• Jelajahi

    Copyright © Ops Jurnal
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Iklan

    Halaman

    Diamnya Dandim 0611 Garut: Sebuah Keheningan Yang Menyayat Hati Di Tengah Kekacauan Keracunan MBG Garut

    Jumat, 24 Juli 2026, Juli 24, 2026 WIB Last Updated 2026-07-24T02:01:10Z
    masukkan script iklan disini

    GARUT - Opsjurnal.asia |LAPORAN KHUSUS: DEBU JALANAN GATRA CIBATU, KAMIS, 23 JULI 2026 — Di tengah jerit tangis orang tua, rintihan anak-anak yang terbaring lemah, dan kekacauan yang melanda Puskesmas Cibatu serta Dapur SPPG Sindangsuka, satu sosok hadir dengan keheningan yang justru mengguncang hati setiap orang yang melihatnya. Letkol Inf Fahrisal Efendi Sinaga, S.I.P., Komandan Distrik Militer 0611 Garut, melangkahkan kaki ke lokasi bencana ini bukan dengan teriakan atau pidato, melainkan dengan diam seribu bahasa yang memancarkan rasa sakit yang tak terlukiskan.


    Letkol Inf Fahrisal Efendi Sinaga, S.I.P. Turun Langsung Sidak Dapur Berbahaya dan Puskesmas Cibatu: Tak Ada Kata, Hanya Duka yang Meledak


    Langkah beliau berat, setiap langkah seolah menginjak hati kami semua. Mata yang biasanya tajam memandang medan perang, kini berkaca-kaca menyaksikan sisa-sisa makanan yang merenggut kesehatan puluhan anak bangsa. Mata itu menatap peralatan masak yang seharusnya menyiapkan gizi, namun kini menjadi saksi bisu kelalaian yang memilukan. Mata itu memandang wajah pucat para santri yang seharusnya sedang belajar, bukan terbaring menahan sakit yang tak tahu kapan berakhir.

     

    Beliau tak bicara. Tak ada pernyataan resmi, tak ada janji manis. Namun diamnya itu berteriak lebih keras dari apapun. Keheningan itu berteriak tentang betapa hancurnya hati seorang pemimpin ketika melihat amanah negara—yang seharusnya memberi kekuatan—justru menjadi sumber penderitaan yang luar biasa. Keheningan itu berbicara tentang betapa murkanya nurani melihat kelalaian yang berulang, melihat keselamatan anak-anak diremehkan begitu saja.

     


    Kami Debu Jalanan yang berdiri di pinggir lorong, melihat bagaimana tangan gagah beliau sesekali mengusap wajah, menahan amarah yang meluap-luap namun tertahan oleh rasa kemanusiaan yang sedalam samudera. Hadirnya beliau bukan sekadar inspeksi rutin. Hadirnya beliau adalah bukti nyata bahwa negara sedang merasakan sakit yang sama persis dengan rakyatnya. Bahwa duka yang melanda Cibatu hari ini adalah duka seluruh elemen bangsa.

     

    Diamnya Dandim Garut hari ini adalah peringatan keras yang paling mengerikan bagi siapa saja yang menganggap remeh nyawa manusia. Bahwa di balik keheningan itu, ada tanggung jawab yang tak akan dibiarkan begitu saja. Bahwa air mata yang jatuh hari ini, akan menjadi api yang membakar segala kelalaian dan ketidakpedulian.

     


    Dunia boleh bicara banyak soal prosedur dan laporan. Tapi di sini, di tengah bau obat dan tangis yang memecah kesunyian Cibatu, kehadiran beliau dengan segala kesedihan yang tertahan telah menyampaikan satu pesan yang tak terbantahkan: Keadilan harus ditegakkan, dan rasa sakit ini tidak akan dibiarkan sia-sia.


    (M.A. Zakariyya S.E)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini