• Jelajahi

    Copyright © Ops Jurnal
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Iklan

    Halaman

    Gempar! Desa Bukan Kekurangan Orang Pintar, Tapi Terlalu Sering Membungkam!

    Sabtu, 09 Mei 2026, Mei 09, 2026 WIB Last Updated 2026-05-09T01:57:19Z
    masukkan script iklan disini

     


    Garut,OpsJurnal.Asia -


    Di setiap sudut desa, sesungguhnya tersimpan harta karun berupa kecerdasan, gagasan cemerlang, dan tenaga berbakti yang melimpah. Namun ada satu fakta pahit yang menggegerkan dan menyayat hati: Desa kita tidak pernah kekurangan orang pintar, namun terlalu sering dan terlalu mudah menutup mulut serta membungkam suara-suara terbaiknya!

     

    Sebuah catatan kritis dari pengamat sosial dan pemerhati pembangunan desa, Muhammad Agus Zakariyya, S.E, mengungkapkan realita mengejutkan yang menjadi penghambat utama kemajuan desa. Menurutnya, dalam tubuh kelembagaan maupun lingkungan sosial masyarakat, kita justru sering salah sasaran dalam menilai siapa yang sesungguhnya berbahaya bagi kemajuan bersama.

     

    "Kita sering sibuk mengawasi mereka yang terang-terangan bermasalah, yang suka membangkang, atau yang gemar membuat keributan. Padahal sosok yang paling berisiko besar dan patut diwaspadai justru ada di barisan depan yang lain," tegas Muhammad Agus Zakariyya dengan nada tegas dan berapi-api. Sabtu, (09/05/26).


    Siapa sangka? Ancaman terbesar bagi masa depan desa justru datang dari mereka yang dulunya sangat peduli, punya gagasan brilian, punya energi tak habis-habis, punya kapasitas mumpuni, serta rela bekerja lebih keras, berpikir lebih jauh, dan bergerak lebih cepat dibandingkan warga lainnya.

     

    Awalnya, mereka hadir dengan niat tulus nan suci. Bersuara lantang menyampaikan masukan, memberikan usulan cerdas, dan terlibat total dalam setiap langkah pembangunan. Namun kenyataan pahit perlahan membungkusnya: Niat baik ternyata tidak selalu diterima sebagai sesuatu yang baik.

     

    Sering kali, kepedulian mereka justru dicap "sok tahu", ide cemerlang dianggap "terlalu menonjol", dan usulan kemajuan dinilai mengganggu kenyamanan rutinitas yang berjalan.

     

    "Mereka bertahan cukup lama, terus bersuara dan berkarya. Namun kelelahan pun datang. Bukan lelah karena beban kerja, melainkan lelah batin karena usaha dan pemikiran mereka tak pernah benar-benar dihargai, malah sering diabaikan atau disalahartikan," ungkapnya penuh penekanan.

     

    Lalu tibalah momen yang paling menentukan dan menyedihkan sekaligus. Terjadi perubahan besar pada diri mereka. Bukan berubah menjadi buruk, bukan menjadi penghambat, dan tidak pergi meninggalkan desa. Melainkan memilih satu jalan: DIAM!

     

    Mereka tetap hadir di setiap rapat, tetap menjalankan kewajiban sesuai tugas, dan terlihat bekerja seperti biasa. Tapi ada yang hilang sepenuhnya. Gagasan-gagasan besar kini dikunci rapat di dalam dada. Tenaga yang dulu dicurahkan habis-habisan, kini ditarik kembali sekadar cukupnya saja. Pikiran-pikiran emas yang dulu dibagikan cuma-cuma, kini dipendam dalam-dalam.

     

    "Karena mereka sudah belajar satu hukum keras kehidupan di desa: DIAM itu lebih aman, lebih ringan, dan jauh dari risiko konflik atau prasangka miring," tandas Zakariyya.


    Di titik itulah, persoalan besar sesungguhnya terjadi. Masalahnya bukan karena orang-orang hebat itu kehilangan kemauan berbuat baik. Melainkan DESA ITU SENDIRI yang kehilangan potensi perubahan besar!

     

    Orang-orang berilmu dan peduli itu fisiknya tetap ada, tapi semangatnya untuk berlari membawa desa maju sudah mati suri. Ironi terbesar terjadi saat mereka yang cerdas memilih menahan diri, sementara mereka yang berjalan tanpa arah, tanpa visi, dan tanpa wawasan malah tetap lantang bersuara, merasa paling benar, dan menguasai arah kebijakan.

     

    "Yang dirugikan dalam situasi ini sama sekali bukan individu cerdas tersebut. Mereka tetap bisa hidup tenang atau berkarya di tempat lain yang lebih menghargai. Yang bangkrut dan menderita hebat adalah DESANYA, masyarakatnya, dan masa depan anak cucunya," tegasnya lagi.


    Penegasan keras disampaikan agar masyarakat dan pemangku kepentingan desa sadar sepenuhnya. Selama masih ada warga yang mau berpikir, mau bekerja lebih giat, dan bersusah payah demi kemajuan bersama, *JANGANLAH DIPATAHKAN DENGAN SINDIRAN DAN PRASANGKA!*

     

    Ingatlah pesan emas ini:

    Saat orang-orang terbaik itu benar-benar memilih diam selamanya, memang mungkin tak ada lagi keributan atau perdebatan. TAPI bersamaan dengan itu, *KEMAJUAN DESA PUN IKUT MENGHILANG DITELAN KEBEKUAN!*

     

    Desa maju bukan hanya soal anggaran dan program, tapi soal siapa yang didengar dan diberi ruang untuk berkarya. Jangan sampai desa tertinggal, bukan karena tak mampu maju, melainkan karena kita sendiri yang menutup telinga dan membungkam suara perubahan.

    (Acep.N.Permana)

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini