• Jelajahi

    Copyright © Ops Jurnal
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Iklan

    Halaman

    Gizi Untuk Raga, Nutrisi Untuk Jiwa: Pandangan PM Gatra, Mengapa MBG Harus Menjangkau Dua Dimensi Kehidupan

    Minggu, 21 Juni 2026, Juni 21, 2026 WIB Last Updated 2026-06-21T01:00:51Z
    masukkan script iklan disini

    Garut.Opsjurnal.asia — Manusia adalah ciptaan yang sempurna, terwujud dalam kesatuan yang tak terpisahkan antara raga yang bergerak dan jiwa yang memberi makna. Seperti pohon yang memerlukan tanah subur, air, dan sinar matahari agar tumbuh menjulang kokoh, demikian pula insan membutuhkan santapan bagi tubuh dan asupan bagi nurani, agar mampu melangkah di jalan kehidupan dengan kekuatan dan kebijaksanaan. Dalam cakrawala pembangunan bangsa, membentuk generasi unggul tidak cukup hanya menyentuh satu sisi saja, melainkan harus merangkul keseluruhan hakikat manusia itu sendiri.

     

    Pandangan mendasar inilah yang dikemukakan oleh Rd. H. Holil Aksan Umarzen dalam wawancara eksklusif di Rubrik Gatra, Minggu 21 Juni 2026. Beliau mengajak memandang Program Makan Bergizi Gratis bukan semata sebagai kebijakan pemenuhan kebutuhan fisik, melainkan sebagai titik awal yang harus dilengkapi dengan pemenuhan kebutuhan batin guna melahirkan manusia Indonesia yang utuh dan bermartabat.

     


    Sebagai landasan pemikiran, beliau mengutip sabda Rasulullah SAW:

    “Mukmin yang kuat lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, meskipun pada keduanya terdapat kebaikan.”

    (HR. Muslim)

     

    Hadis ini mengandung makna yang sangat dalam. Kekuatan hakiki tidak hanya diukur dari sehat dan tegaknya badan, melainkan juga dari jernihnya akal, teguhnya iman, dan indahnya akhlak. Sebab manusia sejati bukanlah sekadar kumpulan daging dan tulang, melainkan makhluk yang memiliki hati, pikiran, dan ruh yang senantiasa memerlukan santapan agar tetap hidup dan berkembang.


    Dimensi Lahir: Gizi sebagai Pondasi Kekuatan Fisik

     

    Secara ilmiah dan nyata, kekurangan gizi adalah awal dari berbagai kelemahan. Ia dapat melambatkan pertumbuhan, menurunkan daya tahan tubuh, menghambat perkembangan kecerdasan, hingga memicu kondisi stunting yang membawa dampak panjang bagi kualitas sumber daya manusia. Anak yang kekurangan asupan layak akan tumbuh dengan tenaga terbatas dan potensi berpikir yang tidak tergali secara maksimal.

     

    Di sinilah letak kebaikan Program Makan Bergizi Gratis. Sebagai langkah strategis negara, program ini bertujuan memastikan setiap anak mendapatkan makanan yang cukup dan berkualitas, agar tumbuh menjadi insan yang kuat raganya, segar tenaganya, dan siap menimba ilmu demi masa depan yang lebih cerah.


    Dimensi Batin: Nutrisi sebagai Penjaga Kemuliaan Watak

     

    Namun, sering kali kita melupakan satu sisi yang tak kalah hakiki: nutrisi bagi jiwa. Sama seperti tubuh yang bisa lemah karena kelaparan, hati pun bisa menjadi gersang dan sakit jika tidak terisi ilmu, iman, adab, kasih sayang, dan keteladanan. Lahirlah manusia yang secara lahir tampak sehat dan kuat, namun secara batin kehilangan arah, lupa rasa malu, kurang empati, dan mudah tergelincir ke jalan yang salah.

     


    “Sesungguhnya manusia tidak hidup hanya dengan makanan semata. Akal membutuhkan ilmu, hati membutuhkan iman, dan jiwa memerlukan kasih sayang serta suri teladan. Banyak kita jumpai mereka yang berkecukupan harta namun hatinya kosong, berpendidikan tinggi namun lupa adab, dan berkuasa namun kehilangan makna hidup,” ungkap Rd. H. Holil Aksan Umarzen.

     

    Bahayanya, kekurangan nutrisi batin memiliki dampak yang lebih luas. Jika tubuh yang sakit hanya merugikan diri sendiri, maka jiwa yang hampa dapat melahirkan sifat serakah, kebencian, pengkhianatan, korupsi, kekerasan, hingga hilangnya rasa kemanusiaan. Berbagai persoalan sosial yang kita hadapi hari ini, sesungguhnya bukan berawal dari perut yang lapar, melainkan dari hati yang tidak terisi nilai-nilai luhur.


    Melengkapi Makna: MBG Lahir dan MBG Batin

     

    Oleh karena itu, jika negara telah menghadirkan “MBG Lahir” untuk menguatkan raga, maka menjadi tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsa untuk menghadirkan “MBG Batin”. Keluarga, sekolah, pesantren, tempat ibadah, dan lingkungan sosial berperan sebagai dapur yang menyajikan santapan rohani: ilmu yang bermanfaat, akhlak yang mulia, budi pekerti yang luhur, serta keteladanan yang nyata.

     

    “Apabila tubuh kekurangan gizi, yang terganggu adalah pertumbuhan dan kecerdasan. Namun apabila jiwa kekurangan asupan, yang rusak adalah watak, akhlak, dan akhirnya dapat meruntuhkan peradaban itu sendiri,” tegasnya.

     

    Lebih lanjut ia mengingatkan pula, bahwa manusia yang paling berisiko bukanlah mereka yang perutnya lapar, melainkan mereka yang tubuhnya kenyang namun jiwanya tetap merindukan kebenaran dan makna. Perut yang lapar hanya meminta makanan, sedangkan jiwa yang kelaparan dapat menghilangkan harga diri dan merusak tatanan kehidupan.

     

    Membangun bangsa berarti membangun manusia secara menyeluruh. Program Makan Bergizi Gratis adalah langkah mulia yang harus terus didukung, namun keberhasilannya akan sempurna jika diiringi pemenuhan kebutuhan batin.

     

    MBG Lahir melahirkan generasi yang sehat dan kuat. MBG Batin melahirkan generasi yang berilmu, beriman, dan berkarakter. Keduanya harus berjalan seiring, agar lahir manusia Indonesia yang sesungguhnya: cerdas pikirannya, kuat raganya, teguh keyakinannya, dan mulia budi pekertinya.

    Salam pemberani. Berpikir lebih cerdas, berjuang lebih ikhlas.

     (M.A. Zakariyya, S.E)

     

     


    Komentar

    Tampilkan

    Terkini