Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menyelimuti sejumlah wilayah di Provinsi Jambi. Kondisi ini mulai mengganggu aktivitas masyarakat sekaligus meningkatkan kekhawatiran terhadap kesehatan, terutama bagi anak-anak, balita dan lansia.
Data Dinas Kesehatan Kota Jambi yang dilaporkan hingga 3 Oktober 2026 mencatat 10.151 kasus ISPA dalam data surveilans penyakit. Angka tersebut meningkat tajam dibandingkan periode 24 Agustus–4 September yang tercatat 3.437 kasus.
Kabut asap juga membuat kualitas udara di sejumlah wilayah Jambi berada pada level berbahaya. Pada 5 Oktober, pemantauan menunjukkan kondisi PM2.5 di Kota Jambi mencapai angka yang sangat tinggi, sementara Muaro Jambi juga mengalami kondisi serupa.
Dampaknya mulai dirasakan langsung masyarakat. Keluhan seperti batuk, pilek, mata perih dan gangguan pernapasan muncul di tengah kepungan asap. Aktivitas masyarakat pun terganggu, termasuk kegiatan pendidikan dan penerbangan.
Pemerintah dan Satgas Karhutla Jambi terus melakukan penanganan. Operasi modifikasi cuaca kembali dijadwalkan pada pekan kedua Oktober, sementara titik-titik kebakaran terus dipantau. Hingga awal Oktober, luas karhutla di Jambi dilaporkan mencapai 4.123,84 hektare, dengan Kabupaten Batang Hari menjadi salah satu wilayah dengan luas terdampak terbesar, yakni 1.240,79 hektare.
Kabut asap bukan sekadar persoalan jarak pandang. Ini sudah menyentuh persoalan kesehatan masyarakat. Warga diimbau mengurangi aktivitas di luar rumah, menggunakan masker yang sesuai ketika harus keluar, serta segera memeriksakan diri apabila mengalami gangguan pernapasan yang semakin berat.
Masyarakat juga berharap penanganan karhutla tidak hanya dilakukan ketika asap sudah pekat, tetapi diperkuat sejak pencegahan hingga penegakan hukum terhadap pihak yang terbukti menyebabkan kebakaran.
(reza)


