• Jelajahi

    Copyright © Ops Jurnal
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Iklan

    Halaman

    Meninjau Makna Filosofis dan Sosial 1 Muharam Menuju Kehidupan yang Lebih Bermakna: Inilah Paparan Ketum PM Gatra Rd H. Holil Aksan Umarzaen

    Senin, 15 Juni 2026, Juni 15, 2026 WIB Last Updated 2026-06-15T07:39:14Z
    masukkan script iklan disini



    Garut.Opsjurnal.asia - Menjelang peringatan 1 Muharam 1448 Hijriah yang jatuh pada Selasa, 16 Juni 2026 Masehi, momen pergantian tahun dalam kalender Islam ini tidak hanya dimaknai sebagai peristiwa sejarah semata, melainkan menjadi kajian penting yang mengandung nilai strategis bagi pembentukan karakter individu dan kemajuan kolektif masyarakat. Pandangan mendalam yang disampaikan oleh Keluarga Besar PM GATRA menegaskan bahwa esensi peringatan ini terletak pada pemahaman hakiki tentang makna hijrah, yang sering kali hanya dipahami secara dangkal sebagai perpindahan tempat secara fisik.

     

    Dalam rumusan pemikiran yang dikemukakan:

     

    “Hijrah bukan sekadar berpindah tempat, melainkan berpindah dari kebiasaan buruk menuju kehidupan yang lebih baik, lebih bermanfaat, dan lebih diridhoi Allah SWT.”

     

    Secara akademis, konsep hijrah dapat diposisikan sebagai kerangka dasar untuk melakukan transformasi diri dan pembaruan sosial. Jika ditelaah lebih jauh, makna ini selaras dengan prinsip perubahan positif yang menjadi syarat utama bagi kemajuan peradaban. Pergantian tahun baru Islam hadir sebagai momentum muhasabah diri atau evaluasi kritis, sekaligus titik awal penyusunan strategi hidup yang lebih terarah dan bertujuan.


    HIJRAH SEBAGAI PROSES TRANSFORMASI DAN SOLUSI SOSIAL

     

    Dalam konteks kehidupan bermasyarakat, peringatan 1 Muharam mengajak setiap individu untuk melakukan pergeseran paradigma: berhijrah dari kemalasan menuju etos kerja yang tinggi; dari sikap yang memecah belah menuju persatuan dan kebersamaan; serta dari aktivitas yang sia-sia menuju karya nyata dan pengabdian yang berkualitas. Pendekatan ini menjadi sangat relevan mengingat tantangan zaman yang terus berkembang dan menuntut kesiapan mental, akhlak, serta kompetensi yang kokoh.

     

    Langkah nyata yang ditawarkan adalah meninggalkan segala kebiasaan yang hanya menguras potensi diri, baik berupa waktu, tenaga, harta, maupun pikiran. Sebagai gantinya, dianjurkan untuk mengisi setiap rentang waktu dengan aktivitas yang bernilai tambah: menuntut ilmu pengetahuan dan wawasan, mengamalkan perbuatan saleh, mempererat tali silaturahmi, serta berikhtiar secara sungguh-sungguh dalam membangun keutuhan keluarga, memajukan lingkungan masyarakat, dan mengembangkan potensi tanah kelahiran.

     

    Ajaran ini memiliki landasan teologis dan filosofis yang kuat, sebagaimana tercantum dalam firman Allah SWT:

     

    “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”

    — QS. Ar-Ra’d: 11

     

    Ayat ini menjadi dasar ilmiah bahwa setiap perubahan kondisi sosial, ekonomi, maupun budaya tidak dapat terjadi secara instan atau hanya mengandalkan faktor eksternal semata, melainkan harus bermula dari kesadaran, kemauan, dan upaya nyata untuk memperbaiki kualitas diri secara internal.



    IMPLIKASI BAGI KEMAJUAN DAERAH DAN MASYARAKAT

     

    Menjelang dimulainya tahun baru 1448 Hijriah, harapan besar disampaikan agar momen ini menjadi titik balik yang melahirkan pribadi-pribadi yang semakin berkualitas: lebih kokoh keimanannya, lebih luas wawasan dan ilmunya, lebih produktif dalam berkarya, serta mampu memberikan manfaat nyata bagi lingkungan sekitar, umat, dan bangsa.

     

    Nilai-nilai luhur ini selaras dengan semangat yang diusung oleh masyarakat Garut Utara, sebagaimana semboyan yang dipegang teguh: “Garut Utara Mapag Cacandran Limbangan Ngadaun Ngora” — yang bermakna mengutamakan kebijaksanaan, kebaikan, dan kebersamaan dalam setiap langkah kehidupan. Diharapkan tercipta kondisi ideal di mana: “Mulia Jalmana, Makmur Lemburna”, yakni kehidupan pribadi yang bermartabat dan berakhlak mulia diiringi dengan kemakmuran serta kesejahteraan lingkungan tempat tinggal.

     

    Semangat ini kemudian diterjemahkan ke dalam prinsip hidup yang menjadi pedoman bersama: Berpikir Lebih Cerdas • Berjuang Lebih Ikhlas, agar setiap langkah pembangunan, baik secara individu maupun kolektif, selalu didasari oleh akal sehat, pengetahuan, dan ketulusan hati dalam pengabdian.


    (M.A. Zakariyya, S.E)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini