Bojonegoro, Jatim | OpsJurnal.Asia.
Opini, - Keberhasilan program pemberdayaan tidak cukup diukur dari banyaknya bantuan yang disalurkan kepada masyarakat.
Akademisi menilai Program Gayatri perlu dievaluasi berdasarkan manfaat yang masih dirasakan hingga saat ini.
Pertanyaan pentingnya sederhana, berapa banyak ayam bantuan yang masih dipelihara dan tetap produktif?
Di sejumlah wilayah, muncul informasi bahwa sebagian penerima manfaat telah menjual ayam maupun kandangnya.
Jika terjadi secara luas, kondisi tersebut patut menjadi bahan evaluasi terhadap tujuan pemberdayaan jangka panjang.
Persoalan lain muncul pada pemasaran telur hasil produksi yang dihasilkan oleh penerima manfaat program.
Sebagian pemanfaat disebut kesulitan menjual telur karena belum tersedianya pasar yang stabil dan berkelanjutan.
Akibatnya, produksi berjalan, namun keuntungan yang diharapkan tidak selalu dapat dirasakan oleh warga.
Telur ayam Gayatri juga menghadapi persaingan dari produk luar daerah dengan harga yang lebih kompetitif di pasar.
Persaingan tersebut membuat sebagian penerima manfaat kesulitan mendapatkan pembeli secara konsisten.
Masalah lain yang kerap dikeluhkan pemanfaat adalah tingginya biaya pakan ternak ayam petelur.
Dalam usaha peternakan, pakan merupakan komponen biaya terbesar yang menentukan produktivitas ayam.
Ketika harga pakan naik, sementara penjualan telur tidak lancar, pemanfaat menghadapi tekanan ganda.
Sebagian pemanfaat akhirnya memberikan pakan seadanya sesuai kemampuan keuangan yang dimiliki.
Dampaknya tidak hanya pada jumlah produksi, tetapi juga kualitas telur yang dihasilkan ayam Gayatri.
Di lapangan muncul keluhan bahwa ukuran telur yang dihasilkan relatif kecil dan kurang diminati pasar.
Pedagang maupun konsumen umumnya lebih memilih telur dengan ukuran seragam dan sesuai standar pasar.
Ketika ukuran telur lebih kecil, daya saing produk menjadi menurun dibanding telur dari peternakan besar.
Akibatnya harga jual menjadi rendah, bahkan tidak sedikit yang kesulitan menemukan pembeli tetap.
Kondisi tersebut menciptakan lingkaran persoalan yang sulit diputus oleh para penerima manfaat.
Karena telur sulit terjual, pendapatan menurun dan kemampuan membeli pakan berkualitas ikut melemah.
Ketika pakan berkualitas tidak terpenuhi, produktivitas ayam kembali menurun dan kualitas telur ayam turun.
Situasi itu menunjukkan bahwa persoalan program Gayatri tidak bisa dilihat hanya dari jumlah ayam yang dibagikan.
Program pemberdayaan membutuhkan ekosistem yang utuh mulai produksi, pakan, pendampingan hingga pasar.
Kesulitan pemasaran bahkan memunculkan kebijakan yang menarik perhatian publik di Kabupaten Bojonegoro.
Pemerintah daerah diketahui menerbitkan surat edaran yang mendorong ASN atau PNS membeli telur Gayatri.
Dalam skema tersebut, setiap ASN diharapkan membeli sekitar dua kilogram telur Gayatri setiap bulan.
Kebijakan itu memunculkan pertanyaan kritis di tengah masyarakat dan kalangan akademisi.
Jika sebuah program telah dirancang matang sejak awal, mengapa harus ditopang oleh pasar internal birokrasi?
Jika produk mampu bersaing secara kualitas dan harga, semestinya pasar terbentuk secara alami.
Ketergantungan pada pembelian ASN justru memunculkan kesan bahwa rantai pemasaran belum kokoh.
