• Jelajahi

    Copyright © Ops Jurnal
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Iklan

    Halaman

    Jejak Darah Nabi Dan Pesan Kebenaran : Refleksi Dera HR Tentang Perlawanan di Bulan Ramadhan dan Solidaritas Untuk Palestina, Refleksi Solidaritas: Menjauh dari Perbedaan, Bersatu di Atas Prinsip Kebenaran

    Rabu, 04 Maret 2026, Maret 04, 2026 WIB Last Updated 2026-03-03T21:18:26Z
    masukkan script iklan disini


    Garut,OpsJurnal.Asia -


    Darah yang mengalir di nadi Iran—darah Sayyidina Hasan dan Husein, darah Sayyidina Ali dan Fatimah az-Zahra, hingga darah Rasulullah Muhammad saw.—adalah darah yang tak pernah padam semangatnya. Ia adalah warisan keberanian yang abadi, yang terus menyala dalam dada setiap keturunannya, menjadi penuntun langkah dalam menghadapi kebatilan dan ketidakadilan.

     


    Hal tersebut disampaikan oleh Dera HR, Intelektual Marxist Nahdiyin, dalam wawancara eksklusif dengan Opsjurnal.asia pada Rabu, 04 Maret 2026, pukul 00.23 WIB di Ruang Publik Garut.

     


    “Sejarah mencatat dengan jelas: Rasulullah saw. berperang melawan Kafir Quraysh di bulan yang suci ini dalam Perang Badar yang gemilang—sebuah pertempuran yang menjadi simbol kemenangan iman atas kekuatan yang tampak tak terhingga. Kini, sejarah seolah mengulang pola kebenarannya dengan cara yang berbeda namun memiliki esensi yang sama,” ungkap Dera HR kepada wartawan, Muhammad Agus Zakariyya S.E.

     


    Lebih lanjut, Dera menegaskan bahwa langkah Ayatollah Sayyid Ali Khamenei yang dengan tegas menggembleng kekuatan untuk melawan kezaliman Kafir Zionis Yahudi juga di bulan Ramadhan, bukan sekadar aksi militer semata. “Ini adalah kelanjutan dari perjuangan melawan ketidakadilan yang telah dirintis oleh para pendahulu kita. Ada benang merah sejarah yang menghubungkan keberanian masa lalu dengan perlawanan hari ini,” tambahnya.

     


    Di momen yang penuh makna spiritual dan kemanusiaan ini, Dera HR mengajak seluruh umat untuk sejenak menyingkirkan sekat-sekat perbedaan aliran yang seringkali memecah belah persatuan.

     


    “Mari kita tidak menjadi hipokrit dalam beragama—tidak membiarkan perbedaan mazhab atau pandangan menghalangi kita untuk melihat kebenaran yang nyata. Kebenaran di mana ada pihak yang tertindas dan ada pihak yang menindas. Garis pemisah ini harus lebih jelas daripada sekadar perbedaan kita di dalam rumah yang sama,” tegasnya.

     


    Oleh karena itu, ia mengimbau agar semua pihak bersatu dalam satu barisan yang kokoh. “Mari kita berikan dukungan tulus kepada mereka yang berdiri tegak membela Palestina dengan gagah berani—tanpa memandang latar belakang atau tujuan spesifik mereka, selama langkah itu adalah perwujudan dari pembelaan terhadap yang lemah dan penolakan terhadap kezaliman,” ujar Dera.

     


    Di akhir refleksinya, Dera HR menyampaikan harapan dan doa yang mendalam. “Semoga Allah SWT menganugerahkan kemenangan besar bagi kaum Muslimin, sebagaimana kemenangan agung yang Dia berikan pada Perang Badar dahulu. Kemenangan yang bukan hanya mengubah peta kekuatan, tetapi juga menegaskan bahwa kebenaran, meski seringkali tertunda, pada akhirnya akan selalu berkuasa.”



    Pesan Moral

     

    Wawancara ini meninggalkan pesan moral yang mendalam: bahwa kebenaran dan keadilan adalah nilai-nilai abadi yang melampaui sekat-sekat perbedaan mazhab, aliran, atau pandangan. Sejarah mengajarkan kita bahwa perjuangan melawan ketidakadilan—seperti yang tercermin dalam semangat Perang Badar dan perlawanan hari ini—memiliki benang merah yang sama: keberanian untuk membela yang lemah melawan penindasan.

     


    Penting bagi kita untuk tidak menjadi munafik dalam memandang realitas, melainkan mampu melihat garis pemisah yang jelas antara yang benar dan yang salah. Persatuan bukan berarti harus sama dalam segala hal, tetapi mampu berdiri bersama dalam prinsip kebenaran ketika nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan sedang diuji. Pada akhirnya, kemenangan sejati bukan hanya milik mereka yang memiliki kekuatan, tetapi milik mereka yang teguh memegang prinsip keadilan dan keberanian untuk membela apa yang benar.

    (Zakariyya)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini