• Jelajahi

    Copyright © Ops Jurnal
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Iklan

    Iklan

    Iklan

    Halaman

    Haidar Alwi: Surat Al-Insan, Fatimah Az-Zahra dan Sayyidina Ali Sebagai Fondasi Etika Sosial Islam

    Senin, 16 Februari 2026, Februari 16, 2026 WIB Last Updated 2026-02-16T08:58:58Z
    masukkan script iklan disini



    Jakarta,OpsJurnal.Asia -


    Nama Fatimah Az-Zahra dan Sayyidina Ali bin Abi Thalib bukan hanya bagian dari sejarah keluarga Rasulullah SAW, tetapi simbol etika sosial Islam yang konkret dan teruji. Dalam Surat Al-Insan ayat 7 dan 8, Allah SWT menyebut orang-orang yang menunaikan nazar dan memberikan makanan kepada orang miskin, anak yatim, serta tawanan. Sebagian riwayat tafsir mengaitkan ayat tersebut dengan keteladanan Fatimah Az-Zahra dan Sayyidina Ali yang tetap memberi ketika diri mereka sendiri berada dalam kesempitan.



    Ayat ini menegaskan satu hal penting: iman dalam Islam tidak berhenti pada kesalehan pribadi, tetapi menjelma menjadi tanggung jawab sosial.



     Dalam konteks inilah Ir. R. Haidar Alwi, MT - Presiden Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute, serta Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB, 



    memandang Surat Al-Insan sebagai fondasi moral yang membentuk struktur peradaban Islam.



    “Surat Al-Insan memperlihatkan bahwa agama bukan hanya membangun hubungan vertikal dengan Tuhan, tetapi juga membangun sistem perlindungan sosial. Ketika Sayyidina Ali dan Fatimah tetap memberi dalam keadaan lapar, di situlah spiritualitas berubah menjadi arsitektur peradaban. Islam tidak dibangun di atas retorika, tetapi di atas pengorbanan nyata,” tegas Haidar Alwi.



    Riwayat Turunnya Ayat dan Kepemimpinan Moral Keluarga Rasulullah.


    Dalam sejumlah kitab tafsir, termasuk Fathul Qadir, Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ayat “dan mereka memberikan makanan yang mereka sukai” turun berkenaan dengan Sayyidina Ali bin Abi Thalib dan Fatimah binti Rasulullah SAW. Fakhruddin Ar-Razi juga menjelaskan peristiwa tersebut secara rinci dalam tafsirnya.



    Diriwayatkan bahwa Al-Hasan dan Al-Husain, dua cucu Rasulullah SAW, pernah berada dalam keadaan sakit. Rasulullah SAW menjenguk keduanya. Dalam suasana penuh empati itu, Sayyidina Ali bernazar akan berpuasa tiga hari jika Allah menyembuhkan kedua putranya. Fatimah Az-Zahra turut bernazar bersama suaminya.



    Allah mengabulkan doa mereka. Untuk menunaikan nazar tersebut, Sayyidina Ali meminjam gandum dari seorang Yahudi bernama Syam’un Al-Haibari. Fatimah mengolahnya menjadi roti untuk berbuka.



    Namun selama tiga hari berpuasa, roti itu tidak pernah mereka santap. Pada hari pertama datang seorang miskin. Hari kedua datang seorang anak yatim. Hari ketiga datang seorang tawanan. Setiap kali waktu berbuka tiba, makanan itu diberikan kepada yang membutuhkan. Mereka sendiri hanya berbuka dengan air.



    Keesokan harinya, Sayyidina Ali membawa Al-Hasan dan Al-Husain menemui Rasulullah SAW. Nabi melihat keduanya menggigil karena kelaparan. Rasulullah kemudian mendatangi rumah Fatimah Az-Zahra dan melihatnya berdiri di mihrab dalam keadaan sangat lemah. Dalam riwayat disebutkan bahwa Malaikat Jibril turun dan membacakan Surat Al-Insan sebagai penghormatan atas ketulusan keluarga tersebut.



