![]() |
| Fashion Show Bojonegoro |
Bojonegoro, Jatim, OpaJurnal.Asia-
Senja Ramadhan turun perlahan di Bojonegoro. Di antara hiruk kota dan waktu berbuka yang dinanti, jalan raya berubah menjadi panggung makna.
Street Muslim Fashion Show menghadirkan lebih dari peragaan busana. Ia menjadi tanda perubahan cara masyarakat merayakan religiusitas di ruang publik, pada Rabu sore.
Ibadah tak lagi hanya berlangsung dalam ruang sunyi. Ekspresi keagamaan kini hadir berdampingan dengan kreativitas dan dinamika budaya urban.
Busana muslim bergerak dari simbol kesalehan menuju bahasa sosial baru—menghubungkan identitas, estetika, dan peluang ekonomi kreatif.
Tren modest fashion memberi ruang bagi pelaku lokal: penjahit kecil, sanggar seni, hingga generasi muda yang mencari panggung ekspresi.
Menjelang azan, warga berkumpul tanpa sekat. Jalan kota kembali berfungsi sebagai ruang bersama, tempat masyarakat saling melihat dan dikenali.
Para peserta berjalan di catwalk sederhana, namun membawa pesan besar: keberanian tampil adalah bagian dari pendidikan sosial generasi muda.
Mahda, tujuh tahun, mengenakan busana jahitan kakeknya. Kisah kecil itu menunjukkan kreativitas sering lahir dari relasi keluarga.
Festival ini mencerminkan perubahan arah kebijakan budaya daerah, dari agenda seremonial menuju pengalaman kolektif yang partisipatif.
Namun pertanyaan mendasar tetap ada: apakah ruang kreatif ini akan tumbuh menjadi ekosistem ekonomi, atau hanya peristiwa musiman Ramadhan?
Di balik lampu panggung dan tepuk tangan, Bojonegoro sedang merekam transformasi sosial—tradisi, iman, dan modernitas berjalan berdampingan. [Ags].

