Bojonegoro Jatim | OpsJurnal.Asia
Langit siang di Desa Growok tampak teduh saat rombongan dari Pemkab Bojonegoro tiba di rumah sederhana itu.
Langkah mereka berhenti di teras, tempat seorang anak kecil larut merakit komponen elektronik dengan tenang.
Di ruang sempit yang hangat, Daffa Ardian Pratama duduk tekun, jemarinya cekatan menyusun bagian CPU komputer.
Sorot matanya tenang, seakan ia telah akrab dengan dunia rangkaian yang bagi banyak orang terasa rumit.
Kedatangan Wabup Nurul Azizah tak mengusik fokusnya. Ia hanya sesekali menoleh lalu kembali merakit.
Percakapan pun mengalir ringan, menyentuh rasa ingin tahu yang tumbuh sejak masa kanak-kanaknya.
Dengan polos namun mantap, Daffa anak SD kelas 3 menyampaikan impian sederhana yang ia simpan sejak lama dalam pikirannya.
“Daffa ingin membuat sepeda listrik,” ucapnya pelan, namun penuh keyakinan dan rasa percaya diri.
Sejak taman kanak-kanak, ia telah bersahabat dengan alat elektronik, belajar tanpa guru selain rasa ingin tahu.
Didampingi sang ayah, ia merakit dimmer hingga robot sapu sederhana dari komponen yang ia kumpulkan.
Mendengar itu, Nurul Azizah menatap dengan senyum yang menyimpan harapan dan perhatian yang tulus.
Ia memberi bantuan sebagai pemantik agar mimpi kecil itu menemukan bentuk nyata dan bisa bergerak.
“Nanti kalau sudah selesai dirakit sepeda listriknya dibawa ke pemkab ya,” ujar Nurul Azizah dengan nada hangat, 13 April 2026.
Kalimat itu menjadi jembatan antara ruang sederhana dengan kemungkinan luas di masa depan.
Kunjungan itu bukan sekadar seremoni, melainkan pesan bahwa potensi muda layak dirawat dan diberi ruang.
Di sudut desa turut Kecamatan Dander yang tenang, harapan tumbuh perlahan, bersama tangan kecil yang merakit masa depan. [Ags].

