Garut.Opsjurnal.asia - Gema janji visi pembangunan “Garut Hebat Berkelanjutan” kini terasa semakin jauh dari kenyataan. Di balik slogan megah yang digaungkan, wajah pendidikan di Kabupaten Garut justru memunculkan fakta memilukan yang menjadi sorotan tajam publik. Masalah mendasar yang menumpuk dinilai tidak hanya menghambat kemajuan generasi muda, tetapi juga mengancam masa depan pembangunan daerah dalam jangka panjang.
Isu yang paling menggegerkan dan mengundang kekhawatiran bersama adalah tingginya angka putus sekolah yang terus meningkat di berbagai wilayah kecamatan. Data di lapangan menunjukkan bahwa masih banyak anak usia sekolah yang harus berhenti mengenyam pendidikan sebelum menyelesaikan jenjangnya. Kondisi ini bertentangan tajam dengan semangat pemerataan akses dan peningkatan kualitas sumber daya manusia yang menjadi tulang punggung visi daerah. Jika dibiarkan, kesenjangan sosial akan melebar, dan cita-cita melahirkan generasi unggul hanyalah angan-angan semata.
Namun persoalannya tidak berhenti di situ. Di balik tingginya angka putus sekolah, terselip pula birokrasi yang dinilai kaku, berbelit, dan tidak berpihak pada kepentingan pendidikan. Berbagai keluhan datang dari kalangan kepala sekolah, guru, hingga orang tua siswa: proses perizinan lambat, alur pengambilan keputusan berliku, hingga pendistribusian bantuan pendidikan yang tidak berjalan efektif. Sistem yang seharusnya menjadi pendorong kemajuan, justru terasa menjadi tembok penghambat bagi perubahan nyata di satuan pendidikan.
Akumulasi dari berbagai permasalahan ini akhirnya mengarah pada satu pertanyaan krusial yang kini menjadi perbincangan hangat di dunia pendidikan: apakah kepemimpinan di lingkungan Dinas Pendidikan Kabupaten Garut sudah mampu bekerja secara maksimal? Banyak pengamat pendidikan dan elemen masyarakat sepakat bahwa sudah saatnya dilakukan evaluasi kinerja secara menyeluruh terhadap Kepala Dinas Pendidikan beserta jajarannya. Penilaian ini bukan tanpa alasan, mengingat selama ini solusi yang ditawarkan terasa lambat, dangkal, dan tidak menyentuh akar permasalahan.
Pengamat pendidikan senior yang tidak mau disebutkan namanya menegaskan bahwa pendidikan adalah investasi masa depan yang tidak boleh terhambat oleh manajemen yang lemah. “Sebesar apa pun anggaran yang dialokasikan, sehebat apa pun visi yang dibuat, jika tidak dikelola dengan kepemimpinan yang tangguh dan birokrasi yang lincah, hasilnya akan nol. Garut Hebat tidak akan pernah terwujud jika anak-anaknya banyak berhenti sekolah dan birokrasinya justru memberatkan,” tegasnya. Jumat, (12/06/26)
Kini sorotan tertuju pada dua hal penting: pertama, langkah konkret apa yang akan diambil untuk menekan angka putus sekolah dan mempermudah akses pendidikan bagi semua lapisan masyarakat. Kedua, apakah pemerintah daerah berani melakukan evaluasi ketat terhadap kinerja pimpinan dinas agar sistem pendidikan kembali berjalan pada jalur yang benar.
Masyarakat pun menanti jawaban nyata. Akankah visi besar ini segera diwujudkan dengan perubahan mendasar, atau justru akan tetap menjadi sekadar slogan kosong yang makin memudar seiring berjalannya waktu?
(M.A. Zakariyya S.E)

