• Jelajahi

    Copyright © Ops Jurnal
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Iklan

    Halaman

    Rupiah Jadi Runner-Up Asia, Ditopang Turunnya Harga Minyak dan Suku Bunga BI

    Selasa, 16 Juni 2026, Juni 16, 2026 WIB Last Updated 2026-06-16T08:47:58Z
    masukkan script iklan disini

     


    Bojonegoro, Jatim - Rupiah membuka perdagangan Senin kemarin, dengan kabar menggembirakan setelah mencatat penguatan terhadap dolar AS.

    Pada awal perdagangan, mata uang Garuda menguat 0,12 persen ke level Rp17.848 per dolar Amerika Serikat.

    Tak lama kemudian, penguatan berlanjut hingga mencapai Rp17.790 per dolar AS pada perdagangan pagi hari.

    Kinerja tersebut menempatkan rupiah sebagai mata uang dengan penguatan terbesar kedua di kawasan Asia.

    Hanya peso Filipina yang mampu mencatat penguatan lebih tinggi dibandingkan rupiah pada perdagangan tersebut.

    Penguatan rupiah terjadi seiring meredanya tekanan eksternal yang sebelumnya membayangi pasar keuangan global.

    Salah satu pemicunya adalah turunnya harga minyak dunia setelah ketegangan geopolitik Timur Tengah mereda.

    Pasar juga menyambut positif meningkatnya peluang tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran.

    Bagi Indonesia yang masih menjadi pengimpor minyak, penurunan harga energi membawa dampak positif.

    Risiko pelebaran defisit transaksi berjalan menjadi lebih kecil seiring menurunnya beban impor energi.

    Kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi impor yang sebelumnya menghantui pasar juga mulai berkurang.

    Sentimen tersebut mendorong investor kembali masuk ke aset berisiko di berbagai negara kawasan Asia.

    Sejumlah mata uang regional ikut menguat seiring meningkatnya optimisme pelaku pasar terhadap kawasan.

    Di saat yang sama, imbal hasil obligasi pemerintah di beberapa negara Asia juga mengalami penurunan.

    Penguatan mata uang Asia turut didorong ekspektasi kebijakan tegas dari sejumlah bank sentral kawasan.

    Bank of Japan diperkirakan akan menaikkan suku bunga guna menjaga stabilitas ekonomi dan mata uangnya.

    Bank sentral Filipina juga diproyeksikan mengambil langkah serupa dengan menaikkan suku bunga acuan.

    Di dalam negeri, penguatan rupiah tidak lepas dari kebijakan agresif yang ditempuh Bank Indonesia.

    Bank Indonesia sebelumnya telah menaikkan suku bunga acuan secara kumulatif sebesar 75 basis poin.

    Langkah tersebut dinilai memperkuat kepercayaan pasar terhadap komitmen menjaga stabilitas rupiah.

    Sejumlah ekonom bahkan memperkirakan masih ada peluang kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.

    Kebijakan itu diyakini mampu meredam tekanan spekulatif yang sempat mendorong rupiah melemah tajam.

    Pekan lalu, nilai tukar rupiah bahkan nyaris menembus level Rp18.200 per dolar AS dalam perdagangan.

    Kini pasar berharap penguatan rupiah dapat berlangsung lebih lama dan berlangsung lebih berkelanjutan.

    Meski demikian, tantangan masih membayangi seiring perhatian pasar tertuju pada RDG Bank Indonesia.

    Investor akan mencermati arah suku bunga serta strategi stabilisasi nilai tukar yang akan ditempuh.

    Keputusan tersebut dinilai menjadi faktor penting dalam menentukan arah pergerakan rupiah ke depan. [Agus].

    Sumber: Tim Riset Bloomberg Technoz, Senin 15 Juni 2026.
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini