• Jelajahi

    Copyright © Ops Jurnal
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Iklan

    Halaman

    Bojonegoro Darurat Keselamatan Sungai

    Kamis, 25 Juni 2026, Juni 25, 2026 WIB Last Updated 2026-06-25T11:56:57Z
    masukkan script iklan disini


    Bojonegoro, Jatim | Opini - Bengawan Solo kembali menagih nyawa di Kabupaten Bojonegoro. Dalam dua hari, dua warga tenggelam dan pulang sebagai jenazah.

    Kedua peristiwa itu bukan sekadar kabar duka. Lebih dari itu, ia menegaskan ancaman sungai masih diperlakukan biasa.

    Korban pertama adalah Ahmad Alfa Roby Falahudin, 18 tahun, warga Desa Kuncen, Kecamatan Padangan, Bojonegoro.

    Ia dilaporkan hilang saat berenang di tambangan Bengawan Solo, wilayah Desa Betet, Kecamatan Kasiman, Selasa pagi.

    Setelah pencarian dilakukan, jasad remaja itu ditemukan Tim SAR pada Rabu pagi sekitar pukul 10.15 WIB.

    Tubuh korban ditemukan mengapung tak jauh dari titik awal ia dilaporkan hilang terseret arus Bengawan Solo.

    Duka itu belum reda. Namun demikian, Bengawan Solo kembali memakan korban lain pada malam yang nyaris bersamaan.

    Kali ini, korban adalah Muhadi, 31 tahun, warga Dusun Payaman, Desa Payaman, Kecamatan Ngraho, Bojonegoro.

    Muhadi dilaporkan tenggelam pada Selasa malam sekitar pukul 22.30 WIB saat mencari ikan di aliran sungai.

    Pencarian maraton lalu dilakukan BPBD, Basarnas, TNI, Polri, dan relawan gabungan di sekitar lokasi kejadian.

    Hasilnya, jasad Muhadi ditemukan pada Kamis pagi sekitar pukul 09.15 WIB dalam kondisi telah meninggal dunia.

    Korban ditemukan mengambang sekitar 1,5 kilometer dari titik awal tenggelam, lalu dievakuasi ke pihak keluarga.

    Secara peristiwa, semuanya seolah selesai setelah jasad ditemukan. Akan tetapi, persoalan publiknya belum usai.

    Sebab, dua korban dalam dua hari tak layak dibaca sebagai musibah yang berdiri sendiri tanpa konteks yang lebih besar.

    Rentetan ini patut dipandang sebagai alarm keras atas lemahnya perlindungan di ruang hidup warga bantaran sungai.

    Bengawan Solo bukan sekadar aliran air yang membelah Bojonegoro. Ia juga ruang hidup yang dipakai setiap hari.

    Di banyak titik, sungai ini menjadi tempat mandi, mencari ikan, menyeberang, bekerja hingga sekadar tempat melepas penat.

    Namun justru di situlah letak soal yang selama ini terasa luput dari perhatian pemerintah dan lingkungan sekitar.

    Aktivitas warga di bantaran sungai berjalan rutin, sedangkan mitigasi risikonya belum tampak sekuat ancamannya.

    Imbauan agar warga waspada memang penting. Kendati demikian, peringatan saja tak cukup jika sistemnya masih lemah.

    Jika arus bawah Bengawan Solo dikenal sulit diprediksi, penanganannya tak boleh berhenti pada imbauan musiman.

    Yang dibutuhkan bukan sekadar reaksi setelah korban tenggelam, melainkan pencegahan sebelum nyawa kembali hilang.

    Tambangan, titik pencarian ikan, dan lokasi berenang semestinya dipetakan sebagai kawasan rawan yang diawasi.

    Setidaknya, titik rawan itu perlu diberi penanda, peringatan bahaya, serta edukasi keselamatan yang terus diulang.

    Di sisi lain, pemerintah desa hingga kabupaten perlu menyusun pola edukasi rutin bagi warga bantaran sungai.

    Terutama bagi remaja dan pencari ikan yang paling sering bersentuhan langsung dengan arus Bengawan Solo.

    Sebab, korban tenggelam tidak selalu lahir dari kelalaian pribadi. Ada ruang abai yang lebih besar di baliknya.

    Ruang abai itu bernama minimnya sistem keselamatan di ruang publik yang jelas-jelas menyimpan risiko tinggi.

    Ironisnya, tragedi semacam ini berulang dengan pola serupa. Korban jatuh, pencarian digelar, lalu semua berlalu.

    Padahal, setiap kematian di sungai semestinya menjadi bahan evaluasi terbuka, bukan sekadar catatan insidental.

    Dari lokasi kejadian, jam rawan, jenis aktivitas, hingga kebutuhan pos siaga, semuanya perlu dibaca serius.

    Karena itu, BPBD, pemkab, aparat desa, dan unsur terkait semestinya duduk bersama menyusun langkah terukur.

    Bojonegoro tak boleh terus menunggu korban berikutnya hanya untuk kembali mengingat bahaya Bengawan Solo.

    Maka, dua nyawa yang hilang dalam dua hari harus dibaca sebagai peringatan keras, bukan sekadar musibah.

    Pada akhirnya, keselamatan warga bantaran sungai tak bisa diserahkan pada nasib atau kewaspadaan pribadi semata.

    Ia membutuhkan sistem, peta risiko, pengawasan, dan keberpihakan nyata agar Bengawan Solo tak terus memakan korban. [Agus]
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini