Garut, Opsjurnal.asia – Di tengah hamparan sawah yang luas, aliran air yang jernih, dan kekayaan budaya yang mendalam, keinginan kuat untuk berdirinya kembali Kabupaten Garut Utara bukan sekadar angan-angan, melainkan suara hati kolektif yang sudah lama bergema dan tak bisa lagi ditunda. Usulan pembentukan Daerah Otonomi Baru ini lahir dari kesadaran bersama bahwa jarak pelayanan publik yang terlalu jauh serta besarnya potensi sumber daya alam, ekonomi, dan budaya yang belum tergarap maksimal, memerlukan kehadiran pemerintahan yang lebih dekat, cepat, dan hadir di tengah masyarakat.
Sebagaimana disampaikan oleh Budayawati, Ani. Suhartini M.Pd, salah satu narasumber yang juga pelestari nilai tradisi, bahwa gagasan besar ini bukanlah milik segelintir kelompok atau individu semata. "Ini adalah titipan harapan yang tumbuh dari pinggiran sawah, dari halaman pesantren, keramaian pasar, ruang kelas kampus, panggung sanggar seni, hingga balai adat tempat kita merumuskan kebersamaan. Semua berharap agar tanah ini kembali memiliki ruang tumbuh dan kepemimpinan yang memahami jiwa wilayahnya," ungkap Budayawati dengan penuh penghayatan. Rabu, (28/05/26)
Perjalanan menuju terwujudnya Garut Utara sebagai daerah mandiri ternyata bukanlah jalan yang rata dan mudah. Seperti dikisahkan oleh Roiyhan Shyma Ramadhan anak dari budayawati dan seorang guru seni Ani Suhartini M.Pd yang akrab disapa Nyai Tangulun, perjuangan ini panjang, penuh kesabaran, dan sering kali berjalan dalam keheningan. "Banyak pejuang yang bekerja keras, menguras pikiran dan waktu tanpa menuntut sorotan atau pengakuan. Mereka berkeliling mengumpulkan data akurat, mendengarkan keluh kesah warga di pelosok desa, menyusun kajian mendalam, dan melangkah dari satu wilayah ke wilayah lain hanya demi satu tujuan sederhana namun mulia: agar Garut Utara bisa maju sejajar dengan daerah lain. Mereka paham betul, kemajuan tidak lahir dari suara yang paling keras, melainkan dibangun di atas kerja yang konsisten dan berkesinambungan," jelas Nyai Tangulun.
Di barisan paling depan, berdiri kokoh Paguyuban Masyarakat Garut Utara (GATRA), wadah yang kini menjadi penyangga utama dan penggerak gerakan ini. GATRA hadir tidak hanya sebagai pengusung gagasan, tetapi menjadi jembatan vital yang menghubungkan aspirasi yang hidup di tengah rakyat dengan ruang-ruang kebijakan dan pemerintahan. Peran mereka sangat besar dalam menjaga agar api semangat dan cita-cita kemandirian ini tetap menyala dan tidak pernah padam oleh waktu maupun tantangan.
Namun, narasumber sepakat untuk menegaskan satu hal penting: pengusung sejati dari cita-cita besar ini jauh lebih luas dari sekadar nama yang tergabung dalam satu organisasi atau yang tercantum dalam surat keputusan. Pengusung yang sesungguhnya adalah setiap warga negara yang percaya dan yakin sepenuhnya bahwa tanah leluhur ini layak untuk dipimpin dengan bijaksana, diurus dengan penuh tanggung jawab, dan dikembangkan demi kesejahteraan anak cucu.
Dukungan terhadap pembentukan Garut Utara pun mengalir deras dari seluruh lapisan masyarakat, menyatukan beragam elemen dengan kekhasan dan peran masing-masing yang sangat berharga:
Para seniman dan budayawan terus berdiri di barisan terdepan menjaga ruh kebudayaan, menghidupkan tradisi leluhur, dan memastikan bahwa langkah pembangunan fisik tidak akan pernah melupakan atau meninggalkan jati diri serta identitas daerah. Di sisi lain, para pelajar dan mahasiswa hadir membawa semangat kritis yang segar, gagasan-gagasan baru yang kreatif, serta energi muda yang luar biasa untuk mengawal masa depan agar tetap berjalan di jalur yang benar.
