Bojonegoro, Jatim | IpsJurnal.Asia.
Opini, - Memilih kepala desa bukan sekadar memilih nama di kertas suara. Masa depan desa sering ditentukan dari keputusan itu.
Calon yang merakyat biasanya hadir di tengah warga. Ia terlihat saat kerja bakti, pengajian, hajatan, dan kegiatan sosial.
Rumahnya terbuka bagi siapa saja. Warga tidak sungkan datang karena tidak ada jarak yang dibuat antara dirinya dan rakyat.
Ia mengenal semua lingkungan tempat tinggalnya. Nama tetangga, kondisi warga, hingga persoalan kecil desa tidak asing baginya.
Sikapnya sama kepada semua orang, tidak membedakan. Ia menyapa warga kaya maupun miskin tanpa membedakan status dan kedudukan.
Cara sederhana menilainya adalah bertanya kepada tetangga. Apakah ia pernah membantu warga tanpa mengharap balasan.
Jika sebagian besar warga mengakui pernah menerima bantuan atau perhatian, itu menjadi tanda baik untuk dipertimbangkan.
Selain dekat dengan rakyat, calon juga harus mampu memajukan desa. Kedekatan saja tidak cukup tanpa kemampuan bekerja.
Calon yang siap memimpin biasanya memahami potensi desa. Ia tahu apa yang bisa dikembangkan untuk kesejahteraan warga.
Lahan pertanian, perikanan, wisata, atau usaha kecil harus dikenali sebagai sumber kemajuan yang dapat digerakkan.
Rencana yang baik selalu jelas dan terukur. Bukan sekadar janji, tetapi langkah nyata yang mudah dipahami masyarakat.
Misalnya pembangunan sumur bor, perbaikan jalan lingkungan, atau pengurusan bantuan pertanian melalui dinas terkait.
Pengalaman mengelola kegiatan warga juga penting. Dari sana terlihat kemampuan memimpin dan menyelesaikan masalah.
Karang taruna, kelompok tani, pengajian, atau BUMDes bisa menjadi bukti apakah calon pernah bekerja nyata.
Warga juga dapat menguji kesiapan calon dengan pertanyaan sederhana tentang pekerjaan pertama setelah dilantik.
Jawaban yang rinci menunjukkan kesiapan. Sebaliknya, jawaban yang terlalu umum sering menandakan kurang matang.
Bagi calon petahana, penilaian dapat dilakukan dari hasil kerja selama menjabat, bukan hanya dari janji kampanye.
Periksa apakah pelayanan surat menyurat menjadi lebih mudah dibandingkan sebelum dirinya memimpin desa.
Lihat pula apakah ada pembangunan jalan, jembatan, atau irigasi yang benar-benar dirasakan manfaatnya warga.
Transparansi juga penting. Anggaran desa seharusnya diumumkan secara terbuka agar dapat diketahui masyarakat.
Kemampuan menerima kritik menjadi ukuran berikutnya. Pemimpin yang baik tidak mudah marah saat dikoreksi warga.
Jika sebagian besar penilaian menunjukkan hasil positif, petahana layak dipertimbangkan untuk memimpin kembali.
Sebaliknya, bila banyak masalah belum terselesaikan, warga berhak mencari alternatif pemimpin yang lebih baik.
Ada pula tanda bahaya yang perlu diwaspadai. Politik uang sering menjadi pintu masuk penyalahgunaan kekuasaan.
Pemberian uang atau sembako saat kampanye dengan dalih sedekah dapat menjadi pertanda adanya niat mencari keuntungan setelah terpilih.
Tekanan melalui tokoh masyarakat atau ketua RT juga tidak sehat karena mengurangi kebebasan warga memilih.
Janji yang terlalu besar tanpa penjelasan sumber dana sering hanya menjadi alat pencitraan semata.
Calon yang gemar menyalahkan pemimpin sebelumnya tanpa bukti biasanya lebih sibuk mencari kambing hitam.
Dominasi keluarga dalam tim pemenangan juga perlu dicermati agar pemerintahan desa tidak dikuasai kelompok tertentu.
Menjelang hari pencoblosan, warga sebaiknya berdiskusi dengan keluarga untuk membandingkan para calon terbaik.
Fokuslah pada masalah utama desa seperti air bersih, jalan rusak, pelayanan kesehatan, atau lapangan pekerjaan.
Perhatikan siapa yang paling mampu menjelaskan solusi dengan masuk akal serta sesuai kondisi desa saat ini.
Jika masih ragu, lihat rekam jejaknya sebelum mencalonkan diri. Kerja nyata lebih penting daripada slogan.
Saat bertemu calon, tanyakan persoalan yang dekat dengan lingkungan sendiri agar jawabannya mudah dinilai.
Calon yang baik biasanya menjawab dengan data, kondisi lapangan, serta langkah konkret yang akan dilakukan.
Sebaliknya, jawaban yang terlalu umum sering membuat warga sulit menilai keseriusan dan kemampuan calon.
Pada akhirnya, kepala desa yang baik bukan yang paling pandai berbicara, melainkan yang mau bekerja.
Ia hadir saat warga membutuhkan, mendengar keluhan masyarakat, dan berusaha mencari solusi yang nyata.
Gunakan hati untuk menilai ketulusan, namun gunakan logika untuk menguji kemampuan dan rekam jejaknya.
Dengan pilihan yang bijak, desa memiliki peluang besar untuk maju, transparan, dan sejahtera bersama. [Agus].

