Garut.Opsjurnal.asia — Dalam kajian dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara, peran penggerak masyarakat atau aktivis menempati posisi strategis sebagai salah satu unsur pengawalan demokrasi dan pembangunan. Namun demikian, perjalanan sejarah dan pengalaman empiris menunjukkan bahwa tidak semua bentuk gerakan yang mengatasnamakan perjuangan berlandaskan pada prinsip-prinsip pengabdian yang hakiki. Hal ini menjadi pokok bahasan dalam wawancara eksklusif bersama Ketua Umum Paguyuban Masyarakat Garut Utara (PM GATRA), Rd. H. Holil Aksan Unarzaen, yang disampaikan pada sesi Jajak Pendapat di Rubrik GATRA, hari Kamis, 18 Juni 2026, bersama awak media Opsjurnal.asia.
Dalam pandangannya, keberadaan aktivis merupakan kebutuhan mutlak bagi kemajuan suatu bangsa. Kritik konstruktif dan penyampaian aspirasi melalui jalur yang sah adalah bagian tak terpisahkan dari sistem demokrasi. Akan tetapi, perlu dilakukan pembedaan yang mendasar antara aktivisme yang lahir dari kesadaran dan kegelisahan nurani, dengan aktivisme yang bersifat hanya mengandalkan mobilisasi semata.
“Aktivis sejati lahir dari kegelisahan mendalam melihat kondisi lingkungan dan masyarakatnya. Kehadirannya berpusat di tengah kehidupan warga, mendengarkan keluhan secara langsung, memberikan bantuan sesuai kemampuan, dan senantiasa berikhtiar merumuskan solusi yang berkelanjutan. Karakteristiknya lebih banyak terlihat dari hasil kerja nyata daripada sekadar orasi, lebih mengedepankan dialog daripada tekanan, serta berorientasi pada pembangunan daripada upaya meruntuhkan tatanan yang ada,” urainya.
Sebaliknya, berkembang pula pola aktivisme yang hanya mengandalkan kekuatan massa tanpa landasan pemikiran yang memadai. Pola ini cenderung menghimpun kelompok, membangkitkan emosi, dan membangun tekanan, seolah-olah banyaknya jumlah peserta menjadi satu-satunya ukuran kebenaran. Dalam perkembangannya, mereka yang bergerak dengan pola ini sering kali merasa memiliki kekuasaan yang lebih besar dari kenyataan, dan menganggap diri sebagai wakil tunggal rakyat hanya karena berhasil mengumpulkan kerumunan.
“Terdapat korelasi yang terlihat jelas: semakin lembar dan dangkal argumen yang dimiliki, semakin mudah emosi yang meledak. Semakin terbatas pemahaman terhadap akar permasalahan, semakin keras suara yang dilontarkan. Ketika rasio tidak lagi mampu menjawab persoalan, maka kemarahan sering kali dijadikan tameng, bahkan dianggap sebagai wujud keberanian. Padahal, kemarahan di balik atribut perjuangan bukanlah bukti kedalaman ilmu; mengintimidasi bukanlah tanda keberanian; dan memaksakan kehendak bukanlah ukuran kepedulian terhadap rakyat,” tegasnya.
Lebih lanjut, beliau menegaskan bahwa kebutuhan mendasar masyarakat bukanlah pada hiruk-pikuk atau ancaman, melainkan pada pemecahan masalah yang nyata. Sebagai gambaran dalam kehidupan sehari-hari:
“Petani membutuhkan pupuk dan akses pasar, bukan amarah. Pedagang kecil membutuhkan iklim usaha yang kondusif, bukan teriakan. Korban bencana membutuhkan uluran tangan dan pertolongan, bukan tekanan. Secara umum, rakyat membutuhkan solusi yang dapat dipertanggungjawabkan, bukan provokasi yang justru menimbulkan kegaduhan semata.”
Dalam perspektif yang lebih luas, Ketua Umum PM GATRA menyampaikan penghormatan yang tinggi kepada berbagai elemen masyarakat yang bekerja secara senyap namun memberikan manfaat nyata. Guru, ulama, relawan kemanusiaan, pegiat sosial, serta organisasi kemasyarakatan seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, Palang Merah Indonesia, dan berbagai kelompok lainnya adalah contoh penggerak yang tidak sibuk mengaku sebagai penyelamat rakyat, namun keberadaan dan karya nyatanya dirasakan manfaatnya oleh banyak pihak.
“Demokrasi yang sehat dibangun di atas landasan akal sehat, etika, dan kerendahan hati. Menghimpun kekuatan untuk memperjuangkan kesejahteraan rakyat adalah kemuliaan. Namun, menghimpun kekuatan untuk menakut-nakuti pihak lain dan merasa diri paling benar tanpa dasar yang memadai adalah wujud kesombongan. Aktivis yang hakiki akan memenangkan perjuangannya melalui gagasan yang kuat, bukan dengan ancaman; melalui pengabdian yang konsisten, bukan melalui tindakan mengintimidasi,” tambahnya.
Beliau menutup wawancara dengan penegasan filosofis bahwa sejarah kemajuan bangsa tidak ditulis oleh mereka yang paling keras suaranya, melainkan oleh mereka yang paling besar kontribusi dan pengorbanannya.
“Yang asli akan selalu meninggalkan manfaat yang terus terasa. Sedangkan yang hanya tiruan atau semata pencitraan, biasanya hanya akan meninggalkan jejak kegaduhan yang segera terlupakan seiring berjalannya waktu.”
(M.A. Zakariyya, S.E)

