
Ribuan warga tergabung dalam aksi Unjuk Rasa PPMM (Muba) Kembali Menggelar aksi damai di depan kantor Bupati Musi Banyuasin.
Sekayu, Musi Banyuasin, Opsjurnal.asia–
Ribuan masyarakat yang menggantungkan hidup dari penyulingan minyak tradisional di Musi Banyuasin kembali turun kejalan lagi, kali ini aksi unjuk rasa lanjutan sebagai bentuk aspirasi rakyat dalam aksi damai digelar di depan Kantor Bupati Musi Banyuasin, Selasa (09/06/2026).
Ini adalah aksi lanjutan sebagai bentuk protes atas terus berlangsungnya razia dan penindakan yang mereka nilai telah melumpuhkan sumber penghidupan ribuan warga.
Upaya mediasi sebelumnya dinilai gagal belum membuahkan hasil nyata, dalam memberi jawaban yang jelas atas nasib mereka.
Kesepakatan yang diharapkan tidak kunjung tercapai, sehingga tuntutan utama mereka tetap belum terjawab.
Dalam orasi tersebut rakyat berteriak satu tuntutan utama yakni hentikan razia dan penindakan yang disebut mematikan sumber penghidupan ribuan keluarga bercimpung minyak tradisional.
Ketua umum PPMM, Redi Gustro menyampaikan secara tegas tuntutan utama dalam aksi kali ini. Ia meminta Pemda dan Kapolres muba segera mencabut Surat perintah yang menjadi dasar dilakukannya operasi penertiban tersebut.
" Kami minta agar surat perintah itu dicabut dan razia dihentikan. Polri harus kembali menjalankan tugas pokok nya, bukan menindak aktivitas yang menjadi tumpuan hidup kami. Jangan sampai kendaraan angkutan kami terus ditangkap, karna hal itu sama saja mematikan usaha dan mata pencaharian kami," tegas Redi dihadapan aksi unjuk rasa.
Sejak razia digencarkan, dampaknya terasa langsung. Roda perekonomian warga yang bergantung pada sektor ini nyaris berhenti total.
" kondisi ekonomi kami benar-benar terhenti, kami hanya meminta agar penindakan ini dihentikan sementara, sambil menunggu pemerintah memberikan solusi yang jelas dan adil agar kami tetap bisa mencari nafkah," ungkapnya.
Redi menjelaskan betapa vitalnya sektor ini bagi masyarakat musi banyuasin, data yang dihimpun menunjukkan aktivitas penyulingan minyak tradisional menopang kehidupan puluhan ribu jiwa, mulai dari pekerja langsung hingga sektor pendukung seperti transportasi dan perdagangan.
" Dari satu tungku penyulingan saja, bisa menghidupin lima kepala keluarga. Sementara di seluruh muba, tercatat ada 1.200 tungku yang tersebar luas artinya puluhan ribu jiwa menggantungkan nasibnya disini, disektor ini sangat besar.
" Bayangkan, betapa banyak keluarga yang terancam tidak bisa makan kalau usaha ini terus dibatasi," tegasnya.
Pihaknya memberikan peringatan tegas, jika hingga saat ini tidak ada tanggapan maupun solusi nyata dari pemerintah, mereka akan kembali turun mengerahkan massa yang jauh lebih besar dalam aksi berikutnya.
" Kalau suara kami tidak di dengar, kami siap menggelar aksi yang lebih besar lagi," tandasnya.
Menanggapin hal tersebut, Sekda Musi Banyuasin Drs. Syafaruddin menyatakan bahwa pemerintah bersama Polres Musi Banyuasin masi mendalami dan membahas aspirasi yang disampaikan.
" saat ini masi dalam proses pembahasan bersama Polres Muba," ungkapnya singkat.
Diliput Media: Imam Kasogi, S.A.P., SH.
Kepala Biro Opsjurnal Musi Banyuasin.