Publik pun bertanya, apakah program ini sedang tumbuh menuju kemandirian atau justru bergantung pada intervensi?
Pertanyaan tersebut menjadi penting karena Gayatri selama ini digadang sebagai program unggulan daerah.
Semakin besar anggaran dan ekspektasi yang dibangun, semakin besar pula tuntutan evaluasi yang objektif.
Karena itu, evaluasi program sebaiknya tidak hanya mengandalkan laporan administrasi di atas kertas.
Pemerintah dapat melakukan pengecekan langsung terhadap kondisi ayam Gayatri di rumah penerima manfaat.
Data lapangan dapat menunjukkan berapa kandang yang masih aktif dan berapa yang sudah tidak beroperasi.
Setiap desa dapat dihitung jumlah penerima, jumlah yang bertahan, dan jumlah yang tidak lagi menjalankan usaha.
Misalnya dalam satu desa terdapat 10 penerima manfaat Gayatri, namun hanya 4 yang masih aktif dan produktif.
Itu artinya, tingkat keberhasilan program baru mencapai 40 persen, sementara 60 persen lainnya layak dievaluasi.
Jika pola serupa ditemukan di banyak desa, maka klaim keberhasilan perlu diuji melalui data lapangan yang nyata.
Sebab keberhasilan bukan diukur dari banyaknya bantuan yang dibagikan, melainkan yang mampu bertahan.
Pendataan semacam ini penting agar publik mengetahui kondisi riil Gayatri, bukan sekadar angka laporan.
Metode yang sama dapat diterapkan pada tingkat kecamatan untuk memperoleh gambaran yang lebih menyeluruh.
Hasil tiap kecamatan kemudian direkap menjadi data tingkat kabupaten sebagai bahan evaluasi objektif.
Pendekatan berbasis angka jauh lebih akurat dibanding klaim keberhasilan tanpa verifikasi lapangan.
Publik berhak mengetahui berapa persen program berjalan sesuai tujuan dan berapa persen yang gagal.
Evaluasi bukan untuk mencari kesalahan, melainkan memastikan uang rakyat menghasilkan manfaat nyata atau tidak?
Yang menjadi perhatian, mengapa program yang digadang menggerakkan ekonomi rakyat menghadapi banyak kendala?
Mulai dari ayam yang dijual, telur sulit dipasarkan, pakan mahal hingga kualitas telur yang kurang bersaing.
Persoalan tersebut menunjukkan bahwa tantangan Gayatri tidak hanya berada pada aspek produksi semata.
Masalah sesungguhnya terletak pada keberlanjutan usaha, akses pasar, dan kekuatan ekosistem pendukung.
Ketika pemasaran tersendat, pendapatan menurun dan kemampuan membeli pakan berkualitas ikut melemah.
Saat pakan berkualitas berkurang, produksi menurun dan ukuran telur menjadi sulit memenuhi standar pasar.
Akibatnya, telur makin sulit terjual dan pemanfaat kembali terjebak dalam lingkaran persoalan yang sama.
Pertanyaan kritisnya, mengapa program unggulan masih memerlukan dukungan pasar dari kalangan ASN?
Jika pondasi usaha telah kokoh, semestinya produk mampu bersaing dan menemukan pasarnya secara mandiri.
Gayatriii... Oh Gayatri?
Apakah ini kisah keberhasilan pemberdayaan rakyat atau peringatan bahwa ada yang perlu dibenahi?
Jawaban atas pertanyaan itu tidak berada di atas meja laporan, melainkan di kandang para pemanfaat.
Di sanalah publik dapat melihat sendiri, berapa yang masih bertahan dan berapa yang telah menyerah.
Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan bukanlah jumlah ayam yang dibagikan, melainkan yang bertelur.
Bukan pula banyaknya kandang yang dibangun, melainkan berapa keluarga yang benar-benar sejahtera. [Agus].

