftar evaluasi keselamatan.
Namun pertanyaannya tak berhenti di laporan. Mengapa kantuk masih jadi penyebab berulang di jalan nasional?
Apakah ritme kerja sopir tak pernah benar-benar dihitung? Atau keselamatan selalu kalah oleh target pengiriman?
Kecelakaan ini bukan sekadar insiden, tapi cermin sistem transportasi yang belum sepenuhnya berpihak pada manusia. [Ags].

