MANGGARAI, OpsJurnal.Asia — Pemulihan psikologis anak-anak terdampak gempa di Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), dilakukan melalui pendekatan pendidikan, psikososial, dan iman.
TelkomGroup Peduli bersama sejumlah pendamping dari komunitas keagamaan menggelar kegiatan trauma healing bagi anak-anak di wilayah Reok, Jumat (25/9/2026). Pendampingan tersebut dilakukan untuk anak-anak dari tiga agama, yakni Islam, Kristen, dan Katolik, dengan pendekatan sesuai keyakinan masing-masing.
Untuk anak-anak Katolik, pendampingan dilakukan bersama Orang Muda Katolik (OMK) Paroki Santa Maria Ratu Rosari Reo. Kegiatan diisi dengan permainan, nyanyian, doa bersama, serta refleksi dan meditasi.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian pendampingan pascagempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Laut Flores pada 15 Agustus 2026. Bencana tersebut turut berdampak terhadap aktivitas pendidikan dan kondisi psikologis peserta didik di sejumlah wilayah Flores.
Ketua OMK Paroki Santa Maria Ratu Rosari Reo, Filomena Rinaldi Andang, mengatakan kegiatan pendampingan melalui jalur iman menjadi ruang bagi anak-anak untuk beraktivitas, bermain, berdoa, sekaligus mengekspresikan perasaan setelah mengalami bencana.
"Ini sangat bagus dan luar biasa untuk anak-anak. Ada game dan permainan, nyanyian dan doa bersama. Saat meditasi, ada anak yang menangis, mungkin mengingat kembali hal-hal yang terjadi saat gempa mengguncang Flores," kata Filomena.
Menurut Filomena, respons emosional anak saat meditasi menunjukkan bahwa pengalaman bencana masih membekas bagi sebagian peserta didik. Karena itu, pendampingan perlu dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan sekolah, guru, komunitas keagamaan, dan pihak lainnya.
Pendampingan Berbasis Iman untuk Tiga Agama
Program trauma healing yang dilakukan TelkomGroup Peduli diarahkan kepada anak-anak dari tiga agama, yakni Islam, Kristen, dan Katolik. Pola pendampingannya disesuaikan dengan konteks keagamaan masing-masing.
Khusus bagi anak-anak Katolik, OMK Paroki Santa Maria Ratu Rosari Reo terlibat dalam pendampingan melalui kegiatan doa, nyanyian rohani, permainan, refleksi, dan meditasi.
Filomena mengatakan kegiatan serupa sebelumnya telah dilakukan di SDK Wangkung. Selanjutnya, kegiatan juga direncanakan berlangsung di SDK Reo 3.
Ia berharap program tersebut tidak berhenti pada satu kegiatan, tetapi dapat dilanjutkan dan menjangkau lebih banyak sekolah di Kecamatan Reok.
"Harapannya semoga kegiatan ini bermanfaat bagi kita semua dan bisa berkelanjutan. Guru-guru SDN Reo 1 dan SDN Reo 2 bisa membagikan pengetahuan yang sudah didapat kepada kami, agar kita bisa sama-sama mendampingi anak-anak sekolah yang ada di Kecamatan Reok," ujarnya.
Guru Didorong Teruskan Pengetahuan
Kepala SDN Reo 1, Fransiskus Sales Ma'u, menyampaikan terima kasih kepada TelkomGroup Peduli dan OMK yang telah hadir mendampingi anak-anak dalam kegiatan trauma healing.
Menurut Fransiskus, pelatihan yang sebelumnya diberikan kepada guru telah memberikan pengetahuan baru mengenai cara menciptakan lingkungan belajar yang lebih aman sekaligus mendukung kondisi psikologis peserta didik.
"Terima kasih kepada PT TelkomGroup Peduli dan OMK yang sudah hadir untuk mendampingi anak-anak SDN Reo 1 hari ini dalam kegiatan trauma healing," kata Fransiskus.
