• Jelajahi

    Copyright © Ops Jurnal
    Best Viral Premium Blogger Templates
    BREAKING NEWS
    Memuat Breaking News...

    Iklan

    Iklan

    📈 LIVE MARKET

    👋 Halo!

    Selamat datang di OPS Jurnal.
    Temukan berita terbaru, investigasi, dan informasi terpercaya setiap hari.

    Semua Layanan Ops Jurnal
    📰
    📰 BERITA TERKINI
    Memuat berita terbaru...

    Dulu Cleaning Service Bergaji Rp75 Ribu, Kini Anggota DPRD NTT: Kisah Junaidin Mahasan di Hadapan 2.000 Mahasiswa

    Piter Bota
    Selasa, 29 September 2026, September 29, 2026 WIB Last Updated 2026-09-29T16:28:10Z
    masukkan script iklan disini










    KUPANG-OpsJurnal.Asia- Tidak semua orang memulai perjalanan menuju kesuksesan dari tempat yang mudah. Ada yang harus berjalan dengan keterbatasan, bekerja sambil kuliah, bahkan menghadapi pilihan sulit ketika orangtua tak lagi mampu membiayai pendidikan.



    Kisah itulah yang dibagikan Anggota DPRD Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Junaidin Mahasan, di hadapan lebih dari 2.000 mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Kupang, Selasa (29/9/2026).



    Junaidin, yang akrab disapa Jun, merupakan putra Reo, Kecamatan Reo, Kabupaten Manggarai. Di hadapan ribuan mahasiswa baru, ia tidak hanya berbicara tentang perjalanan politik dan kehidupannya sebagai wakil rakyat.



    Ia justru membawa mahasiswa kembali pada sebuah fase kehidupan yang pernah ia jalani dengan penuh keterbatasan.



    Hari ini, banyak orang mengenalnya sebagai anggota DPRD NTT sekaligus Ketua Fraksi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) NTT. Namun, sebelum duduk di kursi legislatif, Junaidin mengaku pernah menjadi cleaning service di kampus Universitas Muhammadiyah Kupang.



    "Saya pernah membersihkan ruang kelas, menyapu lantai, mengangkat sampah, dan bekerja ketika sebagian orang mungkin sedang sibuk mengejar cita-citanya," kisah Junaidin di hadapan mahasiswa.



    Ironisnya, tempat yang sama menjadi ruang bagi dirinya untuk mengejar pendidikan.



    Ia kuliah sambil bekerja. Ketika kondisi ekonomi keluarga tidak lagi memungkinkan untuk membiayai kuliahnya, Junaidin sempat diminta orangtuanya untuk kembali ke kampung halaman.



    Namun, ia memilih bertahan.



    Keinginan untuk menyandang gelar sarjana membuatnya tidak ingin menyerah begitu saja. Ia kemudian bekerja sebagai cleaning service di kampus dengan upah yang, menurut kisahnya, hanya sekitar Rp75 ribu per bulan.



    Penghasilan tersebut tentu jauh dari cukup untuk menggambarkan perjuangan seorang mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan. Namun, bagi Junaidin, pekerjaan itu menjadi salah satu jalan agar cita-citanya tidak berhenti di tengah jalan.



    Ia membersihkan ruang-ruang kampus, tetapi pada saat yang sama terus menata masa depannya melalui pendidikan.



    "Saya kuliah sambil bekerja. Saya tahu rasanya membagi waktu antara pekerjaan, pendidikan, dan kehidupan sehari-hari. Saya tahu bagaimana rasanya memiliki keterbatasan, tetapi tetap memelihara harapan," ujarnya.



     Tidak Ada Pekerjaan yang Rendah



    Di hadapan ribuan mahasiswa baru, Junaidin juga menyampaikan pesan yang lebih dalam. Menurut dia, pekerjaan yang dijalani dengan jujur tidak seharusnya membuat seseorang merasa rendah diri.



    Ia mengaku tidak pernah malu dengan pekerjaan yang pernah dilakukannya sebagai cleaning service.



    Justru dari pekerjaan tersebut, ia mendapatkan pelajaran tentang kehidupan, kerja keras, tanggung jawab, dan bagaimana mempertahankan mimpi ketika keadaan tidak berpihak.



    "Saya tidak pernah malu dengan pekerjaan itu. Justru dari pekerjaan sebagai cleaning service, saya belajar satu hal penting: tidak ada pekerjaan yang rendah. Yang rendah adalah ketika seseorang berhenti berjuang untuk masa depannya," katanya.



    Pesan tersebut menjadi relevan bagi mahasiswa baru yang sedang memulai perjalanan akademiknya.



    Bagi Junaidin, keterbatasan ekonomi bukan alasan untuk mematikan cita-cita. Pendidikan memang tidak selalu ditempuh melalui jalan yang mudah, tetapi kemauan untuk bertahan dapat menjadi bagian penting dari perjalanan seseorang.



    Kisah itu juga menunjukkan bahwa sebuah profesi pada masa lalu tidak menentukan seluruh masa depan seseorang.



    Seorang mahasiswa yang pernah menyapu lantai kampus dan mengangkat sampah, pada akhirnya dapat menyelesaikan pendidikannya dan kemudian dipercaya menjadi wakil rakyat di DPRD NTT.



    Perjalanan tersebut bukan semata tentang perubahan status sosial. Lebih dari itu, kisah Junaidin menjadi pengingat bahwa proses panjang di balik sebuah pencapaian sering kali tidak terlihat oleh banyak orang.



    Dari Ruang Kelas hingga Kursi Wakil Rakyat



    Junaidin kini menjalani peran sebagai anggota DPRD NTT. Dalam sejumlah kesempatan, ia juga menyampaikan pentingnya anggota legislatif memperjuangkan aspirasi masyarakat yang diwakilinya.



    Namun, di hadapan mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Kupang, ia memilih menceritakan sisi lain dari kehidupannya: masa ketika dirinya belum memiliki jabatan, belum dikenal sebagai politikus, dan masih berjuang menyelesaikan pendidikan dengan bekerja sebagai cleaning service.



    Kisah itu menjadi semacam pesan bahwa perjalanan menuju keberhasilan tidak selalu dimulai dari posisi yang tinggi.



    Ada kalanya seseorang harus memulai dari pekerjaan sederhana, menahan malu, mengatur waktu, menghadapi keterbatasan ekonomi, dan tetap percaya bahwa pendidikan layak diperjuangkan.



    Bagi mahasiswa baru yang baru memulai kehidupan perkuliahan, cerita tersebut dapat menjadi pengingat bahwa kuliah bukan hanya tentang mendapatkan gelar.



    Pendidikan juga merupakan proses membentuk ketekunan, karakter, tanggung jawab, dan keberanian untuk menghadapi keadaan yang tidak selalu sesuai dengan harapan.



    Junaidin berharap para mahasiswa tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan selama menjalani pendidikan.



    Sebab, seperti yang pernah ia alami sendiri, terkadang jalan menuju cita-cita memang harus ditempuh dengan cara yang panjang dan melelahkan.



    Dari sebuah sapu, ruang kelas, dan pekerjaan dengan upah Rp75 ribu per bulan, ia belajar mempertahankan satu hal yang tidak boleh hilang: harapan untuk memiliki masa depan yang lebih baik.



    Dan bagi mahasiswa baru yang sedang berdiri di awal perjalanan, kisah itu menjadi pesan sederhana: keadaan boleh terbatas, tetapi cita-cita tidak harus ikut dibatasi.

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini