Bojonegoro Jatim | OpsJurnal.Asia
Forum Group Discussion (FGD) atau diskusi kelompok terarah menjadi awal Pemerintah Kabupaten Bojonegoro menyusun arah baru pembangunan.
FGD yang digelar 30 April itu mempertemukan pemerintah dan berbagai pihak untuk menyusun visi daerah.
Pemerintah tak lagi ingin Bojonegoro sekadar menjadi daerah lintasan di jalur antarwilayah di Jawa Timur.
Masterplan disusun untuk membentuk pusat ekonomi baru, wisata kesehatan, hingga geopark kelas dunia.
Kecamatan Padangan menjadi salah satu poros utama dalam rancangan pembangunan jangka panjang tersebut.
Wilayah yang dulu menjadi ibu kota pertama Kabupaten Bojonegoro itu diarahkan sebagai kawasan wisata kesehatan.
Rumah sakit Padangan diproyeksikan berkembang menjadi rumah sakit modern dengan lahan lebih dari enam hektare.
Layanan kesehatan itu disiapkan untuk menjangkau warga Bojonegoro, Blora, Cepu, hingga Ngawi.
Konsep Senior Citizen Wellness dan Eco Health Center disiapkan untuk pengembangan tahun 2026–2028.
Nuansa budaya Samin juga akan dimasukkan agar kawasan tetap memiliki identitas lokal yang kuat.
Di sisi timur, Kecamatan Baureno dipersiapkan menjadi gerbang utama Bojonegoro dari arah kota Surabaya.
Baureno diarahkan menjadi pusat wisata belanja yang menghubungkan pasar rakyat dan ritel modern.
Pemkab Bojonegoro juga merancang pembangunan rumah sakit kelas D agar warga perbatasan tak keluar mencari layanan kesehatan.
Penataan kawasan depan pasar menjadi fokus awal demi memperbaiki estetika dan arus lalu lintas.
Selain Padangan dan Baureno, empat kecamatan lain juga masuk dalam peta pembangunan strategis.
Kecamatan Kedungadem diproyeksikan menjadi pusat agroindustri pangan penyangga ketahanan daerah.
Kecamatan Temayang diarahkan sebagai pusat industri kreatif dan penguatan UMKM berbasis masyarakat lokal.
Kecamatan Sekar mengandalkan Bukit Cinta serta agrowisata alam untuk memperkuat sektor wisata kawasan.
Sementara, Kecamatan Kanor dipersiapkan menjadi pusat logistik dan perdagangan penghubung antarwilayah.
Di tengah ambisi pembangunan itu, isu lingkungan tetap ditempatkan sebagai prioritas utama daerah.
Dinas Lingkungan Hidup menargetkan program “Bebas Sampah ke TPA” melalui penguatan TPS 3R dan MRF kecamatan.
Dinas Pertanian juga mengingatkan agar pembangunan tak menggerus lahan pangan berkelanjutan.
Kecamatan Kepohbaru disebut sebagai salah satu wilayah penting penghasil padi terbesar di Bojonegoro.
Visi besar lain muncul lewat dorongan menjadikan Geopark Bojonegoro yang diakui UNESCO dunia.
Kecamatan Kedewan dengan Petroleum System on Land dipandang memiliki nilai geologi yang sangat langka.
Potensi itu diharapkan mampu menarik peneliti dan ahli geologi dunia datang ke Kabupaten Bojonegoro.
Bappeda menyebut masterplan ini menjadi panduan pembangunan yang berkelanjutan dan terarah.
Pembangunan manusia, budaya, lingkungan, dan infrastruktur disebut harus berjalan beriringan.
Kini harapan terbesar bukan hanya lahirnya dokumen perencanaan, tetapi keberanian mewujudkannya. [Ags].

