• Jelajahi

    Copyright © Ops Jurnal
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Iklan

    Halaman

    Potensi Berkelas Kepulauan Mentawai , Luncurkan City Branding Resmi di Acara Antam Presents Jakarta Marketing Week2026

    Sabtu, 09 Mei 2026, Mei 09, 2026 WIB Last Updated 2026-05-09T11:14:55Z
    masukkan script iklan disini




    Jakarta,OpsJurnal.Asia -


    Bupati Kepulauan Mentawai Rinto Wardana bersama pihak terkait saat Launching of City Branding Kabupaten Kepulauan Mentawai 


     Kabupaten Kepulauan Mentawai, Provinsi Sumatra Barat mengembangkan wisata berbasis budaya dan surfing kelas dunia. Sedangkan 'Sikerei' sebagai suku asli Mentawai menjadi ikon wisata daerah tersebut.


    Bupati Kepulauan Mentawai Rinto Wardana mengatakan pengembangan pariwisata di daerahnya tidak boleh hanya berorientasi pada kunjungan wisata semata. Menurutnya, pariwisata juga harus menghadirkan pengalaman yang berkesan bagi wisatawan.


    “Yang diingat wisatawan itu adalah experience-nya, keasliannya. Karena itu kita mesti beyond tourism,” kata Bupati dalam Launching of City Branding Kabupaten Kepulauan Mentawai, Kamis 7 Mei 2026 di Jakarta.Terkait Sikerei, menurut Rinto, Sikerei memiliki posisi penting dalam kehidupan masyarakat Mentawai. Sikerei dikenal sebagai tabib tradisional yang mampu mengobati masyarakat menggunakan ramuan dari tumbuh-tumbuhan alami yang tersedia di hutan Mentawai.


    “Sikerei menjadi tokoh dan orang bijak di Mentawai. Sikerei adalah ikon Mentawai yang tidak dapat dilepaskan dari identitas masyarakat Mentawai,” ujarnya.Rinto menjelaskan, untuk menjadi seorang Sikerei terdapat tahapan adat dan sejumlah pantangan yang harus dijalani. Salah satunya adalah memanjangkan rambut dan tidak diperbolehkan mengonsumsi sayur pakis selama menjalani proses tersebut.


    Selain budaya, Pemerintah Kabupaten Mentawai juga menaruh perhatian besar terhadap pengembangan wisata selancar atau surfing. Mentawai yang memiliki puluhan titik ombak dinilai berpotensi menjadi destinasi surfing kelas dunia.


    “Kita ingin menjadikan Mentawai dengan 78 spot ombak sebagai ibu kota surfing dunia,” ujarnya. Menurut dia, Mentawai telah dikenal luas oleh peselancar dunia karena kualitas ombaknya yang dinilai setara dengan destinasi surfing internasional lainnya.


    “Belum diakui menjadi surfer mendunia kalau belum menjajal surfing Mentawai,” ujarnya. Namun demikian, ia mengakui masih terdapat sejumlah pekerjaan rumah yang harus diselesaikan pemerintah daerah.


    Terutama terkait infrastruktur pendukung pariwisata seperti pelabuhan, bandara, dan akomodasi wisata. “Kita tidak bisa bekerja sendiri, karena itu kami mengajak semua pihak datang dan bersama-sama membangun pariwisata Mentawai,” ucapnya.Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Barat (Sumbar) menyebut Kabupaten Kepulauan Mentawai semakin meningkatkan daya tarik wisatanya dengan memperkokoh identitas daerah menjadi lokasi berselancar kelas dunia lewat peluncuran city branding.


    "Mentawai sudah mulai melakukan branding surfing," kata Kepala Dinas Pariwisata Sumbar Lila Yanwar di Kota Padang, Kamis.


    Pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai secara resmi mengenalkan identitas daerah itu lewat kegiatan city branding pada Kamis malam (7/5) di Jakarta, sebagai upaya terus mengenalkan Kepulauan Mentawai yang memiliki berbagai kekayaan alam, terutama surfing, kepada dunia internasional.


    Menurut Lila, untuk mendukung penguatan aspek pariwisata di pulau terluar Indonesia barat itu, masih perlu penguatan infrastruktur pendukung seperti kesiapan Bandara Udara Mentawai, hotel atau penginapan, sarana dan prasarana lainnya.Berdasarkan koordinasi antara Dinas Pariwisata Sumbar dengan Menteri Pariwisata, perlu penambahan landasan pacu Bandara Mentawai yang saat ini hanya 1.500 x 30 meter. Artinya, bandara itu hanya dapat dilandasi pesawat jenis ATR 72-600.


    Penambahan landasan pacu tersebut ditujukan agar ke depannya pesawat dengan ukuran atau kapasitas yang lebih besar bisa mendarat atau lepas landas di Mentawai.


    Kemudian, setelah adanya pengenalan city branding, Pemprov Sumbar bersama Pemerintah Kabupaten Kepulauan Mentawai akan mencoba memperluas pasar turis mancanegara.


