Bojonegoro, Jatim | Opini.
Sejarah menunjukkan, penguasaan bangsa tidak selalu dimulai dengan perang dan dentuman senjata.
Di era modern, pengaruh sering datang melalui utang, investasi, dan ketergantungan ekonomi.
Pinjaman kerap ditawarkan atas nama pembangunan, pertumbuhan, dan percepatan kesejahteraan.
Utang bukan masalah jika dikelola sehat, transparan, dan digunakan untuk kepentingan rakyat.
Masalah muncul saat ketergantungan membuat ruang kebijakan nasional semakin terbatas.
Ketika ekonomi bergantung pada pihak luar, posisi tawar negara perlahan dapat melemah.
Penguasaan tidak selalu berupa penjajahan wilayah, tetapi bisa melalui kendali ekonomi.
Setelah ekonomi terpengaruh, ancaman berikutnya adalah perpecahan di dalam negeri.
Perbedaan suku, agama, ras, dan pilihan politik sering menjadi sumber konflik sosial.
Bangsa yang terpecah akan lebih mudah dipengaruhi dibanding bangsa yang tetap bersatu.
Sejarah kolonialisme menunjukkan politik pecah belah bukan strategi yang benar-benar baru.
Karena itu, setiap gesekan sosial harus disikapi dengan kewaspadaan dan akal sehat.
Jangan sampai perbedaan pendapat berubah menjadi permusuhan yang berkepanjangan.
Tahap berikutnya sering menyentuh ranah politik melalui berbagai bentuk pengaruh.
Dukungan pada kelompok tertentu dapat memunculkan dugaan adanya kepentingan lain.
Ketika kebijakan nasional dianggap mengganggu kepentingan ekonomi tertentu, tekanan muncul.
Tekanan dapat berbentuk sentimen pasar, ketidakpastian investasi, hingga gejolak ekonomi.
Indonesia adalah negara kaya dengan sumber daya alam yang sangat melimpah.
Minyak, gas, mineral, pertanian, dan laut menjadi aset bernilai strategis dunia.
Kekayaan tersebut membuat Indonesia selalu menarik bagi berbagai kepentingan global.
Karena itu, menjaga kedaulatan tidak cukup hanya melalui slogan nasionalisme.
Kedaulatan membutuhkan ekonomi kuat, institusi sehat, dan tata kelola yang baik.
Mengkritik pemerintah adalah hak warga negara dalam sistem demokrasi modern.
Namun kritik seharusnya mendorong perbaikan, bukan memperbesar perpecahan bangsa.
Perbedaan pilihan politik boleh ada, tetapi kepentingan nasional harus diutamakan.
Jangan sampai rakyat sibuk bertengkar, sementara pihak lain menikmati keadaan.
Pelajaran sejarah sangat jelas, bangsa yang terpecah lebih mudah dipengaruhi.
Sebaliknya, bangsa yang bersatu memiliki daya tahan menghadapi berbagai tekanan.
Kedaulatan bukan hanya soal wilayah dan sumber daya yang dimiliki negara.
Kedaulatan juga ditentukan oleh kemampuan rakyat menjaga persatuan Indonesia. [Agus].

