Jakarta,OpsJurnal.Asia -
Logam tanah jarang bukan sekadar isu tambang. Ia adalah simpul antara industri masa depan, pertahanan dan keamanan nasional, serta posisi Indonesia dalam geopolitik.
Oleh karena itu, cara negara melalui Perminas memperlakukan rare earth element (REE) tidak boleh terjebak pada logika lama. Menambang sebanyak mungkin, mengolah semuanya, lalu berharap pasar menyerapnya.
Pendekatan itu tidak realistis, tidak efisien, dan justru berisiko menjadikan Perminas kehilangan daya strategisnya., kata Haidar Alwi (1/2) .
REE terdiri dari 15 unsur Lantanida, ditambah Skandium dan Itrium, yang secara praktis dibagi menjadi Light Rare Earth Element (LREE) dan Heavy Rare Earth Element (HREE).
Di Indonesia, LREE cukup banyak. Lantanum, Serium, Praseodimium, Neodimium, hingga Samarium banyak ditemukan dalam monasit (ikutan timah) terutama di Bangka Belitung, Kepulauan Riau, dan sebagian Kalimantan.
Sebaliknya, HREE justru sangat terbatas. Yttrium, Disprosium, Terbium, dan Gadolinium hanya muncul dalam jumlah kecil, terutama dalam xenotim (ikutan timah) dan endapan laterit tertentu yang terkait dengan nikel.
Sedangkan Europium, Holmium, Erbium, dan Ytterbium terdeteksi sangat minim. Bahkan Tulium, Lutetium, Prometium, dan Skandium nyaris tidak ada.
Fakta ini seharusnya langsung mengarahkan kebijakan. LREE jumlahnya besar, tetapi nilai ekonominya rendah. Serium dan Lantanum hanya sekitar USD 1 per kilogram, mishmetal (65 persen Serium dan 35 persen Lantanum) sekitar USD 5 per kilogram. Sebaliknya, HREE meski langka justru bernilai sangat tinggi. Disprosium sekitar USD 260 per kilogram, Terbium bahkan menembus USD 810 per kilogram.
Artinya sederhana. Indonesia tidak kekurangan volume, tetapi kekurangan strategi.
Oleh karena itu, Perminas seharusnya tidak memosisikan dirinya sebagai pengelola semua REE. Ia harus memilih.
Prioritas utama Perminas seharusnya Neodimium dan Praseodimium. Neodimium adalah jantung magnet untuk kendaraan listrik, turbin angin, dan berbagai perangkat elektronik modern. Permintaan globalnya tinggi dan terus meningkat. Yang lebih penting, Neodimium memang ada di Indonesia dalam monasit, baik dari timah maupun nikel. Praseodimium hampir selalu muncul bersama Neodimium dan digunakan dalam magnet berkinerja tinggi. Keduanya satu paket.
Ini adalah prioritas utama yang realistis. Cukup bernilai, cukup tersedia, dan langsung terhubung ke agenda kendaraan listrik dan energi terbarukan.
Lalu, ada prioritas yang tidak boleh dikelola sebagai proyek biasa. Disprosium dan Terbium. Disprosium krusial untuk magnet tahan panas, yang menentukan kinerja kendaraan listrik generasi lanjut, teknologi militer, dan penyimpanan data. Terbium digunakan dalam fosfor hijau untuk layar, perangkat tampilan, serta magnet dan teknologi khusus. Keduanya sangat langka, pasokannya sensitif, dan nilai ekonominya tinggi.
Justru karena jumlahnya kecil, Disprosium dan Terbium tidak cocok dikejar untuk volume produksi. Mereka harus diperlakukan sebagai cadangan strategis negara. Dikelola ketat, terintegrasi dengan kebijakan industri pertahanan, dan tidak dilepaskan ke pasar tanpa kerangka geopolitik yang jelas.
Sementara itu, Serium dan Lantanum cukup ditempatkan sebagai prioritas sekunder. Jumlahnya besar, nilai ekonominya rendah, dan pasar globalnya jenuh. Namun justru fungsinya sebagai produk sampingan untuk menutup biaya operasional.
Unsur lain di luar itu tidak perlu menjadi fokus. Penelitian, pemetaan, dan penguasaan pengetahuan sudah lebih dari cukup.
Pendekatan pemilihan prioritas ini masuk akal secara kebijakan karena langsung terkait dengan tiga agenda besar negara. Kendaraan listrik, energi terbarukan, serta pertahanan dan keamanan. Ia mencegah Perminas menjadi BUMN tambang serba bisa tetapi tanpa arah. Sebaliknya, Perminas bisa menjadi institusi yang fokus dan strategis. Mengelola apa yang penting, bukan sekadar apa yang ada.
(NA)