    "Kita juga akan sounding dengan pasar (wisatawan) di Australia karena mereka yang paling banyak datang ke Mentawai untuk surfing," ujar dia.Terpisah, anggota DPD RI Irman Gusman menyarankan agar Kepulauan Mentawai menjadi salah satu sektor andalan pariwisata Sumbar, karena besarnya potensi yang dimiliki Bumi Sikerei. Sebagai contoh, daerah tersebut merupakan salah satu tempat terbaik untuk olahraga surfing.


    "Pulau terluar Indonesia di bagian barat ini juga memiliki kekayaan budaya termasuk keunikan yang tidak dimiliki daerah lain," kata Irman.Di panggung megah pusat perbelanjaan ibu kota, nama Kepulauan Mentawai akan disebut bukan sebagai daerah terpencil di barat Sumatra, melainkan sebagai wilayah yang tengah menata masa depan, Kamis malam, 7 Mei 2026, Mentawai dijadwalkan meluncurkan city branding resminya dalam forum ANTAM Presents Jakarta Marketing Week 2026 di Grand Atrium Kota Kasablanka, Jakarta.


    Peluncuran itu menghadirkan tokoh pemasaran nasional Hermawan Kartajaya sebagai moderator, serta Bupati Mentawai, Rinto Wardana sebagai pembicara utama. Pada saat yang sama, publik juga akan disuguhi penampilan Tari Turuk Langgai dan kehadiran Sikerei, dua simbol budaya yang merepresentasikan akar peradaban Mentawai. 

    Bagi sebagian daerah, city branding kerap berhenti pada slogan dan logo. Namun bagi Mentawai, peluncuran ini memiliki makna lebih dalam, usaha memperkenalkan jati diri, membangun kebanggaan warga, sekaligus memposisikan diri di peta pariwisata global.


    Mentawai sesungguhnya telah lama dikenal dunia. Ombak di perairannya menjadi tujuan para peselancar internasional sejak puluhan tahun lalu. Nama Mentawai beredar dari komunitas selancar ke komunitas selancar lain, lebih dahulu dikenal mancanegara ketimbang sebagian wilayah lain di Indonesia. Namun pengakuan itu selama ini tumbuh secara alami, belum sepenuhnya ditopang identitas resmi yang terarah.Melalui branding baru yang mengusung narasi The Sacred Ground of Surfing, Mentawai hendak menegaskan posisi uniknya, bukan sekadar tempat berselancar, tetapi ruang budaya dan alam yang memiliki hubungan spiritual dengan laut, ombak dan tradisi masyarakatnya.


    Konsep seperti ini sejalan dengan pendekatan yang selama ini diperkenalkan Hermawan Kartajaya. Menurut pakar pemasaran tersebut, city branding harus dibangun dari keunikan yang tak dimiliki daerah lain. Daerah tidak cukup hanya lebih baik, tetapi harus berbeda, relevan, dan memiliki cerita yang kuat.


    Dalam konteks itu, Mentawai memiliki modal langka. Gugusan pulau eksotis, hutan tropis, tradisi leluhur yang masih hidup, serta reputasi ombak kelas dunia adalah kombinasi yang sulit ditiru destinasi lain.


    Ketua Tim Pengembangan dan Pemberdayaan Desa Wisata Sumatera Barat, M. Zuhrizul, menilai momentum ini dapat menjadi titik balik kebangkitan pariwisata Sumatra Barat.


    Menurutnya, setelah daerah menghadapi berbagai tekanan akibat bencana dan perlambatan sektor wisata, Mentawai berpotensi tampil sebagai motor pertumbuhan baru.


    Ia mendorong agar pemerintah pusat memperbanyak agenda nasional maupun internasional di Sumatra Barat. Menurut dia, eksposur global sangat penting untuk mengangkat daya saing destinasi.Namun branding, katanya, harus berjalan seiring dengan perbaikan akses.


    Salah satu usulan yang disuarakan adalah pengembangan Bandara Rokot agar berstatus internasional. Dengan konektivitas udara yang lebih baik, wisatawan mancanegara tidak lagi menghadapi jalur panjang dan berlapis untuk mencapai Mentawai.


    Jika akses terbuka, dampaknya diyakini akan menjalar ke banyak sektor, hotel tumbuh, transportasi bergerak, UMKM hidup, dan lapangan kerja baru tercipta bagi anak-anak muda Sumatra Barat.


    “Menjadikan Mentawai sebagai episentrum pariwisata Indonesia bagian barat adalah mimpi besar Sumatera Barat,” ujar Zuhrizul.


    Di balik kalimat itu tersimpan harapan yang sederhana namun penting: agar daerah kepulauan yang lama berada di pinggir peta pembangunan, kini berdiri di tengah panggung perhatian.


    Peluncuran city branding Mentawai di Jakarta bukan akhir dari proses, melainkan awal pekerjaan panjang. Sebab identitas yang diumumkan di panggung harus dibuktikan di lapangan melalui pelayanan yang baik, lingkungan yang terjaga, budaya yang dihormati, dan kesejahteraan warga yang meningkat.


    Jika itu berhasil, maka Mentawai tidak hanya dikenal karena ombaknya. Ia akan dikenang sebagai daerah yang mampu mengubah potensi alam menjadi masa depan

    (na)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini