Bojonegoro, Jatim, OpsJurnal.Asia-Menjelang musim mudik, perhatian tak hanya tertuju pada jalan utama, tetapi juga jalur sunyi yang kerap jadi penyelamat perjalanan.
Di Bojonegoro, sejumlah ruas alternatif mulai terlihat lebih rapi. Lubang jalan ditutup, permukaan diratakan, arus dipersiapkan.
Perubahan itu bukan sekadar perawatan rutin, melainkan respons atas lonjakan kendaraan yang selalu berulang tiap Lebaran.
Ketika jalur nasional melambat oleh antrean panjang, jalan kabupaten sering menjadi pilihan diam-diam para pengemudi.
Ruas timur menuju penghubung Bojonegoro–Tuban kini kembali layak dilalui, memberi opsi baru bagi kendaraan lintas daerah.
Di wilayah selatan, jalur Kedungadem juga dipersiapkan sebagai penghubung alternatif antarwilayah yang lebih stabil.
Perbaikan tidak berhenti pada aspal. Penerangan jalan dipastikan menyala agar perjalanan malam tetap terasa aman.
Bagi pengendara jarak jauh, cahaya jalan sering lebih berarti daripada marka—ia memberi rasa tenang di perjalanan gelap.
Jalur alternatif jarang menjadi sorotan, namun justru di sanalah distribusi arus kendaraan sering menemukan keseimbangan.
Mudik akhirnya bukan hanya soal tujuan akhir, tetapi tentang bagaimana jalan-jalan kecil ikut menjaga orang sampai pulang. [Ags].
