Jakarta,OpsJurnal.Asia -
Bulan Ramadhan selalu menjadi periode paling sensitif dalam siklus ekonomi Indonesia. Lonjakan konsumsi rumah tangga meningkatkan permintaan pangan, mempercepat perputaran uang, dan berpotensi menekan harga kebutuhan pokok. Dalam situasi seperti ini, stabilitas daya beli menjadi indikator paling nyata apakah kebijakan negara berjalan efektif atau tidak.
Dalam konteks tersebut, Ir. R. Haidar Alwi, MT - Presiden Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute, serta Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB, menilai bahwa stabilitas Ramadhan tahun ini mencerminkan konsolidasi kebijakan fiskal yang matang di bawah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa serta kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto yang konsisten menjaga keseimbangan ekonomi.
*“Ramadhan adalah periode ketika kebijakan diuji oleh realitas pasar. Jika harga relatif terkendali dan daya beli tetap bergerak, itu berarti koordinasi fiskal dan kepemimpinan nasional berjalan selaras. Stabilitas bukan kebetulan, melainkan hasil dari kebijakan yang presisi,”* tegas Haidar Alwi.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa stabilitas bukan sekadar persepsi, melainkan hasil dari keputusan anggaran, pengendalian distribusi, serta kepemimpinan yang mampu membaca momentum ekonomi musiman. Untuk memahami bagaimana stabilitas itu diperkuat, perlu dilihat fondasi kebijakan fiskal yang menopangnya.
*Fondasi Fiskal di Bawah Kepemimpinan Purbaya.*
Kebijakan fiskal yang dijalankan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjadi salah satu pilar utama dalam menjaga keseimbangan tersebut. Rasio utang Indonesia yang berada di kisaran 40 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) menunjukkan disiplin anggaran yang relatif moderat dibanding sejumlah negara dengan rasio di atas 60 hingga 100 persen PDB. Defisit anggaran pun tetap dijaga dalam batas aman sesuai kerangka fiskal nasional.
Langkah konkret lainnya adalah memastikan pencairan Tunjangan Hari Raya (THR) bagi ASN, TNI, dan Polri pada pekan pertama Ramadhan 2026. Kebijakan ini memperkuat likuiditas masyarakat tepat saat kebutuhan meningkat, sehingga perputaran ekonomi di sektor perdagangan dan UMKM tetap terjaga.
Di lapangan, stabilitas tersebut terasa pada relatif terkendalinya harga sejumlah komoditas pokok dan lancarnya distribusi bahan pangan ke pasar-pasar tradisional menjelang puncak Ramadhan. Tidak terjadi gejolak signifikan yang memicu kepanikan belanja. Distribusi logistik yang lebih tertata dan pengawasan yang diperkuat membuat mekanisme pasar berjalan lebih stabil dibanding periode-periode yang sebelumnya rawan lonjakan tajam.
Target pertumbuhan ekonomi 6 persen pada 2026 yang tercantum dalam asumsi makro APBN menunjukkan optimisme berbasis konsumsi domestik yang kuat dan stabilitas fiskal yang terkendali. Dengan ruang fiskal yang sehat, pemerintah memiliki kapasitas untuk menjaga daya beli tanpa menciptakan tekanan jangka panjang.
*“Di bawah kepemimpinan Purbaya Yudhi Sadewa, disiplin fiskal memberi ruang bagi negara untuk melindungi daya beli secara berkelanjutan. Pertumbuhan tidak boleh hanya tercatat dalam statistik, tetapi harus terasa dalam stabilitas harga dan ketenangan ekonomi rakyat,”* ujar Haidar Alwi.
Dengan fondasi tersebut, stabilitas Ramadhan tidak berdiri sendiri, melainkan bagian dari desain kebijakan yang terintegrasi.
*Kepemimpinan Prabowo dan Konsolidasi Stabilitas Nasional.*
Kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto memperkuat koordinasi lintas sektor dalam menjaga pasokan dan distribusi pangan selama Ramadhan. Pengendalian logistik dan pengawasan pasar memastikan tidak terjadi gangguan yang dapat memicu lonjakan harga.
Kebijakan untuk tidak menambah beban pajak pekerja di tengah tekanan global juga menunjukkan keberpihakan pada perlindungan daya beli domestik. Di saat yang sama, stabilitas keamanan memastikan aktivitas ekonomi dan ibadah berjalan tanpa gangguan.
Sebagai pencetus Gerakan Nasional Rakyat Bantu Rakyat, Haidar Alwi menegaskan bahwa kebijakan negara dan solidaritas sosial harus berjalan selaras. Dan pada akhirnya, stabilitas yang dirasakan rakyat di bulan suci bukan hanya soal angka ekonomi, tetapi tentang keyakinan bahwa negara dikelola dengan arah yang jelas, kepemimpinan yang tegas, dan kebijakan yang berpijak pada kepentingan nasional.
*“Ramadhan tahun ini memperlihatkan bagaimana kebijakan fiskal Purbaya Yudhi Sadewa dan kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto saling melengkapi dalam menjaga stabilitas nasional. Ketika harga terkendali, daya beli terlindungi, dan keamanan terjaga, maka kepercayaan publik tumbuh secara alami. Stabilitas adalah hasil kerja yang terukur, konsisten, dan berpihak pada kesejahteraan rakyat,”* pungkas Haidar Alwi.
(NA)