Pertumbuhan ekonomi digerakkan oleh para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang berjuang membangun kekuatan ekonomi dari akar rumput, berusaha menciptakan lapangan kerja dan kemandirian ekonomi berbasis di kampung halaman sendiri. Sementara itu, para tokoh adat dan pemangku nilai senantiasa menjaga warisan nilai, hukum adat, serta kearifan lokal agar tetap menjadi pedoman hidup dan landasan moral dalam setiap langkah pembangunan maupun kehidupan sosial bermasyarakat.
Peran tak ternilai juga datang dari para petani yang dengan kesabaran dan keringat merawat tanah dan air sebagai sumber kehidupan utama, serta para pedagang, buruh, guru, ulama, para pemuda, ibu-ibu PKK, dan seluruh elemen masyarakat lainnya yang setiap hari dengan cara dan kemampuannya masing-masing turut serta membangun dan menghidupkan roda kehidupan di Garut Utara.
"Ini bukan urusan sekelompok orang saja, dan bukan hanya milik mereka yang namanya tertulis dalam dokumen resmi. Seluruh warga, tanpa terkecuali, memiliki hak yang sama dan kewajiban yang setara untuk saling bergandengan tangan membangun daerah ini bersama-sama," tegas Nyai Tangulun mengingatkan makna kebersamaan.
Menyongsong masa depan, arah tujuan Garut Utara sudah digariskan dengan tegas: kemajuan harus dibangun di atas landasan program yang kuat, terencana dengan jelas, dan terpercaya oleh masyarakat. Segala rencana pembangunan tidak boleh lahir dari asumsi semata, melainkan harus didasarkan pada data yang akurat, hasil survei mendalam, serta masukan langsung yang diserap dari suara hati seluruh warga. Prinsipnya tegas: "Tidak ada pembangunan yang berkualitas tanpa data yang sah, dan tidak akan tumbuh kepercayaan rakyat tanpa sikap keterbukaan dan transparansi penuh."
Dalam semangat menyatukan langkah, digagaslah visi dan misi utama yang dirangkum dalam kalimat penuh makna, *“Kita Bisa Jaya Jika Kita Bersama”.*
Dari semangat kebersamaan itu lahirlah tiga prinsip kerja luhur:
- Bersama kita NGHIAP – Saling mengajak, saling mengundang untuk berbuat kebaikan dan kemajuan.
- Bersama kita NGAJAGI – Saling menjaga, melindungi, dan mengawal keutuhan wilayah serta keharmonisan warga.
- Bersama kita NGARIKSA LEMAH CAI – Bersatu hati menguatkan dan membentengi tanah serta air, sebagai warisan tak ternilai dan sumber kehidupan yang wajib dijaga kelestariannya.
Harapan dan semangat itu kemudian dituangkan pula dalam sepotong pantun penyejuk hati yang kini bergema di mana-mana:
Ke pasar Cikajang membeli saladah,
Pulangnya singgah di Limbangan indah.
Bersatu kita, insya Allah tidak akan goyah,
Mampu wujudkan GATRA jadi kabupaten sejahtera dan barokah.
Di akhir pernyataannya, Budayawati selaku pemerhati kemajuan Garut Utara menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam. "Saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya untuk setiap tetes keringat yang jatuh, setiap doa yang dipanjatkan, dan setiap waktu yang telah dikorbankan demi cita-cita mulia ini. Perjuangan ini memang belum sampai di garis akhir, namun arahnya sudah sangat jelas dan pasti: kita sedang berjalan menuju Garut Utara yang mandiri, sejahtera, dan bermartabat tinggi di mata sejarah maupun sesama."
(M.A.Zakariyya S.E)