Ia berharap pengetahuan yang diperoleh para guru tidak berhenti setelah rangkaian pelatihan selesai. Metode tersebut, kata dia, perlu diterapkan dalam pembelajaran sehari-hari dan dibagikan kepada pihak lain agar manfaatnya semakin luas.
"Kami sudah banyak memperoleh pengetahuan baru. Harapannya, metode yang sudah didapat jangan berhenti sampai di sini, tetapi harus bisa diterapkan dalam pembelajaran ke depan dan dibagikan kepada orang lain," ujarnya.
Kegiatan trauma healing tersebut merupakan tindak lanjut dari pelatihan penguatan keterampilan dan dukungan psikososial yang sebelumnya diberikan TelkomGroup Peduli kepada guru SDN Reo 1 dan SDN Reo 2.
Dalam pelatihan tersebut, para guru mendapatkan pembekalan melalui tiga modul utama, yakni "Guru Menolong Dirinya Sebelum Menolong Orang Lain", "Pertolongan Pertama untuk Hati dan Pikiran", serta "Membangun Kelas yang Membuat Anak Merasa Aman". Pelatihan sebelumnya memang diarahkan untuk meningkatkan kesiapan guru dalam mendampingi peserta didik yang terdampak secara psikologis akibat bencana. (Ops Jurnal)
Metode Pembelajaran Mulai Diterapkan
Pengetahuan yang diperoleh guru kemudian mulai diterapkan dalam kegiatan pembelajaran. Sehari sebelumnya, Kamis (24/9/2026), guru SDN Reo 1 menerapkan metode pembelajaran berbasis aktivitas dengan membagi ruang belajar menjadi lima pos kegiatan atau station.
Lima aktivitas tersebut meliputi Aku dan Warnaku, Kota Impianku, Aku Bisa Membuat, Teman Baru, serta Baca, Gambar, dan Beristirahat.
Melalui metode tersebut, peserta didik diberikan ruang untuk memilih aktivitas sesuai minat dan kenyamanan mereka. Anak-anak dapat membaca, menggambar, mewarnai, bercerita, membuat karya origami, berinteraksi dengan guru, maupun melakukan kegiatan tenang dan beristirahat.
Penerapan metode tersebut menjadi bentuk praktik langsung dari pelatihan dukungan psikososial yang sebelumnya diberikan TelkomGroup Peduli kepada guru SDN Reo 1 dan SDN Reo 2. (info pertama)
Pemulihan Anak Dilakukan Bersama
Pemulihan pendidikan pascagempa tidak hanya berkaitan dengan keberlangsungan kegiatan belajar mengajar, tetapi juga perhatian terhadap kondisi psikologis peserta didik.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah juga menekankan bahwa dalam situasi bencana, pembelajaran perlu tetap berjalan dengan mengutamakan keselamatan serta rasa aman bagi anak. Pemulihan pendidikan membutuhkan kerja bersama antara sekolah, orang tua, masyarakat, pemerintah, dan berbagai pihak lainnya. (Kemendikdasmen)
Karena itu, pendampingan yang dilakukan TelkomGroup Peduli di Reok melibatkan pendekatan yang lebih luas, termasuk dukungan psikososial dan pendampingan melalui jalur iman. Untuk anak-anak dari masing-masing agama, pendampingan dilakukan dengan memperhatikan keyakinan dan kebutuhan mereka.
Bagi anak-anak Katolik, keterlibatan OMK menjadi bagian dari pendampingan tersebut melalui kegiatan yang memadukan permainan, nyanyian, doa, refleksi, dan meditasi.
Rangkaian kegiatan di SDN Reo 1 pada Jumat (25/9/2026) kemudian ditutup dengan foto bersama pihak sekolah dan TelkomGroup Peduli.
Pihak sekolah berharap pendampingan seperti ini dapat terus berlanjut dan menjangkau sekolah-sekolah lain di Kecamatan Reok. Dengan dukungan berkelanjutan dari guru, orang tua, komunitas keagamaan, pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat, anak-anak diharapkan dapat kembali merasa aman, nyaman, dan percaya diri dalam mengikuti proses pembelajaran setelah bencana.









