Bojonegoro Jatim | OpsJurnal.Asia
Opini, - Setiap 3 Mei, Hari Kebebasan Pers Sedunia dirayakan. Kata merdeka diulang, tapi keberanian diam-diam dipangkas.
Kebebasan jadi pajangan. Indeks dipoles. Laporan dibacakan. Sementara fakta sensitif disaring sebelum sempat menyentuh publik.
Tak perlu lagi pembredelan. Cukup mengendalikan akses, iklan, dan relasi. Pers tetap hidup, tapi nadinya diatur dari luar.
Di titik ini, garis batas tak tertulis lebih tajam dari hukum. Yang melampaui, siap menanggung konsekuensi sunyi.
Sensor hari ini bukan larangan, tapi kebiasaan menahan diri. Pers belajar patuh tanpa perlu diperintah secara terang-terangan.
Kebenaran tak lagi disembunyikan, tapi dikemas. Dipotong. Dilunakkan, hingga aman dikonsumsi tanpa mengganggu siapa pun.
Publik ikut bermain. Sensasi dipilih, kedalaman ditinggalkan. Hoaks berlari, verifikasi tertatih di belakang.
Pers masih berbicara, tapi tak lagi mengguncang. Kritik ada, tapi dijaga agar tak melukai pusat kekuasaan penguasa.
Memperingati Hari Kebebasan Pers Sedunia tanpa keberanian hanyalah ritual kosong yang merawat ilusi.
Ironinya jelas, pers tak dibungkam. Ia dilatih untuk tahu batas—dan patuh sebelum benar-benar melampaui pagar. [Ags].