    Dari peristiwa inilah kita memahami bahwa kepemimpinan moral dimulai dari pengorbanan, bukan dari kekuasaan.



    “Sayyidina Ali menunjukkan bahwa kepemimpinan sejati bukan kemampuan memerintah, tetapi keberanian menanggung beban lebih dahulu. Fatimah Az-Zahra menunjukkan bahwa kemuliaan bukan pada status sosial, melainkan pada ketulusan berbagi. Inilah model kepemimpinan etis yang melahirkan kepercayaan dan ketahanan peradaban,” ujar Haidar Alwi.



    Struktur Moral Al-Qur’an dan Sistem Perlindungan Sosial.


    Surat Al-Insan menyebut tiga kelompok sekaligus: miskin, yatim, dan tawanan. Ini bukan susunan yang kebetulan. Islam sejak awal membangun sistem perlindungan sosial yang menyentuh kelompok paling rentan.



    Bahkan tawanan, yang dalam banyak peradaban kuno diperlakukan tanpa hak, tetap diposisikan sebagai manusia yang harus dihormati dan diberi makan. Ini menunjukkan bahwa Islam tidak sekadar ajaran spiritual, tetapi desain moral bagi masyarakat yang adil.



    “Struktur ayat ini sangat sistematis. Ada nazar sebagai komitmen spiritual, ada kesadaran akan hari akhir sebagai landasan moral, lalu ada tindakan memberi sebagai konsekuensi sosial. Artinya, spiritualitas Islam bersifat produktif. Ia membentuk perilaku sosial yang konkret. Tanpa tindakan sosial, iman kehilangan daya transformasinya,” kata Haidar Alwi.



    Masalah banyak bangsa hari ini bukan pada kurangnya sumber daya, tetapi pada melemahnya karakter berbagi. Ketimpangan sosial bukan sekadar persoalan ekonomi, tetapi kegagalan moral kolektif. Ketika yang kuat tidak lagi merasa bertanggung jawab kepada yang lemah, di situlah retakan peradaban mulai terbentuk.



    Pelajaran Strategis bagi Indonesia.


    Indonesia adalah bangsa besar dengan sumber daya alam melimpah dan potensi ekonomi yang luas. Namun kekuatan material tanpa fondasi moral akan menghasilkan pertumbuhan yang rapuh. Surat Al-Insan mengingatkan bahwa keberlanjutan peradaban tidak ditentukan oleh seberapa banyak yang dimiliki, tetapi oleh seberapa adil ia mendistribusikan kepedulian.



    Sebagai pencetus Gerakan Nasional Rakyat Bantu Rakyat, Haidar Alwi menegaskan bahwa solidaritas sosial harus menjadi budaya nasional, bukan sekadar respons sesaat terhadap krisis.



    “Bangsa yang kuat bukan hanya bangsa yang kaya, tetapi bangsa yang memiliki keberanian moral untuk mendahulukan yang lemah. Jika pertumbuhan meningkat tetapi empati melemah, maka kita sedang membangun kemajuan yang kosong. Surat Al-Insan adalah pengingat bahwa keadilan sosial lahir dari pengorbanan, bukan dari slogan.



    Dari rumah sederhana Fatimah Az-Zahra dan kepemimpinan moral Sayyidina Ali bin Abi Thalib, kita belajar bahwa kekuatan sejati lahir dari kemampuan mengalahkan ego dan mendahulukan kepentingan bersama.



    “Surat Al-Insan bukan hanya kisah masa lalu, tetapi blueprint moral untuk masa depan bangsa. Jika Indonesia ingin berdiri kokoh dalam sejarah, maka fondasinya adalah etika berbagi, kepemimpinan yang berkorban, dan keberpihakan yang nyata kepada yang lemah,” pungkas Haidar Alwi.

    (NA)
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini