Bojonegoro Jatim | OpsJurnal.Asia
Pemerintah Kabupaten Bojonegoro menggeser paradigma pengelolaan sampah, dari hilir ke hulu berbasis rumah tangga.
Di TPA Banjarsari, inovasi drum komposter dikembangkan sebagai instrumen sederhana namun berdampak sistemik.
Pendekatan ini menarget sumber utama, yakni sampah organik rumah tangga yang selama ini mendominasi timbunan.
Data menunjukkan lonjakan volume sampah, dari 45 ribu ton pada 2024 menjadi lebih dari 47 ribu ton di 2025.
Lonjakan ini menuntut solusi struktural, bukan sekadar perluasan kapasitas TPA yang bersifat reaktif.
Drum komposter hadir sebagai jawaban, mengolah sampah dapur menjadi pupuk tanpa harus menunggu ke TPA.
Desainnya adaptif, memanfaatkan drum bekas dengan sistem aerasi dan keran untuk hasil pupuk cair.
Model ini memungkinkan produksi kompos padat dan cair sekaligus, memperluas nilai guna limbah organik.
“Pembuatan komposter saat ini banyak dimanfaatkan sekolah sebagai media praktik dan edukasi lingkungan.”
Edukasi menjadi pintu masuk perubahan, menanamkan kesadaran bahwa sampah bukan residu, melainkan ресурс.
“Inisiatif ini lahir karena tingginya sampah organik rumah tangga yang sebenarnya bisa selesai di sumbernya.”
Inovasi ini juga relevan bagi kawasan padat, yang minim lahan untuk pengolahan sampah konvensional.
Lebih jauh, komposter berkontribusi menekan emisi metana dari timbunan sampah yang tidak terkelola.
“Nilai manfaatnya langsung terasa, dari pupuk cair hingga kompos untuk tanaman rumah tangga warga.”
Jika diadopsi pada level RT, dampaknya tidak linear, melainkan eksponensial terhadap beban TPA.
Langkah ini menandai pergeseran budaya: dari membuang menjadi mengelola, dari beban menjadi manfaat.
Pemkab menempatkan inovasi ini sebagai strategi jangka panjang menuju ekosistem lingkungan berkelanjutan. [Ags].

