• Jelajahi

    Copyright © Ops Jurnal
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Iklan

    Halaman

    KH. Rd. Amin Muhyiddin: Garut Utara Lepas Landas Lahir dan Batin, Menuju Daerah Maju dan Diberkahi

    Jumat, 26 Juni 2026, Juni 26, 2026 WIB Last Updated 2026-06-26T12:39:09Z
    masukkan script iklan disini

    Garut - Opsjurnal.asia - Wawancara dalam rangka silaturahmi di Pondok Pesantren Assa’adah, Jumat 26 Juni 2026. Suasana berlangsung sejuk, penuh kekeluargaan, dan sesekali diselingi candaan yang mencairkan suasana.

    Oleh: KH. Rd. Amin Muhyiddin

    Pimpinan Pondok Pesantren Assa’adah, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Limbangan, Ketua Dewan Penasehat PM GATRA, serta Rais Syuriah PCNU Kabupaten Garut

     


    Selama lebih dari dua dekade, aspirasi pembentukan wilayah otonomi di bagian utara Garut terus hidup di tengah masyarakat. Wacana ini sempat mengalami pasang surut, namun tidak pernah padam. Kini, semangat itu bangkit kembali dengan landasan pemikiran yang lebih matang, berpijak pada nilai agama, kearifan lokal, dan harapan tulus akan masa depan yang lebih baik. Berikut pandangan yang disampaikan:

     

    Bismillahirrahmanirrahim

     

    Allah SWT berfirman dalam QS. Ar-Ra’d ayat 11:

     

    “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”

     

    Ayat suci ini menjadi landasan utama pandangan saya. Pembentukan Kabupaten Garut Utara bukan sekadar urusan mengubah batas wilayah atau mengatur sistem administrasi semata. Lebih dari itu, ia merupakan ikhtiar bersama untuk mewujudkan kemaslahatan yang seluas-luasnya. Selama ini, jarak tempuh hingga dua hingga tiga jam ke pusat pemerintahan kabupaten dirasakan sebagai hambatan nyata dalam hal pelayanan publik dan pemerataan pembangunan. Oleh sebab itu, gagasan ini hadir sebagai jawaban atas kebutuhan riil yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

     

    Saya memaknai semangat ini dengan ungkapan: “Garut Utara Lepas Landas Lahir dan Batin.” Artinya, kemajuan yang kita dambakan harus berjalan seimbang dan tidak timpang. Pembangunan fisik serta peningkatan kesejahteraan ekonomi harus beriringan dengan penguatan iman, perluasan ilmu pengetahuan, serta pembinaan akhlak dan ketakwaan. Daerah boleh berkembang pesat, namun tali persaudaraan dan rasa saling peduli harus tetap terjaga sekuat akar pohon.

     


    Sebagai bagian dari masyarakat Limbangan dan wilayah sekitarnya, kita mewarisi falsafah luhur “Limbangan Ngadaun Ngora”. Secara hakiki, falsafah ini mengandung pesan bahwa setiap generasi memiliki tanggung jawab moral untuk meninggalkan kehidupan yang lebih baik bagi penerusnya. Nilai itu dapat kita terjemahkan dalam sikap: mewariskan ilmu, bukan kebodohan; mewariskan kedamaian, bukan perselisihan; mewariskan kesejahteraan, bukan kesengsaraan; serta mewariskan keteladanan, bukan sekadar janji tanpa bukti nyata.

     

    Pengalaman panjang dalam perjuangan ini mengajarkan satu kebenaran mendasar: kesabaran dan keteguhan hati jauh lebih kuat daripada luapan emosi sesaat; bermusyawarah untuk mencapai mufakat adalah jalan yang paling mulia; dan persatuan memiliki nilai yang jauh lebih tinggi daripada kepentingan pribadi maupun golongan. Setiap langkah yang diambil perlu senantiasa disertai doa dan keyakinan, mengingat pertolongan Allah SWT hanya akan diberikan kepada hamba-hamba-Nya yang tetap istiqamah di jalan kebaikan.

     

    Jika ditinjau dari sisi potensi, wilayah ini memiliki modal dasar yang sangat kuat: kekayaan sumber daya alam yang melimpah, masyarakat dengan kesadaran beragama yang tinggi, lembaga pendidikan keagamaan yang terus tumbuh, serta keberadaan para ulama dan tokoh yang senantiasa menjadi penuntun. Namun di balik segala kekayaan itu, modal terbesar yang kita miliki adalah manusianya sendiri — yaitu warga yang beriman, jujur, dapat dipercaya, berilmu, serta memiliki rasa cinta dan tanggung jawab terhadap tanah kelahiran.

     


    Oleh karena itu, saya mengajak seluruh lapisan masyarakat, tokoh agama, pemuka adat, dan seluruh elemen pendukung untuk senantiasa menjaga keutuhan persatuan. Jadikanlah perjuangan ini sebagai sarana pengabdian dan ladang amal, bukan sebagai ajang untuk meraih kedudukan atau keuntungan pribadi. Semakin besar amanah yang dipikul, semakin besar pula tanggung jawab yang harus dipertanggungjawabkan, baik kepada sesama manusia maupun kepada Sang Pencipta.

     

    Harapan yang ingin kita wujudkan tidak terbatas hanya pada terbentuknya daerah otonomi baru secara administratif semata. Lebih dari itu, kita mendambakan agar kelak Garut Utara dapat menjadi Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur — sebuah wilayah yang aman, makmur, penuh keberkahan, dan penduduknya diampuni segala kesalahan oleh Allah SWT.

     

    Semoga Allah SWT meridai setiap langkah ikhtiar kita, menjaga persatuan dan kesatuan, serta menjadikan Garut Utara sebagai daerah yang memberi manfaat luas bagi seluruh warganya.

    Wallāhu a’lam bish-shawāb.


    Catatan Redaksi:

    - Tulisan ini merupakan pendapat pribadi narasumber dan tidak mewakili sikap resmi lembaga atau organisasi apa pun.

    - Isi dan pandangan yang disampaikan menjadi tanggung jawab sepenuhnya narasumber.

    - Rubrik opini ini disajikan sebagai salah satu sudut pandang yang berkembang di tengah masyarakat; media tetap membuka ruang bagi pandangan lain yang berbeda sesuai prinsip kebebasan dan tanggung jawab pers.

    - Penulisan disesuaikan dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) serta mengacu pada Kode Etik Jurnalistik yang berlaku.

     

    (M.A. Zakariyya, S.E.)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini