• Jelajahi

    Copyright © Ops Jurnal
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Iklan

    Halaman

    Jembatan Peninggalan Belanda Terbakar, Petani Bubulan Kesulitan Angkut Hasil Panen

    Jumat, 12 Juni 2026, Juni 12, 2026 WIB Last Updated 2026-06-12T05:16:56Z
    masukkan script iklan disini


    Bojonegoro, Jatim - Ratusan petani jagung di kawasan hutan Dusun Maor, Desa Clebung, Kecamatan Bubulan dilanda kecewa.

    Jembatan Puspo yang menjadi akses utama menuju lahan pertanian terbakar pada Rabu sore.

    Jembatan tua peninggalan zaman Belanda itu hangus dilalap api hingga sebagian menjadi arang.

    Belum diketahui siapa pelaku maupun penyebab pasti kebakaran yang terjadi di tengah hutan itu.

    Lokasi jembatan berada di wilayah KRPH Tretes, KPH Bojonegoro, jauh dari permukiman warga.

    Warga baru mengetahui kejadian tersebut saat kobaran api sudah membesar dan sulit dikendalikan.

    Api dengan cepat membakar balok kayu jati yang selama puluhan tahun menjadi lantai jembatan.

    Susilo, warga Dusun Maor, berusaha memadamkan api bersama seorang rekannya di lokasi.

    Mereka hanya mengandalkan alat semprot air sederhana untuk melawan kobaran yang membesar.

    Namun upaya tersebut tidak berhasil karena api terlanjur besar dan angin bertiup cukup kencang.

    "Sudah saya semprot, tetapi tidak bisa mengatasi karena api sudah besar," ujar Susilo, 12 Juni 2026.

    Di kalangan warga, jembatan itu dikenal dengan nama Jembatan Puspo yang bersejarah panjang.

    Menurut warga, jembatan tersebut dibangun pada masa penjajahan Belanda ratusan tahun lalu.

    Dahulu jembatan itu menjadi jalur rel loko untuk mengangkut kayu hasil hutan jati.

    Setelah rel tidak digunakan, jembatan dimanfaatkan warga sebagai akses menuju ladang hutan.

    Petani dari Clebung, Ngorogunung, Sumberbendo, hingga Cancung melintasi jalur tersebut.

    Akses itu menjadi urat nadi bagi kegiatan pertanian dan peternakan masyarakat sekitar hutan.

    Akibat kebakaran itu, hasil panen jagung yang sudah dipetik tidak bisa segera diangkut pulang.

    Duwi, petani asal Desa Ngorogunung, mengaku sangat sedih atas musibah tersebut.

    Sebagian jagung miliknya sudah berhasil diangkut, namun sisanya masih tertahan di ladang.

    "Yang sudah saya angkut ada, tetapi di ladang masih banyak yang belum dibawa pulang," katanya.

    Menurut Duwi, jembatan sepanjang sekitar 12 meter itu merupakan satu-satunya akses utama.

    Jembatan juga menjadi penghubung kawasan hutan dengan jalur menuju Kecamatan Gondang.

    Meski bagian kayu terbakar, warga menilai pondasi dan kerangka besi masih cukup kokoh.

    Empat balok besi utama terlihat masih berdiri dan belum mengalami kerusakan berat.

    Karena itu, warga berharap jembatan tersebut dapat segera diperbaiki atau dibangun kembali.

    Para petani memohon perhatian Pemerintah Kabupaten Bojonegoro atas musibah tersebut.

    Mereka berharap akses pertanian dapat segera pulih demi kelancaran aktivitas ekonomi warga.

    "Kami memohon bantuan Pak Bupati Wahono untuk membangun kembali jembatan ini," ujar Duwi.

    Harapan itu kini menggantung di tengah hutan, bersama panen jagung yang belum bisa pulang. [Agus].
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini